Trayek Pondok Cabe-Alam Sutera Berbenturan Dengan 3 Trayek Lama
CIPUTAT-Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) tengah menyiapkan pengoperasian trayek transportasi umum baru yang menghubungkan Terminal Pondok Cabe hingga Alam Sutera, Serpong Utara.
Rencana ini muncul setelah sebuah perusahaan transportasi asal Tangsel menyatakan ketertarikannya untuk mengelola trayek Pondok Cabe-Alam Sutera.
Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan, perusahaan tersebut telah memaparkan rencana pengoperasian trayek kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Tangsel. Jalur Pondok Cabe-Alam Sutera sendiri sudah masuk dalam 33 trayek yang ditetapkan melalui Rencana Umum Trayek Jalan (RUTJ) Tangsel 2025.
“Jadi katanya mau mengajukan izin penggunaan salah satu trayek di Tangsel, yaitu Pondok Cabe sampai Alam Sutera,” ujar Pilar saat ditemui di Puspemkot Tangsel, Kamis (20/8).
Pilar menyambut baik minat tersebut. Apalagi, perusahaan yang mengajukan diri merupakan perusahaan asal Tangsel yang sudah memiliki pengalaman menjalankan layanan transportasi umum.
Meski begitu, Pemkot Tangsel tak ingin buru-buru. Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui sebelum layanan tersebut benar-benar berjalan. Sosialisasi menjadi langkah pertama, terutama kepada warga, pengembang perumahan, sekolah, kelurahan dan kecamatan yang berada di sepanjang jalur.
Yang tak kalah penting, Pemkot juga akan duduk bersama para pengusaha dan pengemudi angkutan kota yang selama ini melayani masyarakat.
Pilar menyebut, saat ini masih ada sekitar 200 angkot yang beroperasi di Tangsel. Keberadaan mereka, kata dia, tetap harus diperhatikan agar hadirnya transportasi baru tidak membuat angkutan yang sudah lama beroperasi kehilangan mata pencaharian.
“Angkot sendiri kan yang selama ini sudah beroperasi ada 200 angkot. Itu kan kita sebut pahlawan transportasi yang selama ini sudah berjasa. Kita ajak diskusi,” katanya.
Sebab, jalur Pondok Cabe-Alam Sutera nantinya akan bersinggungan dengan sekitar dua hingga tiga lintasan angkot yang sudah ada. Pemkot ingin mencari jalan tengah agar transportasi baru dan angkutan lama bisa tetap berjalan berdampingan.
Berbagai opsi pun terbuka, mulai dari kerja sama dengan pemilik angkot, konversi kendaraan hingga kemungkinan mengakomodasi pengemudi angkot untuk bergabung dengan operator baru.
“Kita adakan FGD supaya semuanya kondusif, supaya semuanya mendukung program ini dan masyarakat segera bisa mendapatkan manfaat,” ujar Pilar.
Setelah sosialisasi dan pembahasan dengan para pihak rampung, barulah masuk tahap uji coba. Pemkot dan operator berencana menjalankan uji coba selama tiga bulan.
Namun, bus besar belum langsung diturunkan. Untuk tahap awal, layanan akan menggunakan kendaraan Hiace. Armada ini akan digunakan untuk melihat pola perjalanan yang paling pas, termasuk jam operasional dan titik-titik penjemputan.
“Selama tiga bulan, tapi tidak menggunakan bus yang direncanakan. Pakai shuttle dulu yang model Hiace. Ada beberapa mobil Hiace untuk trial and error, terkait jamnya, terkait titik-titik penjemputannya,” jelas Pilar.
Jika hasil uji coba menunjukkan respons positif, layanan akan dikembangkan menggunakan bus berukuran lebih besar. Pemkot juga akan menyiapkan berbagai fasilitas pendukung di sepanjang koridor, seperti halte, bus stop dan marka jalan.
Pilar berharap waktu tunggu penumpang nantinya tidak terlalu lama. Idealnya, kendaraan bisa datang setiap 15 menit atau paling lama sekitar 20 menit.
Menurutnya, trayek tersebut punya potensi penumpang yang cukup besar. Jalurnya melewati sejumlah kawasan permukiman dan pusat aktivitas warga, termasuk kawasan BSD dan Stasiun Rawabuntu yang menjadi salah satu tujuan perjalanan masyarakat.
Selama ini, warga yang hendak menuju kawasan tersebut banyak menggunakan sepeda motor atau ojek daring. Selain biaya yang relatif tinggi, penggunaan kendaraan pribadi juga ikut menambah kepadatan lalu lintas.
“Naik ojek online ya cukup mahal. Terus juga naik motor. Selain panas, macet, belum bensinnya. Menggunakan ini saya harap lebih efektif, efisien, dan lebih murah,” kata Pilar.
Untuk tahap awal, operator juga akan mencoba menjalankan layanan tanpa subsidi pemerintah. Pemkot ingin melihat terlebih dahulu seberapa besar minat masyarakat dan kemampuan layanan tersebut berjalan berdasarkan permintaan pasar.
“Kalau ternyata oke demand-nya tinggi, tidak perlu subsidi ya sudah. Tapi kalau ternyata butuh subsidi, nanti kami sampaikan ke Pak Wali supaya mungkin ada kebijakan,” tuturnya.
Pilar berharap trayek ini menjadi salah satu langkah untuk menghidupkan 33 trayek yang telah dirancang dalam RUTJ Tangsel. Pemerintah ingin transportasi umum di Tangsel tidak hanya tersedia, tetapi juga nyaman, aman, terjangkau dan mudah diakses warga.
Terlebih, ke depan Tangsel juga akan terhubung dengan jaringan MRT. Karena itu, menurut Pilar, penguatan transportasi umum di dalam kota perlu dilakukan sejak sekarang agar nantinya antarwilayah, permukiman hingga kawasan transit bisa saling terkoneksi.
“Harapan kami 33 trayek yang sudah dirancang RUTJ ini bisa berjalan. Supaya masyarakat mendapatkan fasilitas yang baik, yang terjangkau, yang murah, yang efektif, yang nyaman buat mereka dan juga aman,” tandasnya.(rmn)
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu








