Trump Desak Perubahan Rezim Iran, Garda Revolusi Diminta Menyerah
WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meningkatkan tekanan terhadap Iran menyusul serangan Israel ke wilayah Teheran. Dalam pernyataan video berdurasi sekitar delapan menit yang diunggah di Truth Social, Trump mengonfirmasi keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi militer tersebut.
Trump menyebut operasi itu sebagai langkah “besar-besaran dan berkelanjutan” yang bertujuan melumpuhkan kekuatan militer Teheran, menghentikan program nuklir Iran, serta mendorong perubahan pemerintahan. Ia juga menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan demi melindungi warga dan kepentingan Amerika Serikat dari ancaman yang disebutnya berasal dari rezim Iran.
Menurut Trump, aktivitas Iran selama ini membahayakan pasukan dan pangkalan militer AS di luar negeri, termasuk sekutu-sekutu Washington di berbagai kawasan.
Berpidato di balik podium sambil mengenakan topi putih bertuliskan “USA”, Trump menyatakan bahwa rezim Iran telah menjadi ancaman bagi keamanan nasional Amerika selama 47 tahun, sejak Revolusi Iran yang melahirkan pemerintahan teokratis di negara tersebut.
Dalam pesannya kepada rakyat Iran, Trump menyerukan agar mereka “mengambil alih pemerintahan” setelah rangkaian operasi militer berakhir. Ia mengklaim rakyat Iran selama bertahun-tahun menginginkan dukungan Amerika.
“Kini Anda memiliki presiden yang memberi apa yang Anda inginkan,” ujarnya, seraya menyatakan AS siap mendukung dengan kekuatan penuh.
Trump menjelaskan, sasaran operasi mencakup sistem rudal Iran, kekuatan angkatan laut, serta kelompok-kelompok proksi yang didukung Teheran di kawasan. Ia juga mengakui adanya potensi korban di pihak Amerika, meski pemerintahannya telah mengambil langkah maksimal untuk meminimalkan risiko terhadap personel militer di lapangan.
“Kami melakukan ini bukan hanya untuk saat ini, tetapi demi masa depan. Ini adalah misi yang mulia,” tegasnya.
Secara khusus, Trump menyerukan kepada anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), angkatan bersenjata, dan kepolisian Iran agar meletakkan senjata.
Ia menjanjikan “kekebalan penuh” bagi mereka yang menyerah, namun memperingatkan konsekuensi berat bagi pihak yang menolak.
Sebelumnya, Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Iran pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Dua ledakan dilaporkan terdengar di Teheran pada pagi hari.
Melalui pernyataan resmi, Kementerian Pertahanan Israel menyebut serangan tersebut sebagai “serangan pendahuluan” terhadap Iran. Otoritas Israel juga menetapkan keadaan darurat nasional guna mengantisipasi kemungkinan serangan balasan dari Teheran.
“Negara Israel telah melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran,” demikian pernyataan resmi kementerian tersebut.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, disebut telah menetapkan status keadaan darurat khusus dan segera di seluruh wilayah Israel
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 23 jam yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu


