Hujan Redakan Asap Karhutla, 1.566 Hektare Lahan Masih Ditangani
KALIMANTAN – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan sejak Minggu (25/10/2026) mulai membantu mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, upaya pemadaman masih berlanjut karena 1.566 hektare lahan belum sepenuhnya tertangani.
Hujan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Warga pun berharap hujan dapat memulihkan kualitas udara setelah berbulan-bulan terdampak asap.
“Sangat bersyukur dengan turunnya hujan, asap kebakaran lahan bisa hilang dan bisa menghirup udara segar kembali,” kata Elem, warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (28/10/2026).
Hujan turut dipicu melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan TNI Angkatan Udara (TNI AU) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejumlah pesawat dikerahkan untuk menyemai awan di wilayah Kalimantan Tengah dan sekitarnya.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Penerbang Hilman LP Ambarita, mengatakan operasi tersebut berhasil memicu hujan deras pada 25–26 Oktober.
“Turunnya hujan adalah jawaban atas ikhtiar dan sinergi kita bersama di lapangan,” ujarnya.
Kualitas Udara Belum Pulih
Meski hujan mulai turun, kualitas udara belum membaik secara merata. Data BMKG periode 27–28 Oktober menunjukkan konsentrasi PM2.5 di sejumlah wilayah mulai menurun.
Namun, Palangka Raya masih berpotensi mengalami pencemaran tinggi pada 29–30 Oktober, dengan rata-rata konsentrasi diprakirakan mencapai 500,5 mikrogram per meter kubik.
BMKG memperkirakan hujan ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
1.566 Hektare Masih Ditangani
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Selasa (27/10/2026), luas lahan karhutla yang masih dalam penanganan mencapai 1.566 hektare. Rinciannya, 1.140 hektare di Kalimantan Tengah, 391 hektare di Kalimantan Barat, dan 35 hektare di Kalimantan Selatan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan penanganan terus diintensifkan melalui pengerahan personel, peralatan pemadam, dan operasi modifikasi cuaca.
Dukungan peralatan meliputi pompa pemadam, selang, alat pelindung diri, masker, drone, hingga alat berat.
BRIN Kembangkan Pemadam Berbahan Singkong
Selain pemadaman dan modifikasi cuaca, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan bahan pemadam berbasis pati singkong untuk meningkatkan efektivitas penanganan karhutla.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan uji coba bahan tersebut telah dikoordinasikan bersama TNI AU.
“Singkong yang merupakan produk lokal saat ini kita campur dengan APP tersebut dan kemudian bisa kita manfaatkan untuk mematikan api,” ujarnya.
BRIN juga mengembangkan teknologi CoSAT 1000 berbasis partikel higroskopis untuk mendukung penyemaian awan.
Meski hujan mulai membantu mengurangi dampak asap, pemadaman dan pemantauan tetap harus diintensifkan. Pasalnya, ribuan hektare lahan masih dalam penanganan dan kualitas udara di sejumlah wilayah belum sepenuhnya pulih.
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Politik | 2 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 3 hari yang lalu
Ekonomi Bisnis | 3 hari yang lalu




