Moderasi Beragama Di Indonesia
Antara Jihad Dan Fasad

SERPONG - Jihad yang dilakukan Rasulullah selalu mendatangkan manfaat yang lebih besar dengan risiko yang sangat minim. Rasulullah memang pernah mengatakan, “suarakanlah kebenaran sekalipun pahit” namun ia juga selalu mengingatkan seruan Tuhan dalam Al-Qur’an: “Jangan melemparkan diri kalian kedalam kebinasaan” (QS al-Baqarah/ 2:195).
Banyak contoh dalam Al-Qur’an dan dalam sejarah umat Islam, bahwa tidak sedikit orang berbuat baik tetapi tidak disertai perencanaan yang matang maka hasilnya kerugian dan kesia-siaan. Jihad ukurannya adalah kualitas, produktivitas, optimisme dan profesional. Al-Qur’an mengingatkan bahwa betapa suatu kekuatan minoritas dapat menaklukkan kekuatan mayoritas (QS al-Baqarah/2:249). Nabi selalu berada di posisi minoritas ketika ia menjalankan misi jihadnya tetapi ia selalu berhasil.
Allah SWT dengan tegas melarang kita melakukan keonaran dan kerusakan sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-A’raf/ 7: 56).
Merusak lingkungan alam, lingkungan hidup dan apalagi lingkungan kemanusiaan, setelah sebelumnya ditata dengan baik maka termasuk perbuatan konyol dan destruktif (fasad). Jika ada penafsiran ayat atau hadis yang menganjurkan keonaran dan kerusakan maka sudah pasti itu keliru. Fasad tidak boleh ditolerir oleh siapapun, atas nama siapapun dan untuk atas nama siapa saja.
Disinilah rahasianya Nabi Muhammad SAW satu-satunya orang yang dapat menyaksikan ajaran yang yang dibawanya dianut separuh belahan dunia hanyalah beliau. Itulah sebabnya Michal Hart menempatkannya sebagai tokoh utama di antara 100 tokoh yang pernah berpengaruh di muka bumi ini. Thomas Carlile juga tetap menempatkannya sebagai tokoh puncak di antara 11 tokoh yang paling berpengaruh yang pernah lahir di perut bumi ini. Rahasia kesuksesan Nabi ialah kemampuannya mengaplikasikan jihad secara cerdas. Jihad tidak mesti harus berdarah-darah dan jihad tidak mesti harus menimbulkan korban.
Unsur yang harus ada dalam jihad antara lain, adanya keterlibatan fisik di dalamnya, ada perhitungan dan perencanaan yang matang, baik untuk jangka pendek maupun untuk jangka panjang. Visi dan misi sebuah perjuangan harus jelas. Jihad harus lebih banyak mendatangkan manfaat daripada mudarat yang diukur dengan dengan ukuran-ukuran universal tujuan syari’ah (maqashid al-syari’ah). Ukuran-ukuran subyektif di dalam menjalankan peran jihad amat riskan. Jihad yang berskala masif yang melibatkan banyak orang membutuhkan organisasi dan manajemen. Sebab jika tidak, maka jihad bisa berubah menjadi fasad, yang akan melahirkan berbagai resiko negatif dan destruktif di dalam masyarakat.
Di sinilah peran ijtihad dan mujahadah untuk memberikan kejelasan dan motivasi kuat sebuah perjuangan. Tidak semua orang dapat melakukan ijtihad, seperti tidak semua prajurit langsung dapat menjadi jenderal. Ada persyaratan yang harus dipenuhi seseorang untuk dapat disebut mujtahid (orang yang menjalankan fungsi berfikir strategis). Dalam konteks fikih, seorang mujtahid harus menguasai bahasa Arab, ‘Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, muslim, dan praktisi muslim. Dalam konteks sosiologi Islam, seorang mujtahid difigurkan sebagai seorang yang mampu memberikan sumbangan intelektual dalam membela dan mengangkat derajat umat Islam dalam berbagai segi. Seorang ilmuan muslim yang ahli dalam bidang ekonomi dapat menyumbangkan konsep-konsepnya dalam memberantas kemiskinan, seorang fisikawan muslim dapat menyumbangkan teknologi perang untuk kejayaan umat manusia, seorang ahli obat-obatan dapat menyumbangkan ramuan dan resep untuk kesehatan manusia, dan seorang dokter muslim dapat mengupayakan penyembuhan pasien dengan cara-cara islami dan seterusnya.
Sejumlah lima kali Allah menyerukan jihad tetapi selalu diawali dengan hijrah (wahajaru wajahadu). Ini mengisyaratkan bentrokan fisik harus dihindari sepanjang masih ada opsi lain, termasuk hijrah. Inilah Jihad para Nabi, termasuk jihadnya Rasulullah. Ia memilih hijrah ke beberapa tempat, termasuk Thaif dan kemudian yang paling penting ialah memilih hijrah ke Yatsrib (Madinah), bukannya mempertahankan diri dengan segala konsekwensinya.
Dengan demikian jihad tidak mesti identik dengan darah dan kematian. Jihad lebih dekat kepada kehidupan daripada kematian. Persepsi masyarakat internasional yang mengonotasikan jihad dengan fasad berupa aksi-aksi kekerasan, teror dan bunuh-bunuhan jelas keliru. Di sinilah perlunya deradikalisasi pemahaman jihad di dalam masyarakat. Deradikalisasi di sini bukan berarti ajaran Islam selama ini memang radikal sehingga perlu dilakukan deradikalisasi. Yang dimaksudkan deradikalisasi ialah pencerahan kembali sejumlah ayat dan hadis yang selama ini disandera oleh kelompok garis keras.
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu