IHSG dan Rupiah Kembali Bergairah, Pasar Optimistis Penguatan Berlanjut
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kembali menunjukkan performa positif. Keduanya kompak menguat sepanjang perdagangan Kamis (20/8/2026), didukung membaiknya sentimen pasar global serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).
Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 1,15 persen ke level 6.467,89. Tren positif berlanjut hingga sesi I dengan kenaikan 1,47 persen ke level 6.487,96.
Penguatan semakin solid hingga penutupan perdagangan. IHSG melesat 107,46 poin atau 1,68 persen ke level 6.501,58.
Sebanyak 452 saham tercatat menguat, sementara 190 saham melemah dan 150 saham bergerak stagnan. Adapun kapitalisasi pasar mencapai Rp11.444 triliun.
Rupiah juga tampil perkasa. Pada pembukaan perdagangan, mata uang Garuda menguat 0,16 persen atau 31 poin ke level Rp17.809 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.840 per dolar AS.
Penguatan berlanjut hingga penutupan sesi I. Rupiah terapresiasi 0,38 persen ke level Rp17.771 per dolar AS dan kembali menguat hingga akhir perdagangan sebesar 0,49 persen menjadi Rp17.746 per dolar AS.
Penguatan rupiah bersama sejumlah mata uang kawasan Asia dipengaruhi pelemahan dolar AS. Baht Thailand mencatat penguatan paling tajam, disusul rupiah, ringgit Malaysia, peso Filipina, rupee India, dan yuan China. Sebaliknya, won Korea Selatan dan yen Jepang menjadi mata uang yang mengalami pelemahan paling dalam.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, penguatan IHSG terjadi seiring membaiknya sentimen pasar global setelah Departemen Keuangan AS meningkatkan nominal operasi pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026.
Nilai tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan sebelumnya yang sebesar 2 miliar dolar AS. Kebijakan itu dinilai membantu meredakan tekanan di pasar obligasi AS sekaligus menopang pasar saham.
“Kebijakan tersebut meredakan tekanan di pasar,” ujar Liza dalam kajiannya, Kamis (20/8/2026).
Sentimen positif lainnya berasal dari risalah rapat The Fed pada Juli 2026 yang menunjukkan mayoritas pejabat mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga.
Meski demikian, Liza mengingatkan IHSG masih menghadapi risiko dari ketegangan antara AS dan Iran. Kedua negara belum mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz sehingga risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global masih tinggi.
“Kebuntuan tersebut membuat risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global tetap tinggi,” katanya.
Menurut Liza, peluang penguatan IHSG masih terbuka setelah indeks berhasil menembus level psikologis 6.500. Ia memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju level 6.723.
Di tengah penguatan pasar saham, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menyiapkan kebijakan baru. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya berencana menurunkan batas minimum harga saham di pasar reguler dari Rp50 menjadi Rp1.
Rencana tersebut ditujukan untuk memberikan akses likuiditas serta mendukung proses price discovery yang lebih baik di pasar saham.
Price discovery merupakan proses pembentukan harga pasar yang wajar berdasarkan interaksi antara permintaan pembeli dan penawaran penjual.
Jeffrey mengatakan, BEI telah membahas rencana tersebut bersama Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) dan Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) pada Rabu (19/8/2026). Diskusi dengan investor global juga telah dilakukan.
“Diskusi dengan investor global juga kami lakukan,” ungkap Jeffrey di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Sementara itu, Pengamat Keuangan Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah tidak hanya dipengaruhi pelemahan dolar AS. Kebijakan Bank Indonesia (BI) turut memberikan sentimen positif bagi mata uang Garuda.
BI pada Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (19/8/2026), memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.
Selain BI-Rate, BI mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Lukman menilai keputusan tersebut mampu menjadi jangkar stabilitas rupiah sekaligus menjaga daya tarik imbal hasil aset yang berdenominasi rupiah bagi investor.
“Dengan mengombinasikan sentimen positif dari pelonggaran tekanan dolar AS serta pijakan kuat dari kebijakan moneter domestik, rupiah diperkirakan akan berada di zona hijau,” tutur Lukman di Jakarta.
Untuk menjaga stabilitas rupiah dan mendukung perekonomian nasional, BI tidak hanya mengandalkan suku bunga acuan. Bank sentral juga menyiapkan berbagai instrumen, mulai dari intervensi di pasar valuta asing, perluasan insentif untuk menarik modal asing, pengelolaan likuiditas, hingga pelonggaran kebijakan makroprudensial.
Penjabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, arah kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Bank Indonesia juga terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA),” ujar Destry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (19/8/2026).
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu








