Trump Peringatkan Dunia Hadapi Krisis Energi Jika Selat Hormuz Tetap Tertutup
AS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan potensi krisis energi global apabila penutupan Selat Hormuz terus berlangsung. Menurutnya, cadangan minyak dunia dapat mengalami tekanan serius dan berisiko menipis hanya dalam hitungan pekan jika jalur pelayaran strategis tersebut tidak kembali dibuka.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis. Dalam pembahasan terkait nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran, Trump menekankan pentingnya menjaga kelancaran distribusi energi dunia.
“Kita memiliki cadangan di berbagai wilayah, tetapi jika kondisi ini terus berlangsung, pada akhirnya pasokan akan semakin terbatas dan akan ada saat di mana minyak menjadi sulit diperoleh,” ujar Trump.
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan secara rinci apakah pernyataan tersebut merujuk pada cadangan minyak Amerika Serikat atau stok energi global secara keseluruhan. Gedung Putih juga belum memberikan penjelasan tambahan dan hanya merujuk pada pernyataan presiden.
Trump menilai pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi langkah penting untuk mencegah gejolak pasar energi.
“Jika distribusi minyak terhambat dan kapal tidak dapat melintas, dampaknya akan sangat besar terhadap ekonomi dan pasar global,” katanya.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen kebutuhan minyak global dikirim melalui jalur yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab tersebut.
Penutupan wilayah itu dalam beberapa bulan terakhir telah mendorong kenaikan harga minyak internasional dan berdampak langsung pada meningkatnya harga bahan bakar di berbagai negara.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya juga mengingatkan bahwa cadangan minyak dunia terus mengalami tekanan akibat terganggunya rantai distribusi energi.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyebut pelepasan cadangan strategis memang mampu menjaga stabilitas pasar untuk sementara waktu, tetapi langkah tersebut bukan solusi jangka panjang.
IEA memperkirakan apabila gangguan pasokan terus berlanjut, stok minyak komersial global hanya dapat menopang kebutuhan selama beberapa pekan ke depan. Lembaga itu juga memproyeksikan permintaan minyak dunia sepanjang tahun ini berpotensi melampaui tingkat pasokan.
Sejak konflik berlangsung, Amerika Serikat bersama negara-negara anggota IEA telah melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna menjaga kestabilan pasar.
Pemerintahan Trump turut mengumumkan pelepasan 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) secara bertahap selama 120 hari. Data terbaru menunjukkan cadangan minyak strategis AS kini berada di kisaran 340 juta barel, menjadi salah satu level terendah dalam beberapa dekade terakhir.
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu




