Kisah Inspiratif Santri Cireundeu Tangsel, Tembus UGM Tanpa Tes dan Raih Beasiswa Penuh
TANGERANG SELATAN - Prestasi membanggakan kembali datang dari Kota Tangerang Selatan. Seorang santri asal Cireundeu, Ciputat Timur, Kayyis Wisam Aghna, berhasil diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tanpa mengikuti tes tertulis.
Tidak hanya itu, hafizah 30 juz Al-Quran tersebut juga berhasil meraih Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Santri 2026, program beasiswa penuh hasil kolaborasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Kementerian Agama RI.
Keberhasilan Kayyis menjadi buah dari perjalanan panjangnya dalam menuntut ilmu, menghafal Al-Quran, serta aktif mengembangkan kemampuan kepemimpinan sejak di bangku sekolah.
Kayyis yang lahir di Jakarta pada 3 Oktober 2007 ini merupakan warga Jalan Masjid Baitul Ula, Cireundeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Sebelum diterima di UGM, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir, Jombang, Jawa Timur.
Perjalanan menjadi penghafal Al-Quran dimulai saat dirinya duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI). Saat itu, Kayyis memilih melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Furqon Kudus, Jawa Tengah, untuk fokus mempelajari dan menghafalkan Al-Quran.
“Proses menghafal Al-Quran mengajarkan saya tentang disiplin, konsistensi, dan kesabaran. Dari setoran harian, ujian per juz, hingga muraja’ah, semuanya menjadi proses pembentukan diri,” ujar Kayyis.
Berkat ketekunan tersebut, Kayyis berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Quran dan memperoleh syahadah tahfiz.
Kayyis diterima di Program Studi Ilmu Komunikasi UGM melalui jalur SNBP, seleksi yang mempertimbangkan rekam jejak akademik dan prestasi siswa selama sekolah.
Selain memiliki nilai akademik yang stabil, Kayyis juga aktif dalam organisasi. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Umum OSIS MA Perguruan Muallimat Cukir Jombang periode 2024-2025 serta aktif dalam organisasi santri.
Menurut Kayyis, pengalaman berorganisasi dan menghafal Al-Quran justru saling melengkapi dalam membentuk kedisiplinan dan kemampuan mengatur waktu.
“Saya belajar bahwa waktu harus dikelola dengan baik. Menghafal Al-Quran, belajar akademik, dan berorganisasi mengajarkan saya untuk menentukan prioritas,” katanya.
Ia meyakini sertifikat tahfiz 30 juz menjadi salah satu faktor yang memperkuat portofolionya saat mengikuti seleksi masuk UGM.
Ketika dinyatakan diterima tanpa tes di kampus impiannya, Kayyis mengaku bersyukur dan terharu.
“Ini menjadi jawaban atas doa dan perjuangan panjang selama di pesantren. Saya semakin yakin bahwa Al-Quran membawa keberkahan dalam perjalanan hidup,” ungkapnya.
Setelah diterima di UGM, kebahagiaan Kayyis semakin lengkap setelah lolos sebagai penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Santri 2026.
Program tersebut memberikan dukungan penuh selama masa kuliah, mulai dari biaya pendidikan, tunjangan hidup, biaya buku hingga bantuan awal perkuliahan.
Dengan beasiswa tersebut, Kayyis dapat fokus menjalani pendidikan di UGM tanpa membebani orang tua.
Di balik keberhasilan Kayyis, ada dukungan besar dari keluarga, terutama sang ibu yang menjadi sosok inspirasi dalam mencintai Al-Quran.
Kayyis mengaku sejak kecil melihat ibunya selalu dekat dengan Al-Quran di berbagai aktivitas.
“Ibu selalu mengajarkan bahwa Al-Quran bukan hanya untuk dihafal, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan,” ujarnya.
Sang ibu merupakan seorang hafizah Al-Quran yang pernah meraih prestasi MTQ tingkat nasional serta aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan dan keagamaan.
Selain keluarga, Kayyis juga menyampaikan terima kasih kepada para kiai, ustaz, dan ustazah yang telah membimbingnya selama berada di pesantren.
Menurut pihak sekolah, salah satu kunci keberhasilan Kayyis adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara hafalan, akademik, dan organisasi.
“Kayyis mampu mengatur waktu dengan baik. Walaupun aktivitasnya padat, ia tetap menjalani setiap proses dengan maksimal,” ungkap salah satu gurunya.
Menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM, Kayyis memiliki cita-cita menjadi praktisi media atau komunikator publik yang mampu menghadirkan narasi positif.
Ia ingin menggabungkan ilmu komunikasi modern dengan nilai-nilai Al-Quran dan pengalaman pesantren untuk berkontribusi lebih luas di masyarakat.
Kepada pelajar Tangerang Selatan yang memiliki cita-cita besar, Kayyis berpesan agar tidak takut mencoba berbagai peluang.
“Terus belajar, kembangkan potensi diri, manfaatkan kesempatan yang ada, dan jangan lupa meminta doa serta restu orang tua. Karena keberhasilan tidak hanya berasal dari kemampuan kita, tetapi juga dari rahmat Allah Swt,” pesannya.(*)
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 13 jam yang lalu
Olahraga | 11 jam yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu



