Ibu Kandung Bocah Sukabumi yang Tewas Diduga Disiksa Laporkan Mantan Suami
SUKABUMI – Tragedi meninggalnya NS (12), siswa SMP asal Surade, Kabupaten Sukabumi, terus menyisakan duka sekaligus membuka fakta-fakta memilukan di balik kehidupan keluarganya. Di tengah kesedihan mendalam, ibu kandung korban, Lisnawati, akhirnya angkat bicara dan mengambil langkah hukum terhadap mantan suaminya, AS.
Lisnawati resmi melaporkan AS ke Polres Sukabumi Kota atas dugaan pembiaran dan penelantaran yang diduga berkontribusi pada meninggalnya sang anak. Laporan tersebut telah teregister dengan nomor STPLB/106/II/2026.
Dengan suara bergetar, Lisnawati mengungkapkan bahwa selama empat tahun terakhir ia tidak dapat bertemu dengan putranya. Keputusan untuk menjauh, kata dia, bukan karena tak menyayangi anaknya, melainkan karena trauma berat akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya semasa pernikahan.
Ia mengaku kerap mengalami kekerasan fisik dari mantan suaminya, bahkan sejak masih mengandung NS. Lisnawati menuturkan pernah dipukul, dijambak, hingga rambutnya dipotong menggunakan golok. Ia juga mengingat ancaman yang dilontarkan AS saat dirinya tengah hamil, termasuk tindakan mengemudi motor secara ugal-ugalan yang membuatnya ketakutan.
Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti, menjelaskan bahwa laporan tersebut menyoroti dugaan sikap abai AS terhadap kondisi kesehatan anaknya. Menurutnya, terdapat percakapan pesan singkat dua hari sebelum korban meninggal yang memperlihatkan respons tidak serius ketika diminta membawa anak ke rumah sakit karena sakit.
Dalam pesan tersebut, AS disebut menyatakan belum memiliki waktu dan masih sibuk. Bahkan terdapat pernyataan yang dinilai tidak menunjukkan kepedulian atas kondisi anaknya.
Krisna menambahkan, selama NS diasuh oleh ibunya hingga usia tujuh tahun, kondisi kesehatannya baik dan tumbuh dengan bahagia. Perubahan fisik yang signifikan, termasuk adanya luka lebam dan bekas bakar, baru diketahui ketika korban berada dalam kondisi kritis.
Meski selama ini dihantui rasa takut, tragedi yang menimpa anaknya menjadi titik balik bagi Lisnawati untuk memperjuangkan keadilan. Ia berharap proses hukum dapat berjalan secara transparan dan memberikan kejelasan atas penyebab kematian putranya.
Kasus ini juga mendapat perhatian dari Komisi III DPR RI serta KPAI, yang mendorong agar penanganannya dilakukan secara serius dan menyeluruh.
Di akhir pernyataannya, Lisnawati hanya mampu menyampaikan doa untuk sang anak tercinta, berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik dan keadilan dapat ditegakkan.
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
RAMADAN | 2 hari yang lalu





