TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Morula-Monash University Bangun Basis Data IVF, Klinik Fertilitas Internasional Hadir di BSD

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Jumat, 18 September 2026 | 18:13 WIB
Foto : Ist
Foto : Ist

BSD CITY — Upaya memperkuat layanan fertilitas di Indonesia terus dikembangkan melalui penguatan layanan medis sekaligus riset berbasis data. Morula Indonesia menggandeng Education Program in Reproduction and Development (EPRD) Monash University untuk membangun registri longitudinal hasil in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung.

 

Kerja sama tersebut diumumkan bersamaan dengan dibukanya Morula International Fertility Clinic (Morula IFC) di Biomedical Campus, BSD City, Jumat (18/9). Kehadiran klinik ini menjadi bagian dari pengembangan jaringan layanan fertilitas Morula sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan reproduksi berbantu.

 

Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, kebutuhan terhadap layanan fertilitas di Indonesia masih cukup besar. Berdasarkan data yang disampaikannya, sekitar 4 hingga 6 juta pasangan di Indonesia menghadapi persoalan infertilitas.

 

"Masalah infertilitas di Indonesia itu masih tinggi. Kira-kira 4 sampai 6 juta pasangan di Indonesia itu mengalami masalah infertilitas. Dan fasilitas yang kita punya di Indonesia, kalau dihitung dari Sabang sampai Merauke, kurang lebih hanya 66 klinik fertilitas. Dan siklus IVF-nya itu kita hitung cuma 15.000 setahun siklus IVF," ujar Dante.

 

Keterbatasan fasilitas tersebut, lanjut Dante, membuat sebagian masyarakat Indonesia memilih menjalani perawatan fertilitas di luar negeri. Ia menyebut Malaysia, Singapura dan Thailand menjadi sejumlah negara tujuan.

 

Menurutnya, pengembangan layanan fertilitas di dalam negeri dapat membantu memperkecil kesenjangan akses sekaligus mengurangi kebutuhan masyarakat untuk mencari layanan serupa ke luar negeri.

 

"Jadi ini adalah satu jawaban untuk beberapa masalah kesehatan di Indonesia yang bisa dibantu tidak eksklusif milik Kementerian Kesehatan, tapi milik juga teman-teman dari Morula, dari teman-teman lain," katanya.

 

Dante juga menyebut jaringan Morula telah berkembang di sejumlah wilayah Indonesia. Saat ini, Morula memiliki 11 klinik fertilitas yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Sumatera, Jakarta, Surabaya, Bali hingga Makassar.

Menariknya, menurut Dante, layanan fertilitas di Indonesia juga mulai diminati pasien dari luar negeri.

 

Foto : Ist

 

"Bahkan saya dengar, bukan cuma pasien di Indonesia yang datang ke Morula IVF ini, tapi justru pasien dari luar negeri yang datang ke sini karena melihat keberhasilan dan angka kesuksesan, success rate—tadi saya tanya ke dr. Ivan—yang dihasilkan oleh Morula IVF ini. Ada yang dari Belanda, dari Prancis, dari Timor Leste, Australia, banyak pasien dari luar negeri ke Indonesia," tuturnya.

 

Di tengah pengembangan fasilitas layanan, Morula bersama Monash University menyiapkan basis data yang akan mencatat perjalanan pasien IVF secara lebih menyeluruh.

 

Selama ini, keberhasilan program IVF kerap dilihat dari hasil kehamilan setelah satu kali transfer embrio. Melalui registri longitudinal tersebut, Morula dan Monash ingin melihat perjalanan sejak pengambilan sel telur hingga kemungkinan mencapai kelahiran hidup dari seluruh embrio yang dihasilkan dalam satu siklus ART lengkap.

 

Data yang dikembangkan secara bertahap itu akan mencakup angka kelahiran hidup kumulatif, hasil transfer embrio segar dan transfer embrio beku berikutnya, hasil pada berbagai kelompok pasien, hingga waktu dan jumlah tahapan perawatan yang dibutuhkan untuk mencapai kelahiran hidup.

 

Dosen EPRD Department of Obstetrics and Gynaecology, School of Clinical Sciences, Monash Health, Monash University, Dr. Mulyoto Pangestu mengatakan, pengukuran keberhasilan tersebut penting karena tujuan akhir pasien bukan sekadar memperoleh hasil positif pada satu kali transfer embrio.

 

"Bagi pasien, pertanyaan yang penting bukan hanya apakah suatu transfer embrio menghasilkan kehamilan, tetapi juga seberapa besar kemungkinan pada akhirnya mencapai kelahiran hidup setelah menjalani keseluruhan rangkaian perawatan," ujarnya.

 

CEO PT Morula Indonesia sekaligus Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk, Dr. Ivan Rizal Sini mengatakan, kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat basis bukti mengenai layanan fertilitas di Indonesia.

 

"Kehamilan merupakan sebuah tahapan penting, tetapi pada akhirnya keluarga menjalani perawatan fertilitas dengan harapan dapat memiliki seorang bayi," katanya.

 

Menurut Ivan, kolaborasi dengan Monash University juga diharapkan mendorong transparansi hasil sekaligus membantu pengembangan layanan fertilitas berdasarkan informasi dan data yang lebih kuat.

 

Sementara itu, Morula IFC hadir di kawasan Biomedical Campus, BSD City, dengan luas sekitar 1.200 meter persegi. Klinik tersebut dibangun berdasarkan pengalaman Morula selama 28 tahun dalam pelayanan fertilitas di Indonesia.

 

Lokasinya berada di kawasan Banten International Education, Technology and Health Special Economic Zone. Kehadiran fasilitas ini diarahkan untuk memperluas akses layanan fertilitas tingkat lanjut bagi masyarakat Tangerang Raya, Banten dan wilayah barat Jabodetabek.

 

Morula IFC dilengkapi laboratorium IVF, fasilitas penyimpanan kriopreservasi yang dipantau selama 24 jam, serta ruang konsultasi dan konseling. Fasilitas tersebut dirancang dengan mempertimbangkan privasi dan kenyamanan pasien selama menjalani rangkaian perawatan.

 

Laboratorium klinik dipimpin Scientific Director sekaligus klinis embriologis asal Australia, Audrey Wei, bersama Group Scientific Director Morula Indonesia Prof. Arief Boediono. Morula juga melibatkan Dr. Lihong Geng, Chief Medical Quality Control Officer dari Jinxin Fertility Group, dalam jaringan kolaborasi internasionalnya.

 

Dante mengatakan, pemerintah memberikan ruang bagi pengembangan fasilitas layanan kesehatan, khususnya di kawasan ekonomi khusus kesehatan, dengan tetap menempatkan regulasi dan mutu sebagai bagian penting dalam penyelenggaraannya.

 

"Perizinan kita keluarkan dengan lebih mudah, terutama di daerah KEK Kesehatan BSD ini. Tapi tentu dengan regulasi yang ketat, nanti ada akreditasi yang baik sehingga tetap mutunya terjaga dan sebagainya," jelasnya.

 

Untuk mendukung pengembangan layanan fertilitas, Kementerian Kesehatan juga telah menyusun regulasi serta petunjuk praktik klinis. Penyusunan tersebut dilakukan bersama Perkumpulan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri).

 

Dante menilai riset dan edukasi dalam bidang fertilitas perlu memperhatikan karakteristik masyarakat Indonesia. Sebab, persoalan infertilitas di Indonesia memiliki kondisi yang dapat berbeda dengan negara lain.

 

"Jadi saya selalu percaya bahwa masalah infertilitas di Indonesia itu problemnya berbeda dengan masalah infertilitas di luar negeri. Jadi ada muatan-muatan lokal yang membawa implikasi pengobatan di Indonesia pasti lebih baik dari di luar negeri," katanya.

 

Sementara itu, Deputy CEO Morula Indonesia Naveen K. Mantha mengatakan, label internasional yang dibawa Morula IFC tidak hanya berkaitan dengan tenaga ahli dari berbagai negara. Menurutnya, pengalaman global perlu dipadukan dengan pemahaman terhadap kebutuhan keluarga Indonesia.

 

"Hal ini berarti menggabungkan pengalaman global dan standar operasional yang kuat dengan pemahaman yang mendalam mengenai keluarga Indonesia, serta memberikan kualitas tersebut secara konsisten di setiap tahapan perjalanan fertilitas," ujarnya.

 

Melalui pengembangan klinik dan kerja sama riset tersebut, Morula Indonesia menempatkan penguatan layanan dan data sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan terhadap pelayanan fertilitas di dalam negeri.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit