Maksimalkan Musim Kemarau, DSDABMBK Tangsel Percepat Normalisasi Sungai
SERPONG — Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Sumber Daya Alam, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (DSDABMBK) tengah memaksimalkan musim kemarau untuk mempercepat normalisasi sungai di sejumlah titik. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengembalikan kapasitas sungai sekaligus mengurangi potensi banjir saat musim penghujan tiba.
Melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK), pengerukan sedimentasi terus dilakukan karena kondisi debit air yang rendah membuat pekerjaan lebih efektif dan maksimal.
Kepala Dinas SDABMBK Kota Tangsel, Robbi Cahyadi, mengatakan musim kemarau menjadi waktu yang paling ideal untuk melakukan normalisasi sungai. Pada kondisi tersebut, alat berat dapat menjangkau dasar sungai dengan lebih mudah sehingga endapan lumpur maupun sampah dapat diangkat secara optimal.
"Musim kemarau adalah kesempatan terbaik untuk mengangkat sedimentasi berupa lumpur maupun sampah yang mengendap di dasar sungai. Dengan kapasitas sungai yang kembali optimal, aliran air saat musim hujan akan lebih lancar sehingga risiko luapan ke permukiman dapat ditekan," ujar Robbi, Senin (20/7).
Salah satu lokasi yang saat ini menjadi fokus penanganan adalah Kali Jeletreng di kawasan Puri Serpong. Di lokasi tersebut, SDABMBK mengerahkan long arm excavator untuk mengeruk sedimentasi sepanjang satu kilometer dengan target volume mencapai 7.500 meter kubik. Hingga kini, pekerjaan telah mencapai sekitar 150 meter.
Selama proses pengerukan, petugas tidak hanya mengangkat endapan lumpur, tetapi juga menemukan tumpukan sampah plastik yang bercampur dengan sedimentasi. Kondisi itu menunjukkan persoalan sampah masih menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya kapasitas aliran sungai.
Selain Kali Jeletreng, normalisasi juga dilakukan di Sungai Ciputat yang merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Angke. Sungai tersebut membentang dari kawasan Pondok Cabe, Pamulang hingga Perumahan Japos di Pondok Aren dan menjadi salah satu jalur utama aliran air menuju wilayah hilir.
Di Sungai Ciputat, SDABMBK menargetkan pengerukan sedimentasi sepanjang 2,5 kilometer, mulai dari Perumahan Pondok Hijau hingga Perumahan Cipayung. Hingga saat ini, progres pekerjaan telah mencapai sekitar 500 meter.
"Sungai Ciputat merupakan salah satu tulang punggung sistem pengendalian banjir Kota Tangerang Selatan. Karena itu kapasitas tampungnya harus terus dijaga agar mampu mengalirkan debit air secara optimal ketika musim hujan tiba," kata Robbi.
Untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses, SDABMBK juga mengoperasikan excavator amfibi dan mini excavator. Meski demikian, proses normalisasi di beberapa lokasi masih terkendala sempitnya ruang gerak alat berat akibat bangunan yang berdiri dekat sempadan sungai.
"Pada titik-titik tertentu kami harus melakukan pengerukan secara manual karena ruang gerak alat berat sangat terbatas. Memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi pekerjaan tetap kami laksanakan sesuai skala prioritas," jelasnya.
Robbi menegaskan, pengendalian banjir tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Ia mengajak para pengembang perumahan yang wilayahnya dilintasi sungai untuk ikut menjaga kondisi tanggul, saluran air, serta melakukan pengerukan sedimentasi secara berkala.
"Sistem sungai itu saling terhubung. Ketika ada satu titik yang mengalami penyempitan, sedimentasi, atau kerusakan tanggul, dampaknya bisa dirasakan hingga ke wilayah lain di bagian hilir. Karena itu kami mengajak para pengembang ikut memantau kondisi tanggul dan menjadwalkan pengerukan sedimentasi secara berkala. Pengendalian banjir tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi semua pihak," ujarnya.
Selain itu, Robbi mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai karena kebiasaan tersebut menjadi salah satu penyebab utama pendangkalan dan penyumbatan aliran air.
"Ketika hujan deras datang dan aliran sungai tersumbat sampah, dampaknya akan kembali dirasakan masyarakat dalam bentuk genangan maupun banjir. Menjaga sungai harus menjadi budaya bersama, dimulai dari hal sederhana, yakni membuang sampah pada tempatnya," tegasnya.
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu



