Arus Minyak Kembali Lancar: 12 Juta Barel Melintasi Selat Hormuz Pasca Damai AS–Iran
IRAN - Sehari setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, arus perdagangan minyak global mulai kembali normal. Sebanyak 12 juta barel minyak dilaporkan melintasi Selat Hormuz dengan aman dan lancar, menandai meredanya ketegangan di salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan peningkatan arus pelayaran ini terjadi setelah Iran berkomitmen menjalankan kesepakatan damai, termasuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Sejauh ini mereka tidak menembaki kapal apa pun di Selat Hormuz,” ujar Vance, dikutip dari The Economic Times.
Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas pasokan energi global, mengingat sebelumnya jalur tersebut sempat terganggu akibat konflik AS–Iran yang pecah pada Februari 2026.
Iran Buka Jalur, Bebaskan Biaya Pelayaran
Sebagai bagian dari implementasi kesepakatan, Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC) mengumumkan kebijakan pembebasan biaya pelayaran selama 60 hari bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Seluruh biaya akan ditanggung pemerintah Iran untuk mempercepat normalisasi aktivitas perdagangan.
Selain itu, otoritas Iran juga diminta mempercepat proses perizinan pelayaran serta mengatur ulang lalu lintas kapal agar lebih aman dan terkontrol. Meski jalur kembali dibuka, kapal tetap diwajibkan mengikuti rute dan jadwal yang telah ditetapkan demi keselamatan pelayaran.
SNSC juga menyebutkan adanya langkah tambahan berupa operasi pembersihan ranjau laut sebagai bagian dari perjanjian damai yang disepakati melalui MoU Islamabad.
Tanda Pemulihan Pasar Energi
Berdasarkan data pelacakan kapal, beberapa kapal LNG sudah mulai kembali melintas di kawasan tersebut, termasuk kapal Mraikh yang menuju Pakistan dan kapal Ye Chi milik operator China.
Meski begitu, pasar minyak global masih bergerak fluktuatif. Pada penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026), harga minyak Brent turun tipis 0,2 persen ke level 79,72 dolar AS per barel, sementara WTI naik 0,1 persen menjadi 76,68 dolar AS per barel. Secara mingguan, keduanya masih mencatat penurunan sekitar 8 persen.
Dampak ke Indonesia Masih Perlu Dikaji
Pemerintah Indonesia menilai dampak meredanya konflik ini perlu dicermati lebih lanjut. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penurunan harga minyak global belum tentu langsung berdampak pada harga BBM domestik.
Sementara itu, anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim menegaskan masyarakat berhak merasakan dampak positif jika harga minyak dunia benar-benar turun, meskipun faktor penentu harga BBM juga dipengaruhi nilai tukar, biaya distribusi, hingga kebijakan subsidi energi.
Ia menambahkan, ketergantungan Indonesia pada impor minyak membuat setiap gejolak geopolitik global masih sangat memengaruhi biaya energi nasional.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 3 hari yang lalu
Piala Dunia 2026 | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu




