Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Bahlil Siapkan Jalur Alternatif
JAKARTA - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak pada pengiriman minyak PT Pertamina (Persero). Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan masih berada di sekitar perairan tersebut dan belum dapat melintas.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah menempuh jalur diplomasi agar kapal-kapal tersebut dapat keluar dengan aman. Jika upaya itu tidak berhasil, pemerintah akan mengalihkan pembelian minyak dari negara lain yang tidak terdampak konflik.
Iran sebelumnya resmi menutup Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan jalur vital perdagangan minyak dunia itu membuat ratusan kapal tanker dari berbagai negara tertahan.
Bahlil memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Indonesia, kata dia, hanya mengimpor sekitar 25 persen minyak mentah dari Timur Tengah, sementara 75 persen berasal dari Amerika Serikat, Brasil, dan Angola. Pemerintah juga membuka peluang meningkatkan impor dari AS sesuai komitmen dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan kondisi kapal dan awak dalam keadaan aman. Pertamina terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak terkait untuk mengantisipasi risiko.
Sementara itu, stok BBM nasional saat ini tercatat cukup untuk sekitar 23 hari, di atas standar minimum 21 hari. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan energi berkapasitas hingga tiga bulan di Sumatera guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Internasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu



