TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Impor Solar Disetop, Proyek Gas Masela Dipercepat

Langkah Nyata Menuju Swasembada Energi Nasional

Reporter & Editor : AY
Senin, 20 Juli 2026 | 08:13 WIB
Ilustrasi Blok Masela. Foto : Ist
Ilustrasi Blok Masela. Foto : Ist

JAWA TIMUR – Pemerintah terus memperkuat langkah menuju swasembada energi. Salah satu tonggak pentingnya adalah penghentian impor solar mulai Juli 2026, seiring keberhasilan Indonesia memproduksi biodiesel B50. Di saat yang sama, pengembangan proyek gas raksasa Blok Masela dipercepat untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.


Presiden Prabowo Subianto menegaskan, mulai Juli 2026 Indonesia tidak lagi mengimpor solar karena kebutuhan dalam negeri telah ditopang biodiesel B50, yakni bahan bakar yang terdiri atas campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar fosil.


"Mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi," ujar Prabowo saat menghadiri Panen Raya Bersama TNI di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).


Presiden menyebut Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani sawit karena nilai tambah dinikmati di dalam negeri.
"Lebih baik uang itu beredar di Indonesia dan dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia," tegasnya.


Selain biodiesel, pemerintah juga mulai memperluas penggunaan bioetanol melalui pengembangan bensin campuran etanol (E10), yang ke depan ditargetkan meningkat hingga E20. Untuk mendukung program tersebut, pemerintah akan membangun sedikitnya 30 pabrik etanol, bahkan bisa ditingkatkan menjadi 50 pabrik sesuai kebutuhan.


Prabowo mengajak masyarakat optimistis terhadap kemampuan bangsa membangun kemandirian energi dengan mengandalkan potensi sumber daya nasional.


Langkah besar lainnya ditandai dengan dimulainya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Proyek ini diyakini menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur sekaligus memperkuat fondasi ketahanan energi nasional.


"Ini memperkuat kemandirian energi nasional Indonesia dan menjadi tonggak penting bagi kesejahteraan rakyat," kata Presiden.


Di sektor transportasi, pemerintah juga tengah menyiapkan peluncuran motor listrik nasional karya anak bangsa. Selain itu, pengembangan mobil nasional terus didorong sebagai bagian dari penguatan industri otomotif dalam negeri.


Prabowo mencontohkan keberhasilan kendaraan taktis Maung yang kini digunakan TNI dan Polri. Menurutnya, keberanian memilih produk dalam negeri merupakan investasi jangka panjang bagi kemandirian industri nasional.


Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proyek Blok Masela akhirnya memasuki tahap konstruksi setelah tertunda selama hampir tiga dekade akibat berbagai perdebatan mengenai konsep pengembangannya.


Nilai investasi proyek tersebut mencapai 21 miliar dolar AS atau sekitar Rp342 triliun. Blok Masela diproyeksikan memproduksi sekitar 1.200 juta kaki kubik gas per hari serta 35 ribu barel kondensat per hari. Pemerintah menargetkan proyek mulai beroperasi pada 2029–2030.


Menurut Bahlil, percepatan pembangunan dilakukan atas arahan langsung Presiden Prabowo agar investasi strategis tersebut segera memberikan manfaat bagi negara dan masyarakat.


"Ketika proyek ini beroperasi, penerimaan negara akan meningkat dan manfaat ekonominya akan dirasakan masyarakat," ujarnya.


Anggota Komisi XII DPR, Eddy Soeparno, menilai penghentian impor solar dan percepatan pengembangan Blok Masela merupakan bukti nyata implementasi Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam mewujudkan ketahanan energi nasional.


Menurut Eddy, penerapan mandatori B50 menjadi tonggak penting karena kebutuhan diesel kini dipenuhi dari bahan bakar berbasis minyak sawit produksi dalam negeri.
"Ketahanan energi kita semakin kuat. Mulai Juli 2026 Indonesia tidak lagi bergantung pada impor diesel," katanya.


Ia menambahkan, percepatan pengembangan Blok Masela juga akan meningkatkan pasokan gas nasional untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus tumbuh, sekaligus memperkuat bauran energi nasional melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan.


Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menyebut program B50 sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia yang mencapai sekitar 53 juta ton per tahun.


Menurutnya, kebijakan tersebut mampu menghemat devisa negara, memperbaiki neraca perdagangan migas, meningkatkan pendapatan petani sawit, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah penghasil sawit seperti Sumatera dan Kalimantan.


Meski demikian, Tri mengingatkan pemerintah agar menjaga keseimbangan pemanfaatan CPO untuk biodiesel dengan kebutuhan ekspor dan industri pangan, sehingga pasokan minyak goreng dalam negeri tetap terjaga.


Dengan kombinasi kebijakan biodiesel B50, pengembangan bioetanol, percepatan proyek LNG Masela, serta penguatan industri kendaraan nasional, pemerintah optimistis target swasembada energi dapat dicapai secara bertahap dan berkelanjutan.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit