Kepala BGN Ungkap Penyebab Dugaan Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang
Daun Singkong dan Bumbu Rendang Diduga Dimasak Terlalu Awal, BGN Perketat Pengawasan Dapur MBG
SEMARANG – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkap hasil investigasi awal terkait dugaan keracunan massal usai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang. Dugaan sementara mengarah pada proses pengolahan makanan yang dilakukan terlalu dini, sehingga kualitas makanan menurun saat disajikan.
Menurut Sudaryono, daun singkong dan bumbu rendang dimasak jauh sebelum waktu distribusi. Kondisi tersebut diduga memengaruhi mutu dan keamanan pangan yang dikonsumsi para siswa.
"Sejauh ini investigasi kami mengarah pada bahan makanan yang dimasak terlalu awal," ujar Sudaryono di Semarang, Minggu (2/8/2026).
Menindaklanjuti kejadian itu, BGN menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke SMKN 6 Semarang hingga proses investigasi selesai. Sanksi dan peringatan juga diberikan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab apabila terbukti lalai.
BGN juga akan memperketat pengawasan terhadap seluruh SPPG di Indonesia dengan mempercepat penerapan sistem pemantauan digital secara real time serta memastikan seluruh dapur menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara disiplin, mulai dari kebersihan, keamanan pangan, hingga tata kelola produksi makanan.
Sudaryono menegaskan, setiap kepala SPPG bertanggung jawab memastikan seluruh petugas mematuhi SOP. Pelanggaran terhadap prosedur kebersihan dan keamanan pangan tidak akan ditoleransi karena menyangkut keselamatan penerima manfaat Program MBG.
BGN juga menegaskan menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap kasus keracunan pangan maupun praktik penyimpangan dalam pelaksanaan Program MBG.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, jumlah korban dugaan keracunan mencapai 707 orang, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru. Sebanyak 698 orang mendapat penanganan di sekolah, sedangkan 9 orang dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk menjalani observasi.
Sampel makanan telah diperiksa di laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian. Dinas Kesehatan bersama BGN dan instansi terkait masih melakukan penyelidikan epidemiologi guna mengungkap sumber insiden tersebut.
Nasional | 3 jam yang lalu
Pos Banten | 20 jam yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
Olahraga | 20 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 21 jam yang lalu



