TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Angka Anak Tidak Sekolah Di Pandeglang Tinggi, Disdikpora Jemput Bola

Reporter: Nipal
Editor: Redaksi
Senin, 03 Agustus 2026 | 09:30 WIB
WAWANCARA ATS. Kepala Disdikpora Pandeglang, Sutoto, sedang diwawancara wartawan di lingkungan Setda Pandeglang. Wawancara itu mempertanyakan soal masih tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah Kabupaten Pandeglang. (NIPAL SUTIANA/TANGSEL POS)
WAWANCARA ATS. Kepala Disdikpora Pandeglang, Sutoto, sedang diwawancara wartawan di lingkungan Setda Pandeglang. Wawancara itu mempertanyakan soal masih tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayah Kabupaten Pandeglang. (NIPAL SUTIANA/TANGSEL POS)

PANDEGLANG - Angka Lulus Tidak Melanjutkan (LTM) di Kabupaten Pandeglang tercatat mencapai 11 ribu. Untuk menekan angka tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Pandeglang Sutoto, melakukan langkah jemput bola untuk menangani Anak Tidak Sekolah (ATS).

 

“ATS-nya sih yang terbaru masih data yang lama, kalau menurut data masih lumayan besar. Persoalan sekarang yang LTM masih 11 ribu,” ungkap Sutoto, Minggu (2/8).

 

Salah satu langkah yang dilakukan, Sutoto melakukan jemput bola ATS di tiga kampung, dengan jumlah ATS yang masuk penanganan sebanyak 103 orang tersebar di Kampung Pasir Angin, Kampung Pakuhaji, dan Kampung Campraksanta, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari. Katanya, fokus utama penanganan ATS oleh Disdikpora saat ini yang berusia produktif yakni yang usianya dibawah 21 tahun.

 

Katanya lagi, Disdikpora Pandeglang melakukan pendekatan penanganan ATS berbasis pondok pesantren yang dilakukan tahun ajaran baru 2026-2027.

 

“Ada anak-anak yang Lulus Tidak Melanjutkan (LTM), dari Kampung Pasir Angin, Kampung Pakuhaji, dan Kampung Campraksanta, Kelurahan Pagerbatu, Kecamatan Majasari. Untuk mengikuti pendidikan pondok pesantren Salafi Asasul Hilman Tahfidzul yang dikolaborasikan dengan PKBM Sinar Lentera, Kecamatan Majasari,” jelasnya.

 

Kolaborasi dibangun antara Disdikpora, Ponpes Salafi dan PKBM, untuk diikutsertakan dalam pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C. Jumlah santri yang mengikuti paket B sebanyak 68 dan paket C sebanyak 35 orang.

 

“Kegiatan PKBM ini berjalan dengan tidak mengganggu jadwal mengaji dan mengikuti kegiatan pembelajaran dari tutor termasuk dalam ekstrakurikuler Kesenian Tradisional. Selama mengikuti pendidikan dari mulai pendaftaran sampai lulus tidak dikenakan biaya (gratis) dalam pengelolaannya dihitung sebagai penerima dana BOSP dan PIP,” katanya.

 

Sutoto menegaskan, jadi ada dua hal berkaitan penanganan ATS. Jadi ada yang Lulus Tidak Melanjutkan (LTM), kemudian drop out (putus studi) itu ada tiga kampung. “Dari Kampung Pasirangin, Pakuhaji, sama Campaksanta, Kelurahan Pagerbatu. Dalam hal ini saya mencoba berkolaborasi dengan Pondok Pesantren, salafi” ungkapnya.

 

Menurutnya, langkah jemput bola yang dilakukan pihanya tersebut, ternyata hasilnya efektif dalam penanganan ATS. Jadi ujarnya, ternyata ATS  itu suruh masuk ponpes dulu. 

 

“Bukan suruh sekolah paket dulu, tapi masuk dulu ke pondok pesantren, terus saya menemui kyainya ternyata lebih merespon. Dengan catatan tidak mengganggu jam mengaji,” katanya.

 

Sutoto melakukan pendekatan secara persuasif dengan ponpes salafiyah serta PKBM Sinar Lentera, Kampung Jarokasang, itu muridnya kurang lebih 160-an. “Kalau saja setiap PKBM ada 100 murid dan dikalikan 50 PKBM sudah 5.000 murid. Nah kolaborasi ini akan digencarkan karena ternyata ini efektif,” katanya.

 

Sebelum melakukan inovasi ini ungkapnya, terlebih dahulu pendekatan sebelumnya yaitu di Ponpes Riyadhus Sholihin, itu bukan kerjasama dengan PKBM, tapi di dalam ponpes dibuat PKBM. 

 

“Di Ponpes Batu Bantar jadi ada tiga pilihan, ada yang mengaji saja, kemudian ada dai orangtua mengaji ada anaknya di sekolahkan di situ, anaknya di kasih dua pilihan ada yang sekolh umum, ikut modern, terus ada memilih mengaji diberikan paket A, Paket B, paket C itu siswanya ada sampai 700 orang. Itu keren polanya ada kantongnya ada daya tampungnya,” terangnya.

 

Sedangkan kalau kemarin dia mencoba inovasi adalah kolaborasi dengan ponpes salafi dan PKBM. Katanya, rata-rata kyai salafi memang tidak mengizinkan untuk kegiatan lain.

 

“Tapi ternyata setelah kita obrolkan itu mau, dengan catatan biayanya gratis dan kata saya siap ini kan selama di bawah usia 21 tahun dihitung dari BOSP dan juga ada PIP termasuk lembaga PKBM-nya kalau kurang ruang kelas bisa revitalisasi. Saya tawarkan ponpes buat PKBM, kita permudah proses perizinannya saya rekomendasi tapi pada umumnya mereka tidak siap, jadi lebih memilih kerjasama dengan catatan tidak mengganggu belajar ngajinya,” katanya lagi.

 

Kolaborasi ini menjadi solusi efektif untuk penanganan ATS Pandeglang. “Jadi kalau satu PKBM bisa menjaring 100 saja, murid baru berarti 100 kali 50 PKBM menjadi 5.000. Anak lulus tidak melanjutkan sekarang ini ada 11.000,” tandasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit