TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Antisipasi Banjir di Musim Penghujan, BBWSC3 Normalisasi Kali Parung

Oleh: Ari Supriadi
Editor: Ari Supriadi selected
Selasa, 15 September 2026 | 19:35 WIB
Pekerja tengah membersihkan aliran Kali Parung yang berlokasi di Kampung Susukan, Kelurahan Penancangan, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Selasa (15/9/2026).(Istimewa)
Pekerja tengah membersihkan aliran Kali Parung yang berlokasi di Kampung Susukan, Kelurahan Penancangan, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Selasa (15/9/2026).(Istimewa)

SERANG  - Kali Parung yang berada di Kampung Susukan, Kelurahan Penancangan, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, dilakukan normalisasi oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3). Normalisasi Kali Parung dilakukan untuk mencegah penyumbatan aliran air, sedimentasi, dan banjir yang biasa terjadi pada musim penghujan tiap akhir tahun.

 

Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Sumber Air BBWSC3, Agnes Yustikarini menjelaskan, normalisasi Kali Parung dilakukan karena sedimentasi yang cukup tebal dengan panjang pengerjaan satu kilometer. Selain Kali Parung, pihaknya juga mengerjakan normalisasi Sungai Ciwaka.

 

“Selain pekerjaan di Kali Parung dan Sungai Ciwaka ini, kita juga ada pekerjaan di Sungai Cibanten, Sungai Padek, dan sungai di Karangantu,” ujar Agnes, saat meninjau normalisasi Kali Parung bersama Walikota Serang, Budi Rustandi dan sejumlah pejabat terkait, Selasa (15/9/2026).

 

Sementara, Walikota Serang, Budi Rustandi mengatakan, pengerjaan pengerukan dan normalisasi ini mencakup aliran sungai dengan panjang sekitar satu kilometer dari total panjang sungai yang mencapai 15 kilometer. “Ini menjadi permasalahan bersama terkait penanganan banjir karena sebentar lagi masuk musim penghujan. Penanganan Kali Parung ini berdampak langsung ke perumahan warga, fasilitas umum seperti rumah sakit, hingga kawasan persawahan dan pertanian di sekitarnya," ujar Budi Rustandi.

 

Ia menegaskan, bahwa penanganan banjir, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan menjadi prioritas utama Pemkot Serang saat ini di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Selain normalisasi Kali Parung, Walikota Serang juga telah mengusulkan langkah strategis lain kepada BBWSC3 Banten, yakni pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di kawasan Perumahan Grand Sutera yang dialiri Sungai Ciwaka. Langkah ini dinilai mendesak mengingat lokasi perumahan yang sangat berdekatan dengan tepi sungai dan sempat mengalami banjir parah.

 

Meski pihak BBWSC3 telah melakukan penanganan di area hilir, pelaksanaan pengerjaan di lapangan masih menemui kendala akses. Keberadaan bangunan liar di sepanjang bantaran sungai menghambat alat berat untuk masuk ke titik lokasi. “Aksesnya susah karena banyaknya bangunan liar, terutama di daerah Ciwedus. Kita akan berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan setempat untuk mengecek dan menertibkan agar tidak ada lagi bangunan liar di pinggir sungai. Sebab kalau banjir, kita jadi susah melakukan pengerukan,” tegasnya.

 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Serang, Iwan Sunardi mengatakan, pengerjaan pengerukan pengerukan dan pembersihan aliran Kali Parung ini ditargetkan rampung dalam waktu singkat yakni sekitar 10 hari kerja. “Pengerjaannya tidak lama, diperkirakan hanya memakan waktu sekitar 10 hari kerja. Mudah-mudahan ini bisa meminimalisir terjadinya persoalan genangan atau banjir ketika memasuki musim penghujan nanti,” ujar Iwan.

 

Penanganan Kali Parung merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam membenahi sistem drainase utama di Kota Serang. Menurut Iwan, ada sekitar lima hingga enam sungai yang masuk dalam kewenangan pemerintah pusat dan secara bertahap mulai disentuh program normalisasi sepanjang 2026.

 

Beberapa titik sungai yang menjadi fokus perhatian seperti Sungai Cibanten, Kali Parung, Sungai Ciwaka, Kali Padek, Kali Sultan dan dilanjutkan kawasan Sukadana dan Bendung Karet. Iwan menjelaskan, bahwa mayoritas proyek penanganan sungai ini sudah berjalan, meski penanganannya dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran di tingkat daerah maupun pusat. “Hampir semua sungai kewenangan pusat sudah dikerjakan, cuma memang belum tuntas 100 persen karena dilakukan bertahap. Kami dari Pemkot Serang mengucapkan terima kasih karena perhatian pusat yang sekian tahun dinanti, akhirnya terealisasi di hampir seluruh sungai di Kota Serang,” tambahnya.

 

Dalam proses pendampingan, DPUPR Kota Serang bertugas memetakan titik-titik rawan banjir serta mendampingi kajian teknis di lapangan. Namun, pelaksanaan proyek pengerukan kerap menemui kendala teknis, terutama terkait keterbatasan akses untuk kendaraan operasional.

 

Sebagai contoh, pengerjaan di Sungai Ciwaka area hilir sempat terhambat karena alat berat sulit menjangkau titik tengah dan hulu sungai akibat terhalang oleh maraknya bangunan warga di sekitar bantaran. Selain pendangkalan akibat sedimentasi alami dan tumbuhnya tanaman liar, faktor kesadaran masyarakat dalam membuang sampah masih menjadi pemicu utama penyumbatan aliran sungai.

 

“Persoalan utama banjir di sini selain pendangkalan dan pohon liar adalah sampah yang dibuang ke aliran sungai, serta munculnya bangunan liar di sepanjang daerah aliran sungai (DAS). Ke depan, sungai harus benar-benar bersih dari halangan agar aliran air dari hulu ke hilir bisa lancar tanpa kendala,” tandasnya.(*)

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit