Berkaca Dari Miftah, Pejabat Harus Hati-hati Menjaga Lidah Jangan Sampai Terpeleset

JAKARTA - Kasus yang melibatkan penceramah Miftah Maulana perlahan telah mereda. Keputusan Miftah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden menjadi penutup dari kehebohan yang terjadi selama sepekan terakhir. Berkaca dari Miftah, penting bagi pejabat untuk menjaga lidah agar tidak terpeleset.
Nama Miftah Maulana menjadi sorotan setelah melontarkan candaan bernada hinaan kepada seseorang penjual es teh bernama Sunhaji. Peristiwa itu terjadi saat Miftah memimpin pengajian di Lapangan drh Soepardi, Sawitan, Mungkid, Kabupaten Magelang, beberapa waktu lalu. Video saat Miftah melontarkan hinaan itu, viral dan jadi sorotan publik selama sepekan.
Kasus ini sampai juga ke telinga Presiden Prabowo Subianto. Istana merespons kasus ini dengan tegas dan langsung menegur Miftah. Maklum, selain sebagai penceramah, Miftah juga berstatus sebagai pejabat. Jabatannya, Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Apa yang dilakukan Miftah dianggap tidak selaras dengan sikap Prabowo yang menjunjung tinggi adab terhadap siapa pun, termasuk rakyat kecil.
Miftah memang segera mendatangi Sunhaji dan menyampaikan permohonan maaf. Namun, sorotan publik tak juga mereda. Malah makin kencang. Akhirnya, Miftah memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden.
Keputusan tersebut disampaikan Miftah di kediamannya, Pondok Pesantren Ora Aji, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (6/12/2024).
Ia mengaku pengunduran dirinya dilakukan bukan karena ada tekanan. Saat memberikan keterangan pers itu, Miftah tersedu-sedu.
Menanggapi kasus tersebut, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis menekankan pentingnya menjaga perkataan/lisan dalam komunikasi publik. Terutama bagi para penceramah atau pejabat publik.
“Penting untuk kita semua menjaga lisan, apalagi sebagai pejabat publik tentunya lebih menjadi perhatian masyarakat,” kata Cholil Nafis.
Menurut Cholil, apa yang disampaikan Miftah Maulana telah menyinggung sensitivitas publik dan mendapat berbagai reaksi dari masyarakat. Ia mengatakan, permintaan maaf yang disampaikan Miftah merupakan langkah yang baik. Namun, peristiwa ini harus menjadi pelajaran berharga bagi Miftah dan masyarakat umum, terutama bagi pejabat publik.
“Dia sudah minta maaf, baiknya jadi pelajaran bagi dia dan kita semua untuk menjaga lisan,” cetusnya.
Cholil Nafis mengingatkan para penceramah dan pejabat untuk memilih kata-kata saat menyampaikan materi, baik dalam situasi formal maupun santai. Ia pun berharap kejadian ini dapat mendorong semua pihak, khususnya para pejabat publik dan tokoh masyarakat, untuk lebih bijak dalam berkomunikasi agar tidak menimbulkan perasaan tersinggung di kalangan umat.
Wasekjen PBNU Rahmat Hidayat Pulungan mengatakan, kasus ini jadi heboh lantaran ada jabatan publik yang melekat pada Miftah Maulana.
“Bahwa di badannya beliau ada label ulama dan negara. Harus bisa menempatkan diri yang pantas di ruang publik dengan nilai dan norma bangsa kita,” kata Rahmat.
Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid menilai, pejabat perlu pembekalan tambahan dengan materi moralitas kerakyatan dan rasa sosial kemanusiaan.
Menurutnya, apa yang dilakukan dan telah dialami Miftah jadi bukti masyarakat benar-benar memiliki sensitivitas sosial yang tinggi. Untuk itu, pejabat harus benar-benar berhati-hati dalam menyampaikan ucapan di hadapan publik.
“Bagaimana pun hebatnya seoarang tokoh, kalau rasa kerakyatannya pudar atau hilang ya selesai jadi pejabat. Kan pejabat melayani rakyat. Itu prinsipnya kan,” kata Syakur.
Sebelumnya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menegaskan, kasus Miftah jadi pelajaran bagi pemerintah.
Ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga. Tidak hanya bagi Utusan Khusus Presiden, tapi buat kami semua di kalangan pemerintahan,” kata Hasan.
Hasan menegaskan pemerintah harus meningkatkan kewaspadaan dalam berpendapat kepada publik. Khususnya kepada masyarakat kecil.
“Apalagi terhadap rakyat kecil yang sedang berjuang, yang sedang memeras keringat untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari,” pungkasnya.
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu