TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

PORPROV 2026

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Gibran Gandeng Pakar Mobil Listrik Asia, Dorong Inovasi Teknologi RI

Reporter & Editor : AY
Kamis, 29 Oktober 2026 | 12:43 WIB
Wapres Gibran bertemu Prof. Ching-Chuen Chan, pakar kendaraan listrik yang dijuluki Bapak Mobil Listrik Asia. Foto ::£ st
Wapres Gibran bertemu Prof. Ching-Chuen Chan, pakar kendaraan listrik yang dijuluki Bapak Mobil Listrik Asia. Foto ::£ st

JAKARTA – Wakil Presiden Gibran Rakabuming mendorong penguatan riset dan inovasi kendaraan listrik di Indonesia. Hal itu dibahas saat Gibran bertemu Prof. Ching-Chuen Chan, pakar kendaraan listrik yang dijuluki Bapak Mobil Listrik Asia, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (28/10/2026).


Pertemuan tersebut membahas strategi pengembangan industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), mulai dari pemberian insentif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penguasaan teknologi dalam negeri.


Chan merupakan Distinguished Chair Professor of Electric Vehicles and Smart Energy di Hong Kong Polytechnic University. Meski berkiprah di tingkat internasional, akademisi tersebut lahir di Magelang, Jawa Tengah, dan menghabiskan lima tahun pertama kehidupannya di Indonesia.


Dalam pertemuan itu, Gibran menegaskan bahwa pengembangan kendaraan listrik, termasuk sepeda motor listrik, menjadi salah satu perhatian pemerintah. Industri nasional dinilai mulai berkembang, tetapi masih membutuhkan dukungan kebijakan untuk memperluas penggunaan kendaraan listrik di masyarakat.


“Industrinya sebenarnya sudah mulai melangkah maju. Jadi, kita tinggal melihat insentif apa yang bisa diberikan kepada konsumen,” ujar Gibran.


Ia menilai Indonesia memiliki sumber daya yang memadai untuk mendukung industri kendaraan listrik. Namun, kemampuan menciptakan teknologi sendiri masih perlu diperkuat agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi produk dan inovasi negara lain.


Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menambahkan, penguatan industri EV harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja dan penyesuaian kurikulum pendidikan tinggi.


Menurut Stella, perguruan tinggi tidak cukup hanya menyiapkan lulusan untuk memenuhi kebutuhan industri. Lembaga pendidikan juga harus berperan menghasilkan riset dan teknologi yang dapat dikembangkan di dalam negeri.


“Kementerian kami perlu mendorong perubahan kurikulum dan sertifikasi agar kita dapat memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik. Namun, kita juga harus memberikan perhatian besar pada pengembangan teknologi kita sendiri,” kata Stella.


Sementara itu, Chan menekankan pentingnya kerja sama Indonesia dan Tiongkok untuk mempercepat pengembangan mobilitas listrik. Kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan dinilai dapat membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk menghasilkan inovasi.


Namun, ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan teknologi impor. Penguasaan teknologi unggulan harus dibangun melalui investasi riset dan pengembangan yang berkelanjutan.


“Teknologi kelas satu harus kita bangun sendiri. Karena itu, dorong generasi muda untuk berinovasi. Teknologi tidak bisa sekadar dibeli,” tegas Chan.


Chan juga menilai insentif yang tepat diperlukan untuk mendorong anak muda berani menciptakan terobosan baru. Dukungan terhadap inovasi harus menjadi bagian penting dari strategi membangun industri kendaraan listrik nasional.


Dalam kesempatan yang sama, General Manager International Academicians Science and Technology Innovation Centre (IASTIC) Indonesia Adrianto Gani menyampaikan inisiatif untuk mendorong peralihan sepeda motor berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik. Pemanfaatan energi alternatif, termasuk tenaga surya, juga menjadi perhatian untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.


Pertemuan tersebut menegaskan bahwa pengembangan kendaraan listrik nasional tidak cukup hanya mengandalkan insentif dan penjualan produk. Penguatan riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan industri menjadi kunci agar Indonesia mampu menciptakan teknologi sendiri dan bersaing di pasar global.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit