TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Juara Sayembara Batik Tangsel Didominasi Desainer Asal Bandung

Reporter: Rachman Deniansyah
Editor: Irma Permata Sari
Selasa, 01 September 2026 | 08:00 WIB
SAYEMBARA BATIK.  Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan bersama Ketua Dekranasda Tangsel RR Truetami Ajeng bersama para finalis dalam ajang grand final Sayembara Batik Tangsel
SAYEMBARA BATIK. Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan bersama Ketua Dekranasda Tangsel RR Truetami Ajeng bersama para finalis dalam ajang grand final Sayembara Batik Tangsel

SERPONG-Desainer asal Bandung, Jawa Barat mendominasi juara pada sayembara batik Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Tampil sebagai pemenang yakni, Gilang Muhammad Iqbal dengan nilai 474.

 

 Untuk posisi kedua juga diraih desainer asal Bandung yaitu, Nuareni Hasanah dengan perolehan nilai 462,3. Sedangkan, juara ketiga didapat Jauza Alya Wadhha yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat dengan memperoleh nilai 453,9.

 

 Sayembara batik Tangsel ini semula diikuti oleh 49 peserta. Kemudian melalui tahap seleksi yang ketat, disaring menjadi 10 finalis. Melalui sistem daring dan luring, mereka harus mengikuti ajang grand final dan dinilai langsung oleh juri yang berlangsung secara hybrid di wilayah Serpong, Senin (31/8). 

 

 Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan mengatakan, sayembara batik menjadi salah satu langkah pemerintah dalam menggali identitas kota melalui seni dan budaya. Menurutnya, sebuah kota tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga karakter yang dapat membedakannya dengan daerah lain.

 

 "Tangerang Selatan ini harus mencitrakan bahwa kota kita ini adalah kota yang humanis, kota yang inklusif, kota yang berdaya saing tinggi dan memiliki sumber daya manusia yang cukup," ujar Pilar.

 

 Ia mengatakan, Tangsel memiliki karakter yang berbeda dengan daerah lain yang telah lebih dahulu dikenal dengan kekhasan batiknya. Yogyakarta, Cirebon, hingga Tasikmalaya, misalnya, mempunyai corak dan filosofi yang berkembang sesuai sejarah serta karakter daerah masing-masing.

 

 Sementara Tangsel yang baru berdiri sebagai daerah otonom pada 2008 dinilai masih terus mencari dan membentuk identitasnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan sayembara batik dibuka secara luas, termasuk bagi desainer dari luar Tangsel.

 

 "Pemikiran-pemikiran dari luar saya persilakan untuk dikompetisikan bersama dengan para desainer yang ada di Tangerang Selatan. Ternyata desain batik tahun ini lebih menarik karena cakupannya lebih luas lagi, banyak orang-orang yang kompeten dan hebat dari luar Tangerang Selatan ikut bersaing," katanya.

 

 Menurut Pilar, keterlibatan peserta dari berbagai daerah sekaligus menunjukkan karakter Tangsel sebagai kota yang inklusif. Gagasan mengenai identitas kota tidak hanya harus lahir dari masyarakat setempat, tetapi dapat diperkaya oleh pemikiran dan kreativitas dari berbagai daerah.

 

 Dalam penjurian, terdapat sejumlah aspek yang menjadi pertimbangan. Mulai dari komposisi warna, bentuk dan pola, filosofi, kedalaman makna, sejarah, hingga kesesuaian desain dengan fungsi yang nantinya dapat diterapkan.

 

 Pilar yang turut menjadi salah satu juri mengatakan, penilaian dilakukan bersama sejumlah orang yang memiliki kompetensi di bidang desain dan batik.

 

 "Penilaiannya ya banyak. Kalau dari teori desain batik sendiri kita menghadirkan para juri, ahli. Tentu ada beberapa penilaian dari form follows function-nya, dari warnanya, dari filosofinya, ya, terus kedalaman maknanya, sejarahnya, itu semua menjadi penilaian-penilaian penting dalam sebuah desain seperti itu," jelasnya.

 

 Pilar menegaskan, desain yang menjadi pemenang tidak hanya berhenti sebagai karya dalam sayembara. Pemerintah Kota Tangsel sejak awal menetapkan desain pemenang menjadi hak milik pemerintah daerah agar dapat digunakan dan dikembangkan secara luas oleh masyarakat.

 

 "Kalau desain batik Tangsel itu menjadi hak milik daripada Pemerintah Kota Tangerang Selatan ya. Pemenangnya dari awal memang sudah ketentuannya seperti itu, supaya bisa masyarakat secara luas memproduksi ya. Siapapun silakan untuk memproduksi batik ini untuk diaplikasikan kepada berbagai macam apa fungsi, seperti baju dan lain sebagainya," ungkapnya.

 

 Dengan ketentuan tersebut, motif batik pemenang juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai unsur pemerintahan di tingkat wilayah. Kecamatan, kelurahan maupun perangkat daerah dapat memilih desain pemenang untuk digunakan sebagai motif batik dalam berbagai kebutuhan.

 

 Menurut Pilar, langkah tersebut penting agar karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif. Batik dinilai memiliki pasar yang luas dan peluang untuk diperkenalkan hingga ke tingkat internasional.

 

 "Ini merupakan bentuk support kami kepada para pelaku ekonomi kreatif supaya mereka memiliki ruang seluas-luasnya untuk merancang karyanya dan ditampilkan seperti itu," kata Pilar.

 

 Ia berharap sayembara yang telah digelar selama lima tahun tersebut dapat melahirkan lebih banyak desainer muda dan pelaku ekonomi kreatif, baik dari Tangsel maupun daerah lainnya.

 

 Pilar juga mengajak para peserta yang belum menjadi pemenang untuk tidak berhenti berkarya. Menurutnya, masuk dalam 10 besar dari 49 peserta sudah menunjukkan bahwa karya yang dihasilkan memiliki kualitas dan layak diapresiasi.

 

 "Ya harapannya banyak para desainer-desainer muda, banyak para pelaku ekonomi kreatif yang tumbuh di Tangerang Selatan dan di nasional. Kami memberikan ruang, memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkreasi," pungkasnya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit