TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

PORPROV 2026

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

IHSG Anjlok, Rupiah Tembus Rp18.155 per Dolar AS

Reporter: Farhan
Editor: AY
Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:30 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot hampir 2 persen pada perdagangan Selasa (27/10/2026), sementara rupiah melemah ke level Rp18.155,5 per dolar Amerika Serikat (AS).


IHSG ditutup turun 106,96 poin atau 1,99 persen ke level 5.266,13. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 5.182,37 hingga 5.418,14.


Tekanan pasar tercermin dari dominasi saham yang melemah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 657 saham terkoreksi, 101 saham menguat, dan 215 saham stagnan.


Aktivitas perdagangan mencatat volume 337,63 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp16,23 triliun. Pelemahan ini terjadi di tengah tantangan memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional.


Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan, kepercayaan investor menjadi salah satu fokus utama reformasi pasar modal. BEI juga menghimpun masukan dari pelaku pasar dan pemangku kepentingan untuk memperbaiki kondisi industri tersebut.


“Kepercayaan investor masih menjadi tantangan. Itu yang menjadi fokus dan PR reformasi pasar modal yang kami lakukan,” ujar Iding, Selasa (27/10/2026).


Menurutnya, ketahanan pasar modal tidak cukup diukur dari pergerakan dana asing. Aspek lain yang perlu diperhatikan mencakup kelancaran operasional bursa, pertumbuhan likuiditas transaksi, kondisi permodalan dan likuiditas Anggota Bursa, fundamental emiten, serta pertumbuhan jumlah investor.


BEI, lanjut Iding, terus berkoordinasi dengan DPR dan pemerintah untuk memperkuat pasar modal. Penegakan hukum serta pemberian sanksi yang menimbulkan efek jera juga diperlukan guna meningkatkan kredibilitas pasar.


Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi menilai, tekanan dan ketidakpastian masih membayangi pasar setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).


OJK dan BEI telah menyiapkan sejumlah langkah untuk merespons kondisi tersebut, antara lain menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) menjadi minus 7 persen, memberikan fleksibilitas pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS), serta memperkuat komunikasi dengan pelaku pasar dan penyedia indeks global.


OJK juga menyiapkan penguatan transparansi konsentrasi kepemilikan saham dan pengawasan perdagangan. Langkah ini diharapkan meningkatkan integritas pasar sekaligus memberikan kepastian bagi emiten dan investor.


Rupiah Tertekan Faktor Global
Tekanan juga berlanjut pada nilai tukar rupiah. Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp18.155,5 per dolar AS pada Selasa (27/10/2026).


Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, pelemahan rupiah tidak terlepas dari kondisi global, terutama ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.


Inflasi AS yang masih tinggi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menembus 5 persen, serta penguatan dolar AS turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.


Selain itu, perlambatan ekonomi dan kenaikan harga minyak dunia ikut memengaruhi prospek suku bunga global. Kondisi tersebut membatasi aliran modal dari negara maju ke negara berkembang.


“ Kondisi ini berdampak pada negara berkembang, termasuk Indonesia, karena aliran modal masuk dari negara maju menjadi sangat terbatas,” ujar Destry, Selasa (27/10/2026).


Terbatasnya arus modal asing turut menekan pasokan dolar AS di dalam negeri. Di sisi lain, kebutuhan dolar tetap tinggi untuk membiayai impor energi, terutama di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia.


Kombinasi tekanan global, terbatasnya aliran modal, dan tingginya kebutuhan dolar membuat pasar saham dan nilai tukar rupiah masih menghadapi tantangan.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit