TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Purbaya: Indonesia Sudah Lewati Ujian Berat, Ekonomi Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global

Reporter & Editor : AY
Rabu, 24 Juni 2026 | 08:07 WIB
Menkeu Purbaya. Foto : Ist
Menkeu Purbaya. Foto : Ist

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai perekonomian Indonesia telah berhasil melewati fase tekanan berat akibat gejolak ekonomi global. Penilaian tersebut didasarkan pada sejumlah indikator yang menunjukkan kondisi ekonomi nasional tetap terjaga dan menunjukkan tren positif.


Purbaya mengaku sempat mencermati berbagai keluhan masyarakat mengenai kondisi ekonomi yang ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, kekhawatiran itu mulai mereda setelah melihat data ekonomi terbaru yang menunjukkan kinerja lebih baik dari perkiraan.


“Saya juga sempat deg-degan, apakah betul keluhan yang banyak muncul di media sosial itu tercermin dalam data. Ketika saya lihat angkanya masih tumbuh, saya agak lega. Berarti kondisinya tidak seburuk yang diperkirakan,” ujar Purbaya dalam rapat kerja bersama Komite IV DPD RI di Jakarta, Senin (22/6/2026).


Menurut dia, ketidakpastian ekonomi global memang masih berlangsung, meski tekanannya mulai berkurang seiring meningkatnya peluang perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang ikut menurunkan volatilitas pasar keuangan dunia.


Di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia dinilai tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, inflasi yang terkendali di level 3,08 persen, surplus neraca perdagangan selama tujuh bulan berturut-turut hingga April 2026, serta cadangan devisa yang setara dengan 5,6 bulan impor.


Purbaya juga menyoroti pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 11,51 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Mei 2026. Menurutnya, kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi riil masih berjalan dengan baik.


“Angka itu bukan data yang dibuat pemerintah, melainkan berasal dari perbankan. Ini menunjukkan memang ada perbaikan nyata dalam perekonomian,” katanya.


Selain indikator makro, sejumlah indikator sektor riil juga menunjukkan tren penguatan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur kembali masuk zona ekspansif di atas level 50, sementara Indeks Keyakinan Konsumen meningkat menjadi 123 pada April 2026.


Di sisi konsumsi, penjualan listrik tetap tumbuh. Penjualan mobil dan sepeda motor juga mengalami kenaikan signifikan pasca-Lebaran. Penjualan mobil meningkat sekitar 55 persen, sedangkan sepeda motor naik 28,1 persen. Konsumsi semen domestik turut tumbuh 35,6 persen secara tahunan pada April 2026 yang mencerminkan aktivitas investasi masih berlangsung.


“Jadi bukan hanya melihat angka produk domestik bruto (PDB), tetapi juga indikator non-PDB yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi kita masih cukup kuat,” ujar Purbaya.


Ia mengaku sebelumnya sempat mengkhawatirkan perlambatan ekonomi yang lebih tajam pada kuartal kedua. Namun berdasarkan perkembangan data terkini, kondisi ekonomi nasional dinilai masih cukup solid.


Di sektor keuangan, Purbaya menilai koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan berhasil menjaga stabilitas. Hal itu tercermin dari penguatan nilai tukar rupiah, rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), penurunan imbal hasil obligasi negara, hingga kembali masuknya aliran modal asing.


Ia berharap peluang perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dapat semakin menekan harga minyak dunia sehingga mengurangi tekanan biaya energi dan inflasi domestik.


“Kalau dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu,” kata Purbaya.


Meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya ideal, ia optimistis berbagai langkah mitigasi yang ditempuh pemerintah akan menjaga pertumbuhan tetap positif. Dengan prospek geopolitik yang membaik dan harga energi yang lebih rendah, kinerja ekonomi pada paruh kedua 2026 diyakini akan semakin kuat.
Optimisme tersebut turut diperkuat oleh data Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 tumbuh lebih tinggi.


Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut M2 tumbuh 10,8 persen (yoy), meningkat dibanding April 2026 yang sebesar 9,2 persen (yoy), sehingga mencapai Rp10.415,9 triliun.


Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) sebesar 15,3 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,0 persen (yoy). Selain itu, penyaluran kredit tumbuh 10,8 persen (yoy), lebih tinggi dibanding April 2026 yang sebesar 9,4 persen (yoy).


BI juga mencatat uang primer (M0) adjusted pada Mei 2026 tumbuh 14,2 persen (yoy) menjadi Rp2.214,6 triliun, melanjutkan tren pertumbuhan bulan sebelumnya.


Dengan sejumlah indikator tersebut, pemerintah menilai fondasi ekonomi Indonesia masih terjaga dan mampu menghadapi tekanan global yang terjadi sepanjang tahun ini.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit