Perkokoh Pertahanan Negara
Menhan Ajak Turki Kembangkan Alutsista
JAKARTA - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mempererat hubungan kerja sama dengan Turki. Hal ini dipastikan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan di kantornya, Jakarta, kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas sejumlah topik terkait hubungan bilateral kedua negara di bidang pertahanan. Prabowo mengatakan, Turki adalah negara sahabat yang penting dan telah lama bekerja sama di bidang pertahanan dalam kerangka bilateral.
Ia melihat, masih banyak ruang dan bidang kerja sama pertahanan yang dapat dimanfaatkan kedua negara di masa mendatang,” ujar Prabowo dalam keterangan resminya, kemarin.
Ketua Umum Partai Gerindra ini menilai, kerja sama kedua negara harus ditingkatkan dengan membangun rasa saling percaya. Kedua negara juga dapat bekerja sama meningkat kapasitas angkatan bersenjata maupun sektor industri pertahanan.
Indonesia dan Turki, kata Prabowo, saat ini memiliki dokumen kesepakatan kerja sama di bidang industri pertahanan yang ditandatangani sejak 2010. Hubungan erat antar kedua negara juga tercermin dari adanya forum dialog pertahanan antara Indonesia dan Turki (Defence Dialogue Meeting Indonesia-Turkiye) yang mulai berjalan sejak 2020.
“Jadi, kedua negara juga memiliki kerja sama penelitian dan pengembangan di bidang pertahanan,” tutur Ketua Umum Partai Gerindra ini.
Kerja sama yang telah dilaksanakan saat ini yaitu, penelitian dan pengembangan software defence radio antara Aselsan (Turki) dengan PT Wellracom Megahjaya dan PT LEN (Indonesia)
Selain itu, terdapat kerja sama penelitian dan pengembangan IFV-Infantry Fighting Vehicle antara FNSS (Turki) dan PT Pindad (Indonesia). Kedua negara juga memiliki kerja sama untuk peningkatan kapasitas industri pertahanan.
Bahkan jauh sebelumnya, kemitraan strategis Indonesia-Turki sudah dideklarasikan sejak 5 April 2011. Di antaranya, kontrak kerja sama jual beli antara Kemenhan dengan Havelsan, perusahaan software asal Turki, PT PAL, PT Noahtu Shipyard dan PT Tesco Indomaritim untuk sejumlah kegiatan. Seperti CMS Offishore Patrol Vessel (OPV) Warship, CMS Offshore Patrol Vessel (OPV) 90 M Warship, CMS (KCR) 90 M Warship, CMS Frigate Warship.
Selanjutnya, penandatanganan kontrak kerja sama jual beli antara Kemhan dengan Bogazici Savunma Teknolojileri, perusahaan Turki yang memproduksi sistem deteksi dan netralisasi drone.
Kerja sama pun disepakati untuk kegiatan Antidrone and Weapory. Berikutnya, penandatanganan kontrak kerja sama jual beli antara Kemrnhan dengan Tais Gemi Insa Ve Teknoloji AS asal Turki dengan kegiatan Kapal Cepat Rudal (KCR) Full Combat Mission.
Lalu terakhir, kerja sama jual beli antara Kemhan dengan Roketsan, Turkiye dan PT Noahtu Shipyard.
Pengamat militer dan pertahanan Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengapresiasi kerja sama antara Indonesia dan Turki.
Menurut Fahmi, untuk membantu dan mengembangkan industri pertahanannya, Indonesia harus terus membangun kolaborasi dengan banyak pihak.
Terutama, terkait teknologi alat utama sistem senjata (alutsista), target pemasaran, dan juga pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).
“Kita berharap kerja sama ini menjadi yang terbaik bagi Indonesia dan Turki. Apalagi, bagi Indonesia sendiri yang sedang berupaya mengembangkan industri pertahanan dan kemandirian alutsista,” harapnya.
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 14 jam yang lalu