Cerita Unta dan Koper Menjelang Kepulangan Jemaah Haji
MAKKAH — Menjelang kepulangan ke Tanah Air, suasana di hotel-hotel yang ditempati jemaah haji Indonesia di Makkah mulai berubah. Lorong-lorong hotel dipenuhi koper yang berjejer rapi menunggu giliran ditimbang. Di dalam kamar, para jemaah sibuk memilah barang bawaan, menghitung berat koper, sekaligus memastikan seluruh buah tangan untuk keluarga dapat ikut pulang.
Di tengah kesibukan itu, ada satu pemandangan yang hampir selalu terlihat: boneka unta.
Souvenir khas Timur Tengah tersebut menjadi salah satu oleh-oleh favorit yang paling banyak diburu jemaah. Bentuknya beragam, mulai dari gantungan kunci berukuran mini hingga boneka besar yang dapat berjalan dan melantunkan suara talbiyah saat dinyalakan.
Bagi banyak jemaah, boneka unta bukan sekadar mainan. Hewan yang identik dengan padang pasir Arab itu menjadi simbol perjalanan spiritual yang telah mereka tempuh di Tanah Suci.
Samsul Azhar, jemaah asal Embarkasi Medan yang tergabung dalam Kloter KNO 02, menjadi salah satu pemburu boneka unta. Saat ditemui di kawasan Jarwal, Makkah, ia tampak menenteng dua tas besar berisi sejumlah boneka unta yang baru dibelinya.
"Kalau sudah punya cucu, biasanya unta menjadi oleh-oleh yang dicari. Bentuknya lucu dan khas Arab," ujarnya sambil menunjukkan koleksi yang akan dibawa pulang.
Samsul dan istrinya membeli empat boneka unta berukuran besar. Tiga di antaranya dibawa menggunakan tas jinjing, sementara satu lainnya disimpan di koper bagasi. Selain boneka unta, koper mereka juga berisi kurma, cokelat, sejadah, minyak wangi, dan berbagai buah tangan lainnya.
Ia mengakui barang bawaannya menjadi jauh lebih banyak. Namun baginya, pulang dari ibadah haji tanpa membawa oleh-oleh untuk keluarga terasa kurang lengkap.
"Kalau memang barang bawaan jadi bertambah karena oleh-oleh, mohon dimaklumi. Rasanya tidak mungkin pulang haji tanpa membawa buah tangan untuk keluarga," katanya.
Cerita serupa datang dari Katiyo Kadiman, rekan satu kloter Samsul. Ia sengaja membeli beberapa boneka unta untuk cucu-cucunya karena menganggap barang tersebut unik dan sulit ditemukan di Indonesia.
Menurutnya, nilai sebuah boneka unta bukan terletak pada harga, melainkan kenangan yang menyertainya. Souvenir itu menjadi pengingat bahwa hadiah tersebut dibawa langsung dari Tanah Suci.
Ketika Koper Mulai Ditimbang
Fenomena berburu oleh-oleh semakin terasa saat proses penimbangan koper berlangsung di Hotel Manar Al Bait, kawasan Syisyah, Makkah.
Pada Senin pagi, ratusan koper milik jemaah Kloter UPG 4 Embarkasi Makassar telah dikumpulkan berdasarkan nomor rombongan untuk menjalani pemeriksaan berat bagasi. Penimbangan dilakukan dua hari sebelum keberangkatan menuju Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah.
Sesuai ketentuan maskapai, berat koper bagasi dibatasi maksimal 32 kilogram, sedangkan koper kabin hanya diperbolehkan hingga 7 kilogram. Jemaah yang melebihi batas diwajibkan mengurangi isi koper sebelum diberangkatkan.
Aviation Security Garuda Indonesia, Norman Fajar, menegaskan tidak ada mekanisme pembayaran kelebihan bagasi saat proses penimbangan di hotel.
"Kami meminta jemaah mengurangi isi koper terlebih dahulu apabila beratnya lebih dari 32 kilogram. Tidak ada proses pembayaran saat penimbangan," ujarnya.
Akibatnya, pemandangan koper yang dibongkar di tengah proses pemeriksaan menjadi hal yang lumrah. Beberapa jemaah harus mengeluarkan sebagian barang agar berat koper kembali sesuai ketentuan. Bahkan koper yang diikat tali rafia pun harus dibuka untuk memudahkan pemeriksaan keamanan di bandara.
Namun menariknya, sebagian besar jemaah justru lebih khawatir kehilangan ruang untuk oleh-oleh daripada barang yang mereka bawa dari Indonesia.
Oleh-Oleh Jadi Prioritas
Junarti Ramli, jemaah asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, mengaku telah menyiapkan banyak oleh-oleh untuk keluarga, tetangga, dan kerabat yang menanti kepulangannya.
Baginya, buah tangan dari Tanah Suci merupakan bagian penting dari perjalanan ibadah haji.
Ia bahkan sudah memiliki prioritas jika sewaktu-waktu diminta mengurangi isi koper.
"Kalau memang harus memilih, tentu oleh-oleh untuk keluarga yang saya pertahankan terlebih dahulu," katanya.
Menurut Junarti, barang-barang yang dibawa dari Indonesia justru akan menjadi pilihan pertama untuk ditinggalkan apabila berat koper melebihi batas.
Pandangan yang sama diungkapkan Andi Tenri Olle, jemaah dari Kloter UPG 4. Ia membeli berbagai oleh-oleh mulai dari kurma, cokelat, hingga boneka unta untuk anak dan cucunya.
Boneka unta menjadi salah satu barang yang paling ditunggu keluarga di rumah. Karena itu, ia telah mempersiapkan semuanya dengan cermat, termasuk melepas baterai dari mainan tersebut agar sesuai dengan aturan penerbangan.
Meski begitu, Tenri mengaku siap jika harus mengurangi sebagian isi koper.
"Kalau memang melebihi kapasitas, saya akan mengeluarkan barang yang saya bawa dari Indonesia. Oleh-oleh tetap harus pulang bersama saya," ujarnya.
Hal senada disampaikan Ambo Anna Ambo Amang. Jemaah asal Wajo itu memilih mempertahankan oleh-oleh yang dibeli di Tanah Suci dibandingkan barang bawaan dari rumah.
Kurma ajwah, cokelat Dubai, tas yang tengah viral, hingga berbagai souvenir khas Arab Saudi telah dipersiapkan untuk keluarga tercinta.
Baginya, oleh-oleh bukan sekadar barang. Di balik setiap paket kurma, boneka unta, atau kotak cokelat yang dibawa pulang, tersimpan rasa rindu, kasih sayang, dan kenangan perjalanan spiritual yang tak terlupakan.
Karena itu, di tengah aturan ketat mengenai berat bagasi, banyak jemaah rela meninggalkan sebagian barang yang mereka bawa dari Indonesia. Yang terpenting, oleh-oleh dari Tanah Suci dapat tiba dengan selamat di rumah sebagai hadiah bagi keluarga yang telah lama menantikan kepulangan mereka.
Di antara koper-koper yang ditimbang menjelang keberangkatan, terselip cerita sederhana tentang cinta dan kerinduan. Dan di antara tumpukan oleh-oleh itu, boneka unta tampaknya menjadi simbol paling nyata bahwa perjalanan suci mereka segera berakhir, sementara kebahagiaan keluarga di kampung halaman akan segera dimulai.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 1 hari yang lalu
TangselCity | 16 jam yang lalu
Nasional | 17 jam yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu



