BRIN Simulasikan Empat Skenario Darurat
Uji Kesiapsiagaan Nuklir Di Tangsel
SETU-Uji kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat di fasilitas nuklir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar latihan terpadu di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Jumat (23/10).
Latihan tersebut melibatkan sejumlah unsur pengamanan dan keselamatan dengan empat skenario utama, yakni gangguan keamanan dan pengendalian massa, kebakaran fasilitas yang mengharuskan penghentian operasi reaktor, sabotase dan pencurian zat radioaktif, serta pelepasan zat radioaktif yang membutuhkan dekontaminasi lingkungan dan penanganan korban.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BRIN memastikan kesiapan fasilitas yang masuk kategori Objek Vital Nasional (Obvitnas). Selain menguji penerapan prosedur operasional standar (SOP), latihan juga mengevaluasi koordinasi antartim, sistem proteksi kebakaran, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta kesiapan tim medis dalam menangani kondisi darurat.
Direktur Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran BRIN, R. Mohammad Subekti mengatakan, latihan diperlukan untuk memastikan seluruh personel memahami prosedur penanganan sesuai dengan potensi risiko di masing-masing area fasilitas.
“Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya menguji SOP, tetapi juga mengevaluasi kesiapan secara menyeluruh agar seluruh tim selalu siap menghadapi kemungkinan terjadinya keadaan darurat, meskipun kita tentu tidak mengharapkannya,” ujar Subekti, Jumat (23/10).
Menurutnya, evaluasi dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mitigasi dan memastikan penanganan keadaan darurat dapat berjalan efektif. Dengan begitu, risiko yang muncul di lingkungan fasilitas diharapkan bisa dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi ancaman bagi masyarakat sekitar.
Subekti menambahkan, pengelolaan risiko juga penting untuk mencegah penyalahgunaan bahan nuklir dan radioaktif, termasuk uranium yang digunakan di fasilitas tertentu. Kepatuhan terhadap prosedur pengamanan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keamanan kawasan sekaligus mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap BRIN.
Latihan tersebut turut melibatkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan pengamat internal BRIN, termasuk para periset. Hasil pengamatan dan penilaian selama kegiatan akan dirangkum dalam laporan untuk disampaikan kepada Bapeten.
Ketua Tim Pengelolaan Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy (RSG GAS) sekaligus Ketua Pelaksana Latihan, Dicky Tri Jatmiko menjelaskan, kegiatan tersebut mengacu pada Peraturan Kepala Bapeten Nomor 1 Tahun 2010 tentang Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Kedaruratan Nuklir.
Regulasi itu mengatur kewajiban pemegang izin fasilitas atau instalasi nuklir untuk melaksanakan latihan maupun gladi kedaruratan sesuai ketentuan yang berlaku.
.Dicky mengatakan, setiap skenario dirancang untuk menguji kemampuan personel dalam merespons situasi darurat, sekaligus menilai efektivitas komunikasi dan koordinasi antartim selama proses penanganan hingga kondisi dinyatakan terkendali.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemeliharaan fasilitas, sistem, struktur, dan komponen pendukung agar selalu berfungsi optimal. Menurutnya, kesiapan peralatan dan kepatuhan terhadap prosedur merupakan bagian penting dalam mencegah kecelakaan maupun keadaan darurat.
Sementara, Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian memberikan sejumlah catatan dalam evaluasi setelah latihan. Ia menekankan, perlunya pemeriksaan berkala terhadap sarana pemadam kebakaran, penyempurnaan SOP, serta penguatan koordinasi dengan aparat keamanan dan masyarakat di sekitar kawasan.
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian ialah hidran. Pemeriksaan rutin diperlukan untuk memastikan ketersediaan pasokan air, kelancaran aliran, dan kondisi jaringan pipa.
Selain itu, ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) perlu ditingkatkan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakteristik risiko kebakaran di setiap fasilitas, termasuk potensi kebakaran yang melibatkan bahan kimia.
Amarulla juga menyoroti perlunya penyempurnaan prosedur penanganan korban luka maupun korban yang diduga terkontaminasi zat radioaktif. Peningkatan kemampuan personel, menurutnya, perlu dilakukan secara bertahap melalui latihan dengan skenario yang semakin kompleks.
"Kalau sudah menghadapi spionase, ada prosedur yang lebih tinggi lagi. Kita akan bertahap. Nanti latihan lokasinya di depan lagi, prosedurnya ditambah, kemudian tingkat ancamannya meningkat dari sekadar pencurian menjadi spionase,” jelasnya.
.Untuk memperkuat kesiapsiagaan, BRIN juga menilai koordinasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam penanganan keadaan darurat. Kerja sama dengan kepolisian, TNI, pemerintah daerah, pemadam kebakaran, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diperlukan agar respons dapat dilakukan secara cepat dan terarah.
Ke depan, latihan direncanakan mencakup area di luar garis kuning, termasuk simulasi ancaman keamanan dan kebakaran yang melibatkan bahan kimia. Koordinator kawasan juga diminta menyusun jadwal latihan berkala di berbagai laboratorium agar setiap personel memahami prosedur kedaruratan sesuai dengan karakteristik fasilitas tempat mereka bertugas.(rmn)
Nasional | 1 hari yang lalu
Olahraga | 20 jam yang lalu
Olahraga | 22 jam yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu




