ASN Pemkot Dituntut Kuasai AI Untuk Bantu Kinerja
CIPUTAT-Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) terus mendorong transformasi digital di lingkungan birokrasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut mampu beradaptasi agar pelayanan publik menjadi lebih cepat, efektif, dan tepat sasaran.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop AI Empowerment for Government: Breaking the Limits, Mengakselerasi Kinerja ASN Masa Kini dengan Artificial Intelligence yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangsel, Senin (15/6). Kegiatan itu menghadirkan pakar teknologi informasi Indonesia, Onno W. Purbo, dan diikuti ASN dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kecamatan, Kelurahan, hingga Puskesmas.
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie mengatakan, perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, sehingga birokrasi harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.
"Sekarang dunia sudah berubah, teknologi juga berkembang sangat cepat. Jadi, kita yang juga harus berubah dan menyesuaikan diri. Maka dari itu, saya minta seluruh ASN dari semua OPD bisa memahami dan memanfaatkan kecerdasan buatan ini secara tepat," ujar Benyamin.
Menurutnya, pemanfaatan AI tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas ASN, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempercepat pelayanan publik kepada masyarakat. Saat ini, Pemkot Tangsel tengah mengembangkan platform layanan terintegrasi berbasis AI bernama Tangsel One yang dilengkapi asisten virtual bernama Helita.
Benyamin menjelaskan, platform tersebut dirancang untuk menyatukan berbagai layanan pemerintahan dalam satu kanal berbasis WhatsApp yang mudah diakses masyarakat.
"Nah, kita sudah membuat desain ya, namanya Tangsel One. Tangsel One jadi mengintegrasikan seluruh aplikasi teknologi dalam pelayanan publik dalam satu fitur berbasiskan WhatsApp aja. Sebab semuanya pasti handphone kita ini ada WhatsApp-nya," katanya.
Melalui Helita, masyarakat nantinya dapat mengakses berbagai layanan pemerintah, memperoleh informasi, menyampaikan aduan, hingga memantau proses pelayanan tanpa harus berpindah-pindah aplikasi.
"Artinya nanti akan dilengkapi dengan berbagai kelengkapan data informasi yang memang bisa diakses oleh masyarakat. Jadi, masyarakat bisa mengefisienkan waktu, bisa mendapatkan kepastian dalam pelayanan publiknya, termasuk menyampaikan keluhan-keluhannya melalui WhatsApp Helita itu," ungkapnya.
Benyamin menyebut, pengembangan Tangsel One menjadi salah satu terobosan digital yang tengah dipersiapkan Pemkot Tangsel. Namun demikian, ia menegaskan bahwa penggunaan AI harus tetap dilakukan secara bijak dan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Teman-teman harus tahu mana yang bisa digunakan dan mana yang tidak boleh. Jangan sampai penggunaan AI justru menimbulkan persoalan hukum atau pelanggaran aturan. AI atau kecerdasan buatan ini bisa bermanfaat, tetapi juga dapat berdampak negatif jika digunakan melampaui batas. Harap diingat itu," tegasnya.
Ia juga memastikan edukasi penggunaan teknologi akan terus dilakukan, baik kepada ASN maupun masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar seluruh lapisan warga dapat memanfaatkan layanan digital yang sedang dikembangkan pemerintah daerah.
Sementara, Kepala Diskominfo Kota Tangsel, Tb Asep Nurdin mengatakan, workshop tersebut merupakan inisiatif langsung dari wali kota untuk mempercepat penerapan teknologi digital dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Menurut Asep, kehadiran AI tidak hanya ditujukan untuk memperkuat pelayanan eksternal kepada masyarakat, tetapi juga membantu pekerjaan internal birokrasi agar lebih efisien.
"Pak Wali ingin teknologi digital tidak hanya digunakan untuk pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga membantu pekerjaan internal pemerintahan agar lebih cepat, efektif, dan produktif," kata Asep.
Ia menjelaskan, fondasi pengembangan layanan digital sebenarnya sudah dimulai melalui peluncuran Tangsel One beberapa waktu lalu. Saat ini, Helita sebagai agen AI pada platform tersebut telah dapat digunakan untuk membantu masyarakat memperoleh informasi layanan publik tertentu.
Meski begitu, cakupan layanan yang tersedia masih terus diperluas. Ke depan, layanan kesehatan, administrasi kependudukan, hingga berbagai layanan publik lainnya akan diintegrasikan ke dalam satu platform yang sama.
Menurut Asep, saat ini penggunaan Helita masih didominasi pertanyaan seputar prosedur pelayanan publik, pelaporan kejadian di lingkungan masyarakat, hingga layanan perizinan.
Selain menjawab kebutuhan administrasi, Helita juga dikembangkan agar mampu memberikan berbagai informasi publik yang dibutuhkan warga. Kemampuan sistem tersebut akan terus meningkat seiring bertambahnya data yang terintegrasi ke dalam platform.
Asep menegaskan, sistem AI yang digunakan tetap berada dalam kendali pemerintah daerah sehingga akses dan sumber datanya lebih terukur serta dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa AI tetap hanya berfungsi sebagai alat bantu. Karena itu, ASN harus tetap mengedepankan kemampuan analisis dan verifikasi terhadap setiap informasi yang dihasilkan teknologi tersebut.
"Teknologi ini adalah alat bantu. Semakin baik data yang dimiliki, semakin baik pula hasil yang diberikan. Yang paling penting, kemampuan berpikir dan analisis ASN tetap menjadi yang utama," pungkasnya.
Onno W. Purbo mengajak ASN memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas kerja tanpa mengabaikan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu mempercepat penyusunan dokumen, pengolahan data, hingga perumusan rekomendasi kebijakan apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
Ia menegaskan, bahwa AI bukan pengganti manusia, melainkan instrumen yang dapat mendukung pengambilan keputusan agar lebih cepat dan berbasis data.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 jam yang lalu
Olahraga | 15 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu



