Empat Risiko Kesehatan Ditemukan pada Pelajar Tangsel, Anemia hingga Penurunan Ketajaman Penglihatan
CIPUTAT TIMUR – Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) mengungkap empat risiko kesehatan yang ditemukan pada pelajar di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Keempatnya yakni anemia, karies gigi, kecemasan ringan, serta penurunan ketajaman penglihatan.
Temuan tersebut disampaikan Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie usai menghadiri kegiatan Kampanye dan Penggerakan Masyarakat Hidup Sehat di SMPN 13 Tangsel, Pondok Ranji, Kecamatan Ciputat Timur, Kamis (17/9).
Benyamin mengatakan, empat kondisi tersebut menjadi perhatian karena berkaitan dengan kesehatan dan aktivitas anak-anak usia sekolah. Salah satu yang cukup banyak ditemukan adalah anemia, terutama pada remaja putri.
“Cek kesehatan gratis kita ditemukan fakta bahwa anak-anak seusia mereka ini ada empat kondisi risiko. Yang pertama adalah anemia. Mereka kekurangan darah,” kata Benyamin.
Menurutnya, remaja putri menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus dalam pencegahan anemia. Sebab, kondisi kekurangan darah lebih banyak dialami oleh anak perempuan.
Selain anemia, persoalan lain yang ditemukan adalah karies atau gigi berlubang. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebiasaan anak dalam menjaga kesehatan gigi serta pola konsumsi makanan dan minuman.
Temuan berikutnya yakni kecemasan ringan. Benyamin menyebut kondisi tersebut masih berada dalam skala terbatas dan dapat berkaitan dengan berbagai persoalan yang dihadapi anak dalam kesehariannya.
“Yang ketiga ada sedikit kecemasan, stres dalam skala yang terbatas. Mungkin PR-nya tidak selesai, takut tidak naik kelas, takut diomelin sama orang tua,” ujarnya.
Sementara satu temuan lainnya adalah penurunan ketajaman penglihatan. Benyamin menyoroti kebiasaan anak menggunakan telepon seluler dalam jarak dekat sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan.
“Yang keempat, penurunan ketajaman penglihatan. Kenapa mereka sering main handphone dalam jarak yang dekat,” tuturnya.
Menurut Benyamin, gangguan ketajaman penglihatan dapat berdampak pada aktivitas belajar. Anak yang tidak dapat melihat tulisan di papan dengan jelas tentu akan mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran secara optimal.
Dari empat temuan tersebut, Pemkot Tangsel kemudian melakukan tindak lanjut, salah satunya dengan memperkuat pencegahan anemia melalui pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri.
Benyamin mengatakan, pemberian TTD dilakukan secara serentak di sekolah-sekolah di Tangsel. Ia berharap konsumsi TTD nantinya dapat menjadi kebiasaan yang dilakukan para pelajar secara mandiri.
“Makanya dilakukan gerakan pemberian vitamin tambahan, vitamin tambah darah. Kita lakukan secara serentak di seluruh Tangsel,” jelasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, pelaksanaan CKG di sekolah telah mencapai 86 persen. Sedangkan capaian CKG secara keseluruhan di Tangsel berada di angka 57 persen.
“Sudah sekitar 824.224 jiwa sudah dilaksanakan cek kesehatan gratis,” kata Allin.
Ia menjelaskan, hasil pemeriksaan CKG turut menemukan empat risiko kesehatan sebagaimana disampaikan Benyamin. Yakni karies gigi, penurunan ketajaman penglihatan, kecemasan ringan dan anemia.
Khusus anemia, Allin menyebut prevalensinya pada anak sekolah di Tangsel berada di angka 13 persen. Dari jumlah tersebut, mayoritas masuk dalam kategori anemia ringan.
“Anemia 13 persen. Dari total anak sekolah, anak sekolah itu 292 ribu sekian. 13 persennya tadi, anemia ringan lah ya. Banyaknya anemia ringan,” ungkapnya.
Allin mengatakan, anemia pada remaja dapat menimbulkan sejumlah gejala yang berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari, seperti tubuh lemah, mudah letih, lesu hingga sulit berkonsentrasi.
Karena itu, pencegahan dilakukan sejak usia remaja. Menurutnya, langkah tersebut juga merupakan upaya jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang sehat, termasuk ketika mereka memasuki usia pernikahan dan kehamilan.
“Jadi kita persiapkan dari, sebenarnya ini upaya kita dari mulai hulu ya bagaimana remaja ini tidak mengalami anemia. Sehingga nanti dia bisa melahirkan juga generasi-generasi yang sehat,” jelas Allin.
Untuk memastikan program berjalan rutin, SMPN 13 Tangsel berkomitmen menjadikan konsumsi TTD sebagai agenda setiap Jumat. Para siswi akan minum TTD secara bersama-sama dalam kegiatan Aksi Bergizi.
Dalam kegiatan tersebut, pelajar juga mendapatkan edukasi mengenai makanan dan minuman sehat serta pentingnya menjaga kesehatan. Upaya serupa akan dilanjutkan di jenjang SMA, termasuk di SMAN 1 Tangsel.
“Jadi nanti ada Aksi Bergizi, makan bergizi bareng-bareng. Habis itu nanti minum tablet tambah darah barengan,” katanya.
Sementara untuk temuan kecemasan ringan, Allin menjelaskan bahwa kondisi tersebut diketahui melalui sejumlah pertanyaan dalam pemeriksaan CKG. Salah satunya berkaitan dengan kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi.
Ia mencontohkan, kekhawatiran siswa mengenai kelulusan maupun persoalan sekolah dapat menjadi bagian dari kondisi tersebut. Meski demikian, kecemasan yang ditemukan dalam pemeriksaan tersebut masuk kategori ringan.
Selain itu, persoalan kesehatan gigi dan penglihatan juga menjadi perhatian. Dinkes Tangsel mendorong para pelajar menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan gigi serta lebih bijak dalam menggunakan perangkat digital.
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 10 jam yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Lifestyle | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu






