TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

NATARU

Indeks

Dewan Pers

Emping Melinjo Asli Lebak Tembus Pasar Mancanegara

Reporter: Nipal
Editor: Redaksi
Jumat, 06 Februari 2026 | 08:45 WIB
Salah seorang pengrajin emping melinjo di Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, sedang mengemas emping melinjo ke dalam plastik. Kamis (5/2).
Salah seorang pengrajin emping melinjo di Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, sedang mengemas emping melinjo ke dalam plastik. Kamis (5/2).

LEBAK - Emping melinjo yang diproduksi di wilayah Desa Sindangsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, yang merupakan salah satu sentra produksi di Provinsi Banten, tak hanya memenuhi pasar dalam negeri, namun berhasil tembus pasar mancanegara.

 

Kepala Desa Sindangsari, Yudi mengungkapkan, emping yang berasal dari desanya laku terjual hingga ke mancanegara. Dia mengungkapkan, sejumlah negara yang rutin mengirim permintaan emping melinjo Desa Sindangsari, diantaranya Singapura, Malaysia bahkan hingga Arab Saudi.

 

“Pemasaran tidak terlalu sulit. Ada yang ke Singapura, Malaysia, bahkan Arab Saudi, sesuai permintaan. Jadi tidak hanya dijual di pasar lokal saja, namun tembus pasar mancanegara,” kata Yudi, Kamis, (5/2).

 

Yudi mengungkapkan, emping melinjo dari Desa Sindangsari sendiri merupakan produk asli yang dilakukan oleh warga secara langsung dalam skala industri rumah tangga. Dia bilang, ada sekitar 20 rumah yang aktif memproduksi emping melinjo yang sudah bertahan selama lebih dari 15 tahun.

 

“Kurang lebih sudah 15 tahunan pengrajin emping di sini bertahan, dan sampai sekarang masih terus berjalan. Kami dari desa juga terus mendorong agar produksi ini terus berlanjut termasuk membantu memasarkan,” jelasnya.

 

Kendati begitu, Yudi mengakui bahwa produsen emping melinjo kerap menyampaikan sejumlah tantangan dalam memproduksi makan ringan berbentuk bundar pipih tersebut. Dalam hal ini adalah desanya yang belum mampu menyediakan bahan baku secara terus menerus. Produsen pada akhirnya harus mendatangkan bahan baku dari luar.

 

Ia berharap pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian, dapat mendorong pengembangan penanaman melinjo agar pasokan bahan baku lebih stabil dan berkelanjutan.

 

“Kalau di Sindangsari sedang tidak musim, bahan baku didatangkan dari luar daerah, bahkan ada yang dari Pulau Sumatera. Kami sudah lama membahas soal penanaman melinjo agar pengrajin tidak kesulitan bahan baku,” pungkasnya.

 

Salah seorang pengrajin emping melinjo, Nurlaila mengaku, biasa mengolah sekitar satu kuintal emping melinjo. Saat ini, harga emping melinjo sendiri berada di kisaran Rp 60 ribu per kilogram. 

 

Harga tersebut menurutnya, cukup tinggi karena normalnya emping melinjo dari Desa Sindangsari dihargai sekitar Rp 45 hingga Rp 50 ribu per kilogram.

 

“Usaha ini sudah 25 tahun, bukan turun-temurun, saya mulai sendiri. Sekarang ada empat karyawan, semuanya ibu-ibu dari kampung sekitar,” tandasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit