Kemunculan Kampung Tenggelam Di Lebak Jadi Destinasi Wisata Dadakan
Air Bendungan Karian Menyusut Akibat Musim Kemarau
LEBAK - Kemunculan Kampung Somang yang pernah tenggelam atau hilang sejak pembangunan Bendungan Karian, di wilayah Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, jadi destinasi wisata dadakan.
Kemunculan kembali Kampung Somang tersebut, akibat musim kemarau yang terjadi beberapa bulan terakhir membuat air di Bendungan Karian menyusut sekitar 4-5 meter. Sehingga, membuat ratusan rumah, jalan kampung, sawah, ladang, hingga bangunan masjid yang selama bertahun-tahun terendam kembali terlihat di permukaan.
Fenomena langka tersebut, tak hanya membangkitkan nostalgia warga yang pernah bermukim di kawasan tersebut, namun bikin daya tarik para wisatawan dari berbagai daerah untuk berkunjung ke Bendungan Karian tersebut.
Pantauan, Minggu (2/8), kawasan bendungan dipadati wisatawan sejak pagi hingga sore. Sebagian besar merupakan warga eks Kampung Somang yang ingin mengenang kampung halamannya, sementara lainnya datang dari Jakarta, Bandung, dan sejumlah daerah di Banten serta Jawa Barat setelah mengetahui fenomena tersebut dari pemberitaan televisi dan media sosial.
Hamparan tanah yang sebelumnya tertutup air kini berubah menjadi lanskap yang dipenuhi sisa-sisa permukiman. Pondasi rumah, ruas jalan kampung, lahan pertanian, hingga bangunan masjid kembali terlihat, menghadirkan pemandangan yang seolah membuka kembali sejarah sebuah kampung yang pernah hidup sebelum direlokasi untuk pembangunan Bendungan Karian.
Salah seorang pengunjung asal Jawa Barat, Agan Permana (46), mengaku, sengaja datang bersama istrinya setelah melihat tayangan mengenai kemunculan kembali Kampung Somang di televisi dan media sosial.
“Informasinya, saya lihat dari berita di televisi dan media sosial. Karena penasaran akhirnya datang langsung untuk melihat kampung yang dulu sudah tenggelam kini muncul lagi,” kata Agan.
Panorama Bendungan Karian menurutnya, memiliki daya tarik tersendiri. Selain menyuguhkan keindahan alam katanya, kemunculan bangunan-bangunan lama menghadirkan suasana nostalgia, terutama bagi warga yang pernah tinggal di kawasan tersebut.
“Bagus juga pemandangannya. Masyarakat yang dulu tinggal di sini bisa kembali mengenang kampung lamanya. Ini juga bisa menjadi wisata lokal yang menarik dan dimanfaatkan warga sekitar untuk menambah penghasilan,” katanya.
Ia berharap Bendungan Karian tidak hanya memberikan manfaat sebagai infrastruktur sumber daya air, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan wisata berbasis masyarakat.
Senada, wisatawan asal Jakarta, Ilham (34), yang datang bersama istri dan anaknya untuk menghabiskan akhir pekan. “Kami sengaja datang karena ingin melihat langsung fenomena ini. Menurut saya ini cukup langka, apalagi terjadi saat musim kemarau. Jadi wajar kalau banyak orang penasaran,” katanya.
Kawasan Bendungan Karian menurutnya, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata musiman apabila dikelola dengan baik.
“Potensinya sangat besar. Tinggal bagaimana pemerintah menyiapkan fasilitas pendukung, menjaga kebersihan, dan memberdayakan masyarakat sekitar. Misalnya perahu milik warga bisa dimanfaatkan sebagai sarana wisata sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat,” sarannya.
Surutnya permukaan air Bendungan Karian memperlihatkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga ketersediaan sumber daya air pada musim kemarau. Namun di sisi lain, penyusutan debit air membuka kembali jejak Kampung Somang yang selama ini hanya hidup dalam ingatan para penghuninya.
Bangunan-bangunan yang kembali muncul dari dasar waduk menjadi simbol memori kolektif masyarakat sekaligus pengingat proses relokasi yang pernah terjadi saat pembangunan Bendungan Karian dimulai.
Untuk diketahui, Bendungan Karian mulai dibangun pada Oktober 2015 dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada Januari 2024 sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Bendungan ini berfungsi menyediakan air baku bagi wilayah Banten dan DKI Jakarta, mengairi ribuan hektare lahan pertanian, serta membantu mengurangi risiko banjir di wilayah hilir.
Nasional | 5 jam yang lalu
Pos Banten | 22 jam yang lalu
Olahraga | 21 jam yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 23 jam yang lalu



