TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum dan Kriminal

Advertorial

Indeks

Dewan Pers SinPo

Seks Bebas di Korea Selatan, Sisi Lain Pentas Drama

Oleh: Inayah Ramadanti
Sabtu, 03 Desember 2022 | 21:59 WIB
Pemandangan di Kota Seoul,  Korea Selatan.(Foto:Reuteurs/Heo Ran)
Pemandangan di Kota Seoul, Korea Selatan.(Foto:Reuteurs/Heo Ran)

FENOMENA pergaulan bebas di Korea Selatan sangat berbanding terbalik dengan norma kebiasaan masyarakat bagian Timur. Kemesraan yang diumbar menjadi hal yang sudah tidak dianggap tabu bagi masyarakat Korea Selatan. Hal ini sangat berbeda dengan drama Korea di mana pemerannya sangat setia dengan pasangannya, tapi fakta yang terjadi di lapangan tidak begitu. Banyak pasangan yang melakukan seks bebas sebagai jalan keluar agar terhindar dari tanggung jawab yang ada, seperti mengurus anak, finansial harus terpenuhi, memiliki tempat tinggal, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2021 di Korea Selatan mengalami penurunan angka populasi atau depopulasi masyarakat. Hal ini mengakibatkan angka kematian lebih tinggi daripada angka kelahiran. Kondisi ini diakibatkan karena mindset atau pola pikir remaja di Korea Selatan sangat takut dan tidak mempunyai semangat hidup lagi karena banyaknya tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh para remaja di sana. Contohnya di dalam dunia pendidikan mereka berkewajiban melaksanakan kegiatan belajar mengajar dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam.

Hal tersebut mengakibatkan penduduk Korea Selatan pada usia remaja sangat kecil dibanding usia tua menuju lansia, sehingga populasi lansia lebih mendominasi. Pemerintah Korea Selatan mengeluarkan kebijakan tentang angka kelahiran yang menurun dengan drastis. Ketidakseimbangan populasi remaja dan jumlah lansia yang terus bertambah mengakibatkan masalah baru di bidang ekonomi. Dalam isi kebijakannya pemerintah menginstruksikan untuk mendorong pasangan dapat menaikan akan fertilisasi dan juga ibu hamil diberikan tunjangan tunai serta bagi anak-anak yang berusia di bawah 12 bulan. Tapi langkah itu tak serta merta diterima oleh masyarakat karena keuangan yang dibutuhkan tidak sedikit dan menjadi beban negara. Sehingga, lebih memilih untuk melakukan aborsi.

Perlunya kebijakan politik yang tepat untuk mengatasi depopulasi di Korea Selatan seperti menanamkan nilai-nilai, norma, serta kebiasaan yang mengarah ke spiritual yaitu dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa, perlunya meningkatkan rasa malu antar laki-laki dan perempuan, memperbanyak ibadah dan yang terpenting juga adalah mengajarkan kepada masyarakatnya tentang sex education sejak dini.

Pentingnya pemahaman bahwa tindakan aborsi merupakan tindakan kejahatan dan dapat melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Berbicara mengenai HAM, Hak Asasi Manusia merupakan hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sejak manusia berada dalam kandungan sampai manusia meninggal dunia. Undang-Undang HAM termuat  dalam Pasal 9 ayat (1) yakni ketentuan tentang hak untuk hidup dan dalam Pasal 4 ditentukan bahwa hak untuk hidup termasuk hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun dan oleh siapa pun.

Adapun manfaat diberikannya sex education adalah untuk mengetahui informasi seksual bagi remaja, agar anak memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya, agar mengetahui faktor apa saja yang terjadi apabila timbulnya masalah seksualitas. Walau terkesan sangat berat dan menakutkan dalam mengajarkan sex education pada anak maupun remaja menjadi kewajiban setia orang tua agar terhindar dari masalah seksualitas seperti penyakit HIV/AIDS, kehamilan dini, kelahiran prematur, dan masih banyak lagi.

Adapun dampak negatif apabila pendidikan seksual tidak diterapkan dengan baik yakni bila materi yang disampaikan tidak diajarkan dengan benar akan menjadi ejekan dan menjadi sesuatu yang selalu mengalihkan perhatian. Untuk itu sebagai guru atau orang tua harus memahami betul dan ahli dalam pendidikan seksual sehingga informasi yang diberikan benar dan dapat dipahami oleh kalangan remaja.

Salah satu contoh kasus seksual di Indonesia adalah sering terjadi di area publik karena dalam tata cara berpakaian. Masih banyak perempuan yang mengenakan baju yang sangat terbuka dan dapat mengundang kaum adam melakukan tindak kejahatan seksual. Alternatif yang bisa dilakukan perempuan agar terhindar dari pelecehan tersebut adalah harus mengenakan pakaian yang sopan. Hal tersebut sudah dijelaskan dalam agama Islam untuk menggunakan hijab bagi perempuan yang sudah mengalami masa pubertas.(*)

*) Penulis merupakan mahasiswa tingkat III Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jakarta

Komentar:
Berita Lainnya
Dr. Muhadam Labolo, MSi. (Dok. Pribadi)
Substansi Demokrasi
Selasa, 24 Januari 2023
Dr. Muhadam Labolo, MSi.(Dok. Pribadi)
Membatasi Libido Kuasa Kepala Desa
Selasa, 24 Januari 2023
Kiki Iswara Darmayana
Ayo Cepat Buat Proyek Padat Karya
Sabtu, 21 Januari 2023
Dr. Muhadam Labolo, M.Si.(Dok. Pribadi)
Dilema Mekanisme Pemilu Legislatif
Minggu, 08 Januari 2023
KIKI ISWARA DARMAYANA
Super Hati-hati Di Tahun Sulit
Sabtu, 07 Januari 2023
GROUP RAKYAT MERDEKA
sinpo
sinpo
sinpo