Limbah Uang Kertas Menjadi Energi
Kolaborasi Bank Indonesia Dan PLN Indonesia Power
SERANG - Ketika uang Rupiah telah selesai menjalankan fungsinya sebagai alat pembayaran, bukan berarti perjalanan manfaatnya harus berakhir. Bank Indonesia Provinsi Banter persama PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Banten 1 Suralaya menghadirkar langkah inovatif dengan memanfaatkan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) sebagai bahan bakar alternatif dalam proses co-firing di pembangkit listrik.
Kolaborasi ini menandai perubahan cara pandang dalam mengelola limbah hasil pemusnahan uang Rupiah. LRUK yang sebelumnya dipandang sebagai residu kini diberi nilai guna baru sebagai bagian dari sumber energi alternatif, sekaligus menjadi wujud nyata komitmen Bank Indonesia dalam mendorong environmental sustainability dan green economy.
Sebagai bank sentral, Bank Indonesia memiliki amanat untuk mengelola Rupiah secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan, hingga pemusnahan. Dalam proses tersebut, uang Rupiah yang sudah tidak layak edar dimusnahkan dan menghasilkan LRUK, RUK yang dimanfaatkan dalam kerja sama ini bukan lagi uang Rupiah. Material tersebut merupakar hasil pemusnahan uang yang telah diracik menjadi partikel-partikel kecil dan bercampur satu sama lain, sehingga tidak dapat lagi dikenali berdasarkan nominal, pecahan, maupun bentuk aslinya.
Dengan demikian, LRUK telah kehilangan seluruh nilai dan fungsinya sebagai alat pembayaran. Namun, sesuatu yang telah kehilangan nilai sebagai alat pembayaran tidak harus kehilangar manfaatnya. Kandungan serat dan material dalam LRUK memungkinkan limbah tersebut dimanfaatkan sebaga bahan bakar alternatif.
Dalam kerja sama ini, LRUK digunakan sebagai campuran biomassa dalam proses co-firing bersama Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) yang berasal dari hasil pengolahan dampah. Langkah tersebut menghadirkan pendekatan baru dalam pengelolaan limbah sekaligus mendukung pemanfaatan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Pemanfaatan LRUK menjadi semakin strategis mengingat volumenya tidak kecil. Dalam satu kali pengiriman, LRUK dapat mencapai sekitar 4-8 ton, yang berasal dari 100-200 karung dengan berat sekitar 40 kilogram per karung. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan solus bengelolaan LRUK yang tidak hanya bertanggung jawab, tetapi juga mampu menciptakan nila tambah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Sofwan Kurnia menyampaikan, kolaborasi dengan PLN Indonesia Power merupakan langkah nyata untuk menjawab tantangan tersebut. "Apa yang hari in kita manfaatkan bukan lagi uang, melainkan limbah hasil pemusnahan uang yang telah kehilangar nilai dan fungsinya. Namun, kehilangan nilai sebagai alat pembayaran bukan berarti kehilangan manfaat. Melalui kolaborasi ini, LRUK memperoleh kehidupan baru sebagai sumber energi alternatif yang mendukung kelestarian lingkungan," ungkap Sofwan, Senin (24/8).
Lebih lanjut, pemanfaatan LRUK sebagai bahan bakar alternatif menunjukkan bahwa pengelolaan Rupiah dapat berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan. Dari pengelolaan Rupiah, lahir sebuah inisiatif yang tidak hanya menjaga integritas proses pemusnahan uang, tetapi juga memberikan kontribusi bagi pengelolaan lingkungan dan transisi energi.
Kolaborasi Bank Indonesia Provinsi Banten dan PT PLN Indonesia Power UBP Banten 1 Suralaya menjadi contoh bahwa tantangan pengelolaan limbah dapat diubah menjadi peluang untuk menciptakan manfaat baru. Pemanfaatan LRUK dalam co-firing diharapkan dapat mendukung bengurangan emisi karbon serta menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi menuju energ vang lebih berkelanjutan.
Bank Indonesia Provinsi Banten menyampaikan apresiasi kepada PT PLN Indonesia Power UBP Banter I Suralaya atas sinergi yang telah terbangun. Ke depan, kolaborasi ini diharapkan dapat menjad praktik baik pengelolaan limbah berbasis nilai tambah, sekaligus memperkuat sinergi antarlembaga dalam mendukung pembangunan ekonomi Indonesia yang hijau dan berkelanjutan.
"Akhirnya, ketika Rupiah telah selesai menjalankan tugasnya sebagai alat pembayaran manfaatnya masih dapat berlanjut--dari lembaran yang diracik menjadi energi yang menghidupkan, limbah menjadi nilai tambah, dan dari pengelolaan Rupiah menuju Indonesia yang lebih hijau berkelanjutan," tambahnya.
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu








