Rupiah Melemah 5 Persen, Airlangga Tegaskan Ekonomi RI Tetap Solid dan Jauh dari Krisis
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pelemahan nilai tukar rupiah masih dalam batas terkendali. Sejak awal 2026, rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 5 persen terhadap dolar AS. Namun, kondisi tersebut dinilai jauh lebih baik dibanding krisis ekonomi dua dekade lalu.
“Kalau dibandingkan periode 2004-2014, depresiasi rupiah saat itu mencapai 40 persen. Sekarang hanya sekitar 5 persen dengan inflasi tetap terjaga di level 2,4 persen,” ujar Airlangga dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Ia menegaskan fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat. Stabilitas sektor perbankan dan korporasi dinilai tetap terjaga meski tekanan global meningkat.
“Perbankan kita solid, korporasi juga kuat. Jadi kondisi ekonomi Indonesia masih aman dan jauh dari krisis,” tegasnya.
Airlangga juga optimistis target pertumbuhan ekonomi 8 persen tetap dapat dicapai, asalkan pemerintah daerah ikut aktif mendorong investasi dan industrialisasi di wilayah masing-masing.
Menurutnya, sejumlah daerah berhasil mencatat pertumbuhan tinggi berkat kebijakan hilirisasi industri. Maluku Utara misalnya tumbuh hampir 19 persen, disusul Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan NTB yang terdongkrak sektor industri ekstraktif.
Senada dengan Airlangga, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan tidak ada tanda-tanda krisis ekonomi di Indonesia saat ini.
Ia menjelaskan, sumber krisis biasanya berasal dari tiga faktor utama, yakni krisis fiskal, krisis neraca pembayaran, dan krisis sektor keuangan akibat gelembung aset. Namun, seluruh indikator ekonomi nasional masih dalam kondisi aman.
“Defisit fiskal tetap terjaga di bawah 3 persen dan investor masih percaya terhadap pemerintah. Yield SUN juga stabil di kisaran 6,5–6,7 persen,” jelas Juda.
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun turut meminta masyarakat tidak menyamakan pelemahan rupiah saat ini dengan krisis moneter 1998.
Menurutnya, volatilitas rupiah saat ini masih relatif terkendali dan sistem keuangan nasional jauh lebih siap berkat reformasi pascakrisis, termasuk pembentukan LPS dan OJK.
Pada perdagangan Senin (25/5/2026), rupiah ditutup melemah 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen dilakukan sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi global sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar spot, forward, NDF, hingga DNDF untuk menjaga kestabilan rupiah dan arus modal asing tetap masuk ke pasar domestik.
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu





