KPU Tangsel Gembleng Ratusan Siswa Lewat Sekolah Demokrasi, Dongkrak Partisipasi Pemilu
SERPONG UTARA — Upaya meningkatkan partisipasi pemilih terus digencarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui edukasi sejak dini. Salah satunya lewat program Sekolah Jawara Demokrasi 2026 yang menyasar kalangan pelajar sebagai pemilih pemula.
Kegiatan yang digelar di bilangan Serpong Alam Sutera, Selasa (21/4), itu diikuti ratusan siswa dari 38 sekolah negeri dan swasta, serta didampingi guru. Ratusan peserta tersebut digembleng untuk memahami proses demokrasi sekaligus menjadi agen peningkatan partisipasi pemilu di lingkungan masing-masing.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menegaskan, pemilih pemula memiliki posisi strategis dalam mendongkrak partisipasi pemilu. Pasalnya, jumlah mereka cukup dominan dan memiliki pengaruh besar di lingkungannya.
“Pemilih pemula ini segmen penting. Mereka tidak hanya menentukan pilihan, tetapi juga bisa memengaruhi lingkungan sekitarnya. Karena itu perannya sangat strategis dalam meningkatkan partisipasi pemilu,” ujarnya.
Menurut Benyamin, tantangan terbesar saat ini adalah membekali generasi muda dengan pemahaman demokrasi yang baik agar mampu berperan aktif dan bertanggung jawab dalam proses politik.
“Mereka diharapkan bisa menjadi corong bagi teman-temannya untuk datang ke TPS dan menggunakan hak pilihnya. Dengan begitu, partisipasi pemilu bisa terus meningkat,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kecerdasan dalam menyaring informasi di era digital, terutama terkait maraknya hoaks yang kerap memengaruhi pilihan politik.
“Di era digital ini, hoaks menjadi tantangan besar. Mereka harus mampu mengendalikan penggunaan teknologi komunikasi dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu benar,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua KPU Kota Tangsel M. Taufiq MZ menjelaskan, program Sekolah Jawara Demokrasi merupakan bagian dari strategi nasional dalam meningkatkan partisipasi pemilih pemula.
“Program ini sebelumnya menjadi pilot project KPU RI bersama Bappenas pada 2025. Di Tangsel, kegiatan ini kami lanjutkan sebagai upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran demokrasi,” jelasnya.
Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung proses demokrasi. Selama tiga hari, siswa mengikuti simulasi mulai dari pembentukan koalisi partai politik, debat kandidat, hingga proses pemungutan suara.
“Bahkan ada yang kami simulasikan sebagai petugas TPS, sehingga mereka benar-benar memahami tahapan pemilu secara menyeluruh,” ungkap Taufiq.
Ia menambahkan, jumlah peserta tahun ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya melibatkan sekitar 18 sekolah. Para alumni program sebelumnya pun kini telah berperan sebagai duta demokrasi di sekolah masing-masing.
“Mereka menjadi perpanjangan tangan KPU di sekolah. Teman-temannya bisa bertanya langsung soal kepemiluan tanpa rasa sungkan,” katanya.
Untuk memperkuat dampak program, KPU juga melibatkan guru pendamping agar edukasi demokrasi dapat terus berlanjut di lingkungan sekolah.
Lebih lanjut, Taufiq mengungkapkan sekitar 58 persen Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Tangsel berasal dari kalangan pemilih pemula. Karena itu, edukasi yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci utama dalam meningkatkan partisipasi pemilu.
“Ini bukan hanya sosialisasi saat tahapan pemilu, tetapi membangun kesadaran sejak jauh hari sebelum pemungutan suara,” ujarnya.
Ke depan, KPU Tangsel akan melakukan evaluasi rutin dengan melibatkan para duta demokrasi guna mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan.
“Hasil evaluasi akan kami serahkan ke Litbang KPU untuk dikaji lebih lanjut. Ini bisa menjadi bahan evaluasi secara nasional terkait faktor-faktor yang memengaruhi tingkat partisipasi pemilih,” pungkasnya.
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu



