Karhutla Meluas, Titik Api Kepung Sumatera dan Kalimantan
JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meluas di sejumlah wilayah Indonesia seiring meningkatnya risiko kebakaran pada periode puncak El Nino. Titik api terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, sementara pemerintah memperkuat upaya pencegahan dan penanganan di lapangan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan, karhutla saat ini terjadi di tiga provinsi, yakni Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan (Sumsel).
Kebakaran dengan luasan terbesar tercatat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel, yang mencapai 326 hektare. Sementara di Pelalawan, Riau, luas lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 100 hektare.
“Selain itu, titik kebakaran baru juga terus bermunculan di banyak tempat,” ujar Ferdian, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, titik api baru banyak ditemukan di sekitar Kota Palembang serta sejumlah lokasi di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.
Ancaman serupa juga terlihat di Kalimantan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan titik panas, terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Lonjakan titik panas tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya potensi karhutla. Hingga awal Agustus 2026, BMKG mencatat akumulasi 9.538 titik panas di seluruh Indonesia.
Meluasnya karhutla juga berpotensi memperburuk kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
Sejumlah Daerah Ikut Terbakar
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Rabu (12/8/2026) pukul 07.00 WIB, sedikitnya 16 hektare lahan terbakar di empat daerah, yakni Sragen, Sidenreng Rappang, Cianjur, dan Trenggalek.
Di Sragen, Jawa Tengah, kebakaran terjadi di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, pada Selasa (11/8/2026) dan menghanguskan sekitar lima hektare lahan.
Di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, kebakaran melanda Desa Mojong dan Kelurahan Lawawoi dengan total luas mencapai tujuh hektare.
Sementara di Cianjur, Jawa Barat, karhutla terjadi di kawasan perbukitan Gunung Picung, Desa Cikondang, Kecamatan Cibeber, Senin (10/8/2026).
Adapun di Trenggalek, Jawa Timur, kebakaran melanda kawasan Gunung Jabung, Desa Kedungsigit, Kecamatan Karangan, dengan luas lahan terbakar sekitar satu hektare.
Plh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Dodi Yuleova mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi kering, terutama karhutla.
Menurutnya, karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap kualitas udara, kesehatan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.
“Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, termasuk untuk membuka lahan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi terjadinya karhutla kepada pihak berwenang,” kata Dodi, Rabu (12/8/2026).
Tujuh Provinsi Siaga Darurat
Pemerintah memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas. Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Dwi Januanto Nugroho mengatakan, pemantauan titik panas dan luas area terbakar dilakukan secara real time.
Status siaga darurat karhutla telah ditetapkan di tujuh provinsi, yakni Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
“Ini untuk mempercepat mobilisasi sumber daya nasional dan koordinasi lintas sektor,” ujar Dwi, Selasa (12/8/2026).
Kemenhut menyiagakan personel Manggala Agni bersama TNI, Polri, dan pemerintah daerah untuk melakukan patroli, pemantauan hotspot, hingga pemadaman sedini mungkin.
Upaya pengendalian juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG dan BNPB. Selain itu, pemerintah melakukan pembasahan kawasan gambut melalui pengaturan pintu air serta pembangunan sekat kanal.
Pemerintah bahkan membuka opsi meliburkan sekolah di wilayah terdampak apabila paparan asap karhutla dinilai membahayakan kesehatan siswa.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, penyesuaian kegiatan dapat dilakukan sesuai kondisi di masing-masing daerah.
“Bilamana dirasa di lapangan untuk disesuaikan, ya kita tidak ada masalah untuk disesuaikan dengan kondisi di daerah masing-masing,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Prasetyo menegaskan, percepatan penanganan dan pemadaman karhutla menjadi prioritas pemerintah. Dukungan administratif dan logistik dipastikan tersedia untuk petugas yang bertugas di lapangan.
“Kami sudah koordinasi ke semua pihak, apa pun yang diperlukan, tidak boleh lagi ada kendala, baik secara administratif maupun secara logistik,” ujarnya.
Pemerintah juga mengapresiasi keterlibatan TNI, Polri, relawan, dan masyarakat dalam penanganan karhutla. Warga diminta tidak membuang puntung rokok maupun korek api sembarangan serta tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu




