TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Jadwal Imsak
Dewan Pers

Ribuan WNI Terjebak Tak Bisa Pulang Ke Tanah Air

Reporter: Farhan
Editor: AY
Rabu, 04 Maret 2026 | 09:58 WIB
Ilustrasi jamaah yang masih belum bisa pulang ke Indonesia. Foto : Ist
Ilustrasi jamaah yang masih belum bisa pulang ke Indonesia. Foto : Ist

JAKARTA - Perang terbuka antara Amerika Serikat-Israel vs Iran Iran tak cuma mengguncang Timur Tengah. Ribuan WNI di berbagai negara terjebak dan tidak bisa pulang ke tanah air imbas lumpuhnya penerbangan internasional. Tiket di tangan, koper sudah siap, tapi pesawat tak kunjung terbang. 

 

Hingga Selasa (3/3/2026), perang Iran vs Israel yang dibantu AS masih berlangsung sengit. Rudal-rudal yang ditembakan oleh negara yang berperang, membuat langit di Timur Tengah merah menyala. Bangunan hancur, infrastruktur rusak, dan korban jiwa terus berjatuhan. 

Apalagi dalam serangan balasannya, Iran tak hanya menarget Israel. Rudal Iran turut menyasar sejumlah markas militer AS yang berada di beberapa negara Timur Tengah.

 

Serangan itulah yang membuat beberapa negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, hingga Bahrain ikut terguncang. 

 

Banyaknya rudal yang lalu-lalang di langit Timur Tengah, membuat maskapai penerbangan komersil takut terbang. Sejumlah maskapai global menghen­tikan sementara penerbangan ke wilayah terdampak. Di antaranya Malaysia Airlines, Air France, Lufthansa, Singapore Airlines, hingga Emirates. 

 

Rute-rute vital seperti Dubai, Doha, Oman, Jeddah, Madinah, Beirut, hingga Abu Dhabi ikut terdampak. Kekhawatiran paling terasa di Uni Emirat Arab. 

Salah satunya dialami Yuliana Masi, asisten rumah tangga asal Flores Timur, NTT, yang bekerja di Dubai. “Kami belum bisa pulang karena Bandara Dubai masih tutup dan belum buka sampai hari ini,” ujarnya, Selasa (3/3/2026). 

 

Menurut Yuliana, situasi mulai terasa mencekam sejak Sabtu siang sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Meski begitu, kondisi keamanan masih terkendali. Pusat perbelanjaan tetap buka dengan pengamanan ketat. Anak-anak belajar daring dari rumah. Pekerja diminta membatasi aktivitas luar ruang.

 

Bukan hanya pekerja migran. Figur publik Indonesia juga ikut terdampak. Pasangan artis Meisya Siregar dan Bebi Romeo yang tengah menjalankan ibadah umrah ikut tertahan. Kepulangan mereka batal karena penutupan wilayah udara. 

“Trus, nasib kita gimana ini pesawat di-cancel ga bisa pulang??? Airspace UEA closed untuk waktu yang ga pasti,” tulis Meisya di Instagram. 

 

Pejabat negara pun tak luput. Wakil Menteri HAM Mugiyanto terdampar di Doha, Qatar. Ia sudah tiga hari tertahan saat hendak menuju Jenewa untuk menghadiri sidang Dewan HAM PBB. 

“Kami hanya bisa berharap ruang udara segera dipulihkan dan perdamaian bisa terwujud,” ujarnya dari Doha, Selasa (3/3/2026). 

 

Menurutnya, lebih dari 100 WNI terdampar di Bandara Internasional Hamad, Doha. Selain di Qatar, ratusan WNI juga tertahan di Dubai, Kuwait, Arab Saudi, dan Bahrain. 

 

Kita semua tidak bisa terbang, tidak bisa melanjutkan perjalanan,” katanya. 

Pemerintah tak tinggal diam. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin memastikan manajemen krisis langsung diaktifkan sejak awal eskalasi konflik. Pemantauan dilakukan setiap hari bersama Kementerian Luar Negeri dan seluruh perwakilan RI di kawasan terdampak. 

“Negara tidak menunggu situasi memburuk,” tegasnya. 

 

Kementerian P2MI membentuk Tim Crisis Monitoring Geopolitik untuk memperbarui data pekerja migran Indonesia (PMI), termasuk pemetaan zona berisiko tinggi. 

 

PMI diminta menjauhi lokasi konflik dan segera berpindah ke tempat aman bila diperlukan. Kanal pengaduan juga diperkuat, mulai dari laporan ancaman keamanan hingga permintaan repatriasi. 

Koordinasi intensif dilakukan dengan KBRI di Teheran, Riyadh, Doha, dan Abu Dhabi. Pemerintah juga menyiapkan berbagai skenario, termasuk simulasi evakuasi dan opsi penghentian sementara penempatan PMI ke wilayah berisiko. 

 

“Kami menyiapkan berbagai skenario berbasis informasi faktual dan prinsip kehati-hatian,” kata Mukhtarudin. 

WNI di Iran Masih Aman 

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Iran Rolliansyah Soemirat memastikan belum ada laporan WNI yang menjadi korban serangan. 

 

Data terakhir KBRI Teheran mencatat 329 WNI berada di Iran. Enam orang untuk sementara ditampung di kompleks KBRI demi alasan keamanan. 

 

Sudah ada beberapa WNI yang kami tampung di KBRI seadanya demi keamanan. Jadi tidak harus karena ada ancaman langsung,” kata Roy, sapaan akrabnya. 

 

Meski situasi di Teheran masih dinamis dan ketegangan terasa, seluruh WNI dilaporkan dalam keadaan baik. KBRI mengimbau WNI membatasi aktivitas luar rumah, tidak terlibat demonstrasi, dan segera mencari perlindungan bila situasi memburuk.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit