TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Harga Sembako Merangkak Naik, Pedagang dan Konsumen Sama-Sama Menjerit

Reporter: Farhan
Editor: AY
Jumat, 12 Juni 2026 | 08:39 WIB
Ilustrasi Sembako. Foto : Ist
Ilustrasi Sembako. Foto : Ist

JAKARTA - Pergerakan rupiah yang menguat dalam tiga hari terakhir ternyata belum mampu meredam kenaikan harga kebutuhan pokok di sejumlah daerah. Harga bawang, cabai, beras hingga minyak goreng masih menunjukkan tren naik, membuat pedagang dan masyarakat semakin terbeban.


Di Pasar Manis, Purwokerto, Jawa Tengah, harga bawang putih kini menembus Rp45 ribu per kilogram (kg), melonjak dari sebelumnya sekitar Rp30 ribu per kg.


Seorang pedagang, Anjar, mengatakan kenaikan harga bawang putih tidak lepas dari ketergantungan Indonesia terhadap impor.


“Bawang putih masih didominasi impor. Saat dolar AS menguat, harga ikut terdorong naik,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).


Sementara itu, harga bawang merah juga masih tinggi di kisaran Rp60 ribu per kg. Menurut Anjar, kondisi tersebut dipicu terbatasnya pasokan akibat gagal panen di sejumlah sentra produksi.


“Informasinya dari pedagang besar, petani bawang merah di Brebes banyak yang gagal panen. Kalau ada hasil panen, langsung diserap pedagang besar dari Jakarta secara tunai,” katanya.


Komoditas cabai juga belum menunjukkan penurunan signifikan. Saat ini harga cabai berada di kisaran Rp60 ribu per kg. Meski turun dibanding masa Idul Adha yang sempat mencapai Rp70 ribu per kg, harga tersebut masih dianggap memberatkan konsumen.


Kondisi serupa juga terjadi di Jawa Timur. Di Pasar Kendangsari, Surabaya, sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan, mulai dari beras, minyak goreng, bawang merah, bawang putih hingga tepung.


Pedagang sembako, Hadi, menyebut harga beras termurah kini mencapai Rp15 ribu per kg dari sebelumnya Rp13–14 ribu per kg. Sementara beras premium dijual hingga Rp18 ribu per kg.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada minyak goreng MinyaKita. Harga jual di tingkat pedagang disebut telah mencapai Rp22 ribu per liter, jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700 per liter.


“Sekarang MinyaKita sudah Rp22 ribu. Padahal HET hanya Rp15.700, tapi harga kulakannya saja sudah mendekati Rp20 ribu,” ungkap Hadi.


Meski stok barang disebut masih aman, kondisi tersebut tidak diikuti peningkatan transaksi. Banyak konsumen mulai mengurangi pembelian karena daya beli yang melemah.


“Barang masih ada, tapi pembeli makin sedikit. Pasar sekarang terasa sepi,” keluhnya.


Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Reynaldi Sarijowan, menjelaskan bahwa setelah Idul Adha sebagian harga memang mulai melandai karena permintaan menurun. Namun beberapa komoditas justru masih mengalami lonjakan.


Data Ikappi mencatat harga cabai merah besar mencapai Rp71 ribu per kg, cabai rawit merah Rp84 ribu per kg, dan cabai merah keriting Rp65 ribu per kg. Harga bawang merah bertahan di Rp60.500 per kg dan bawang putih Rp42.500 per kg.


Sementara itu, telur ayam dijual sekitar Rp28 ribu per kg dan daging ayam mencapai Rp41.500 per kg. Untuk minyak goreng, harga curah berada di kisaran Rp21.900 per kg, sedangkan MinyaKita dijual sekitar Rp16–17 ribu per liter.


Reynaldi memperkirakan tekanan harga masih berpotensi berlanjut hingga pertengahan tahun. Karena itu, pemerintah diminta segera melakukan intervensi melalui penguatan produksi dan distribusi pangan.


“Sentra pertanian harus diperkuat agar pasokan kembali stabil,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong adanya subsidi distribusi ke wilayah dengan konsumsi tinggi seperti Jabodetabek serta pemberian stimulus bagi pedagang pasar agar mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi.


Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai lonjakan harga saat ini merupakan akumulasi berbagai tekanan ekonomi yang terjadi secara bersamaan.


Menurutnya, pelemahan rupiah sebelumnya telah meningkatkan biaya impor bahan pangan dan input pertanian seperti pupuk, pakan ternak, hingga gandum. Kenaikan biaya energi dan distribusi turut memperbesar tekanan harga di tingkat konsumen.


“Kondisi ini lebih bersifat struktural dibanding musiman, sehingga tidak bisa diselesaikan hanya dengan kebijakan jangka pendek,” jelasnya.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit