TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

PORPROV 2026

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Bahlil Ingatkan Pengusaha Tambang Tak Serakah Kelola SDA

Reporter & Editor : AY
Senin, 02 November 2026 | 19:22 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto : Ist
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto : Ist

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengingatkan para pengusaha tambang agar tidak mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) secara berlebihan demi mengejar keuntungan. Pengelolaan kekayaan alam harus dilakukan secara bijak dengan mempertimbangkan keseimbangan pasokan dan permintaan serta kepentingan generasi mendatang.


Pesan tersebut disampaikan Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026). Ia menegaskan, tata kelola pertambangan harus dilakukan secara terukur, bukan sekadar menggenjot produksi tanpa memperhatikan kondisi pasar.


"Kita mengelola sumber daya alam harus dengan tata kelola yang baik dan benar. Jangan kita mengelolanya seperti orang yang kelaparan. Jangan seperti orang yang puasa, tiba-tiba buka puasa, lalu makan apa saja yang mau dimakan," ujar Bahlil.


Ia mencontohkan pengelolaan batu bara nasional. Dari total konsumsi batu bara dunia yang mencapai 8,9 miliar ton per tahun, hanya sekitar 1,3 miliar ton yang diperdagangkan. Sementara itu, Indonesia memasok sekitar 540 juta ton pada 2025 atau setara 43 persen dari total perdagangan batu bara dunia.


Menurut Bahlil, besarnya pasokan Indonesia justru menekan harga batu bara. Kondisi tersebut membuat keuntungan perusahaan dan penerimaan negara tidak optimal, meskipun aktivitas pembukaan lahan dan produksi terus meningkat.


"Jorjoran kita buka lahan yang begitu besar, akhirnya barang kita dijual murah. Asing sangat membutuhkan barang kita dijual murah. Mereka ingin barang ini dijual murah," ungkapnya.


Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah melakukan penyesuaian Harga Batu Bara Acuan (HBA) dan memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) guna mengendalikan produksi serta menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.


Kebijakan itu, kata Bahlil, mulai menunjukkan hasil. Harga batu bara untuk kalori 6.300 mencapai 154 dolar AS. Di sisi lain, produksi mengalami penurunan, tetapi penerimaan negara justru meningkat.


"Pendapatan negara kita melonjak, produksi turun. Jadi produksinya terkoreksi menurun, tapi pendapatannya naik. Ini baru paten, nggak jual murah barang kita," tegasnya.


Meski demikian, Bahlil mengakui masih ada sejumlah RKAB perusahaan tambang yang dalam proses. Ia memahami setiap pengusaha ingin memperoleh keuntungan maksimal, tetapi meminta para pelaku usaha tidak saling mendahului dalam mengeksploitasi sumber daya alam.


Sebagai mantan pengusaha, Bahlil mengaku memahami orientasi bisnis untuk mendapatkan keuntungan. Namun, ia mengingatkan bahwa kepentingan usaha harus tetap berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.


Pemerintah, lanjutnya, ingin memastikan kekayaan mineral dan batu bara Indonesia memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, bukan justru dijual murah akibat produksi yang tidak terkendali.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit