Imbas Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Harga Minyak Dunia Turun
JAKARTA – Harga minyak dunia melemah pada Senin, 5 Januari 2026, menyusul operasi militer Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026) dini hari. AFP melaporkan, penurunan harga minyak yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir ini turut dipicu oleh potensi meningkatnya pasokan minyak Venezuela ke pasar global, sehingga memicu kekhawatiran kelebihan pasokan.
Dalam perdagangan pagi di Asia, harga minyak Brent turun 0,21 persen menjadi 60,62 dolar AS per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,35 persen ke level 57,12 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi meski kedua kontrak acuan tersebut telah pulih dari titik terendah sebelumnya.
Kekhawatiran pasar meningkat setelah mantan Presiden AS Donald Trump memastikan Amerika Serikat akan memimpin proses transisi di Venezuela dan mengambil alih pengelolaan sektor minyak negara tersebut pascapenangkapan Maduro dan istrinya.
Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida, Sabtu (3/1/2026), Trump menyatakan akan segera mengirim perusahaan-perusahaan minyak besar AS untuk masuk ke Venezuela dan menginvestasikan miliaran dolar AS.
Investasi tersebut, menurut Trump, akan difokuskan pada perbaikan infrastruktur minyak yang rusak parah guna mengoptimalkan produksi di negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia itu.
Venezuela, yang selama bertahun-tahun terjerat sanksi internasional dan minim investasi, saat ini hanya memproduksi sekitar 1 juta barel minyak per hari. Angka tersebut jauh merosot dibandingkan produksi sekitar 3,5 juta barel per hari pada 1999.
Meski demikian, para analis menilai peningkatan produksi minyak Venezuela secara signifikan tidak akan terjadi dalam waktu singkat. “Setiap pemulihan produksi akan membutuhkan investasi besar, mengingat kondisi infrastruktur yang runtuh akibat bertahun-tahun salah urus dan kurangnya investasi,” ujar analis UBS, Giovanni Staunovo, kepada AFP.
Selain itu, berinvestasi di sektor minyak saat ini dinilai kurang menarik. Harga minyak masih tertekan oleh kondisi kelebihan pasokan global dan tren penurunan sepanjang 2025. Faktor lain seperti perang tarif yang dipicu kebijakan Trump serta konflik berkepanjangan di Ukraina juga terus menjadi penghambat signifikan bagi pertumbuhan ekonomi global.
TangselCity | 16 jam yang lalu
TangselCity | 23 jam yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
TangselCity | 19 jam yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 2 hari yang lalu
Nasional | 21 jam yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu



