TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Tanaman Padi Terancam Mati, Sumber Penghasilan Hilang

Melongok Nasib Para Petani Lebak Dimusim Kemarau Panjang

Reporter: Nipal
Editor: Redaksi
Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:15 WIB
KONDISI SAWAH. Murnah (75), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, menunjukkan kondisi sawah yang mengering akibat kemarau, Kamis (20/8). (ISTIMEWA)
KONDISI SAWAH. Murnah (75), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, menunjukkan kondisi sawah yang mengering akibat kemarau, Kamis (20/8). (ISTIMEWA)

 

Musim kemarau panjang di wilayah Kabupaten Lebak, telah berdampak pahit terhadap nasib para petani. Pasalnya, kondisi tersebut, bukan hanya mengancam seluruh tanaman padi pada mati, namun sumber penghasilan pun terancam hilang.

 

Laporan: Nipal Sutiana-Lebak

 

SEPERTI yang dialami Murnah (75) Warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, baginya kemarau bukan sekadar tanah sawah yang mengering. Musim kering membuat sumber penghasilan yang selama ini menjadi sandarannya ikut menghilang, sementara kebutuhan makan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.

 

Kini, dia tak lagi bisa berharap banyak dari sawahnya. Bahkan, hampir tiga bulan hujan tak turun di wilayah tersebut membuat tanah persawahan mengeras, retak-retak, dan berubah kemerah-merahan.

 

Tanaman padi yang semestinya tumbuh hingga menghasilkan gabah pun terancam gagal panen. “Sudah hampir tiga bulan kering. Tidak ada hujan,” ungkap Murnah saat ditemui wartawan di kediamannya, Kamis (20/8).

 

Murnah sebenarnya memiliki sebidang sawah. Namun, luasnya kecil dan tidak memiliki sumber air yang cukup untuk menghadapi kemarau berkepanjangan. “Ibu (Murnah menyebut dirinya,red) cuma punya satu petak sawah dan itu juga kondisinya kecil,” katanya.

 

Dalam kondisi normal, sawah tersebut masih bisa menghasilkan sekitar empat karung gabah dalam sekali panen. Hasilnya memang tidak seberapa, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Kini, sawah itu tidak lagi bisa diandalkan.

 

“Bareureum (tanahnya kemerah-merahan), kering karena kemarau. Sudah parah,” keluhnya.

 

Ketika sawah berhenti menghasilkan, Murnah harus mengeluarkan uang untuk membeli beras. Padahal, selama ini sebagian kebutuhan pangan keluarga masih terbantu dari hasil pertanian. Beras yang dibelinya berkisar Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per liter. Untuk kebutuhan sehari-hari, keluarganya menghabiskan sekitar tiga liter beras. “Harga beras di pasar itu ada yang Rp 12.000, ada juga yang Rp 12.500. Kalau yang bagus harganya Rp 13.000 per liter,” katanya.

 

Dengan harga tersebut, kebutuhan beras saja mencapai sekitar Rp 36.000 hingga Rp 39.000 per hari. Pengeluaran belum berhenti di situ. Murnah masih harus membeli lauk dan kebutuhan dapur, seperti tempe, ikan asin, sayuran, serta minyak. “Kalau kebutuhan lain sekitar Rp 20.000 sehari, kadang-kadang,” ungkapnya lagi.

 

Sehingga, kebutuhan makan keluarga Murnah bisa menembus Rp 50.000 per hari. Ironisnya, pada saat kebutuhan meningkat, sumber penghasilannya justru menghilang.

 

Murnah selama ini tidak hanya mengandalkan sawah miliknya. Di usia 75 tahun, ia masih bekerja sebagai buruh tani atau gacong untuk mendapatkan penghasilan. Ketika musim tanam atau panen tiba dan pemilik sawah membutuhkan tenaga, Murnah ikut bekerja. Ia bisa membantu menanam hingga memanen padi.

 

Namun, kemarau panjang membuat pekerjaan itu nyaris lenyap.

 

“Sekarang tidak ada pekerjaan karena kemarau. Kalau enggak kemarau mah ada saja kerjaan, bisa ikut ngagebot di sawah tetangga, tapi ini mah nggak ada,” katanya.

 

Bagi Murnah, tidak adanya pekerjaan berarti tidak ada upah yang bisa dibawa pulang. Sementara kebutuhan makan tidak ikut berhenti hanya karena sawah mengering.

 

Beban itu semakin berat karena Murnah juga membantu keluarganya. Di rumahnya terdapat lima anggota keluarga. Salah satu anaknya yang telah berkeluarga mengalami kebutaan sehingga tidak lagi mampu bekerja seperti sebelumnya.

 

“Di rumah ada lima keluarga termasuk saya. Anak saya yang sudah berkeluarga sudah tidak bisa melihat karena matanya kena kebutaan. Kalau dahulu mah dia yang ngasih uang buat makan saya sama keluarga, tapi sekarang mah udah nggak,” keluhnya.

 

Ketika uang tidak ada, Murnah terpaksa mengandalkan uluran tangan orang-orang di sekitarnya. “Kalau sedang tidak punya uang, dari tetangga sama saudara yang ngasih,” katanya.

 

Bagi keluarga yang hidup dari penghasilan harian, kondisi seperti itu menjadi persoalan serius. Tidak ada pekerjaan berarti tidak ada pemasukan pada hari itu, tetapi kebutuhan makan tetap datang esok hari.

 

Murnah berharap pemerintah memberikan perhatian kepada warga yang terdampak kemarau, terutama bantuan pangan. “Saya ingin mendapat bantuan. Kalau bisa bantuan beras dari pemerintah,” harapannya.(*)

 

 

 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit