Anak Punk Berburu Foto Sisi Kehidupan Di Fotografi Jurnalistik
CIPUTAT-Komunitas punk dan anak jalanan di Tangerang Selatan (Tangsel) mendapat kesempatan mempelajari fotografi jurnalistik sebagai media untuk menyampaikan kritik sosial dan menyuarakan realitas yang mereka alami sehari-hari. Pelatihan tersebut digelar Tim Peneliti Photovoice Universitas Islam Syekh-Yusuf (Unis) Tangerang bekerja sama dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI), di Pondok Tasawuf Underground, Ciputat, Senin (3/7).
Sebanyak 20 peserta mengikuti workshop yang menggabungkan konsep literasi digital dengan pendekatan photovoice, sebuah metode partisipatif yang mendorong masyarakat menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka melalui karya fotografi.
Ketua Tim Peneliti Photovoice Unis Tangerang, Ade Irfan Abdurahman mengatakan, kegiatan tersebut dirancang agar peserta tidak hanya belajar memotret, tetapi juga memahami bagaimana sebuah foto dapat menjadi alat untuk menyampaikan pesan yang kuat kepada masyarakat.
“Melalui pendekatan photovoice, kami mengajak peserta memotret persoalan yang mereka rasakan sendiri. Harapannya, foto-foto itu dapat membuka ruang dialog dan menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan sosial,” kata Ade.
Menurutnya, kelompok masyarakat yang selama ini kerap berada di pinggiran perlu diberi ruang untuk berbicara menggunakan perspektif mereka sendiri. Dengan demikian, mereka tidak lagi sekadar menjadi objek penelitian, tetapi juga menjadi pihak yang aktif menyampaikan gagasan.
“Yang ingin kami bangun adalah kesadaran bahwa setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya. Kamera menjadi salah satu media yang mampu menyampaikan pesan tersebut secara kuat,” ujarnya.
Dalam pelatihan itu, peserta memperoleh materi dasar fotografi jurnalistik dari Pewarta Foto Indonesia. Mereka dikenalkan pada teknik pengambilan gambar, penyusunan komposisi, elemen visual, hingga cara membangun narasi melalui sebuah foto.
Pemateri dari PFI, Thoudy Badai menjelaskan, bahwa kekuatan sebuah foto tidak hanya terletak pada keindahannya, tetapi juga pada cerita yang mampu disampaikan kepada publik.
“Setiap orang memiliki kemampuan bercerita lewat visual. Yang terpenting adalah bagaimana foto itu memiliki elemen yang kuat sehingga pesan yang ingin disampaikan bisa dipahami masyarakat,” kata Thoudy.
Ia menambahkan, fotografi jurnalistik memiliki peran penting dalam mendokumentasikan fakta sekaligus menjadi sarana kontrol sosial. Karena itu, kemampuan membaca situasi dan menyampaikan realitas secara jujur menjadi hal yang harus dimiliki setiap pembuat foto.
“Sebuah foto bisa menjadi bukti suatu peristiwa dan bahkan mampu mendorong lahirnya perubahan. Kami melihat peserta sangat antusias mengikuti setiap sesi pelatihan,” tuturnya.
Selain mengikuti pembelajaran di dalam ruangan, para peserta juga diajak melakukan praktik lapangan bersama mahasiswa KMF Kalacitra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Unis Tangerang. Mereka berburu foto dengan mengangkat berbagai sisi kehidupan komunitas punk dan anak jalanan sebagai tema utama.
Seluruh karya yang dihasilkan nantinya akan melewati proses kurasi sebelum dipublikasikan melalui media sosial dan dipamerkan kepada masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas ruang dialog antara komunitas dengan publik melalui bahasa visual.
Pengasuh Pondok Tasawuf Underground, Halim Ambiya mengapresiasi pelatihan tersebut karena memberikan pengalaman baru bagi komunitas yang selama ini lebih sering menjadi objek kajian akademik.
“Biasanya kami hanya menjadi objek penelitian. Sekarang kami justru dilibatkan sebagai partisipan yang bisa menyampaikan pandangan melalui karya foto. Ini menjadi pengalaman yang sangat berarti dan semoga terus berlanjut,” pungkasnya.
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu



