Warga Binaan Perempuan Rutan Pandeglang Hasilkan Cuan
Kembangkan Keterampilan Berbagai Produk UMKM
PANDEGLANG - Warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kabupaten Pandeglang, telah diberi bekal keterampilan dalam mengembangkan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Bahkan, dari hasil keterampilan yang didapat oleh 10 warga binaan perempuan tersebut, telah bernilai ekonomi atau telah menghasilkan cuan atau telah diberi premi oleh pihak Rutan Kelas IIB Pandeglang. Program itu sesuai langkah konkret dalam mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas).
Kepala Rutan Kelas IIB Pandeglang, Achmad Zaki mengatakan, kegiatan pemberdayaan difokuskan pada pembuatan beragam aksesoris, seperti gelang manik-manik, gantungan kunci, serta kerajinan rajut berupa peci, topi bayi, dan tas.
“Program ini sejalan dengan arahan Kemenimipas terkait penguatan UMKM di lingkungan pemasyarakatan, warga binaan tidak hanya dibekali keterampilan, tetapi juga memperoleh premi dari hasil produksi mereka,” kata Achmad Zaki, Senin (12/1).
Premi atau upah tersebut jelasnya, dapat dimanfaatkan sebagai tabungan keluarga maupun bekal bagi warga binaan saat kembali ke masyarakat. Ia berharap produk-produk hasil karya warga binaan perempuan dapat diterima oleh masyarakat luas.
“Dukungan dan antusiasme pembeli menjadi motivasi tersendiri bagi warga binaan. Mereka merasa tetap berguna dan mampu membantu keluarga meski sedang menjalani masa pidana,” katanya.
Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (KPR) Pandeglang, Iis Yutapiah menambahkan, pembinaan keterampilan dilakukan secara terjadwal setiap hari Jumat. Kegiatan tersebut melengkapi agenda pembinaan rutin lainnya, seperti olahraga, pengajian, dan kesenian degung.
Selain kerajinan tangan, warga binaan perempuan juga memproduksi komoditas pangan lokal berupa camilan opak dan emping khas Pandeglang. Produk-produk tersebut saat ini telah dipasarkan secara internal melalui koperasi untuk pengunjung dan pegawai Rutan.
“Namun, pemasaran masih terbatas. Target pasar sejauh ini didominasi keluarga warga binaan serta pesanan terbatas dari instansi luar melalui sistem pre-order,” ungkapnya.
Ia berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun sektor swasta agar produk hasil karya warga binaan dapat menembus pasar UMKM di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
“Kami masih mencari celah pemasaran melalui UMKM di luar, baik tingkat kabupaten maupun nasional,” katanya.
Menurut Iis, partisipasi masyarakat dalam membeli produk karya warga binaan sangat krusial sebagai bentuk dukungan nyata terhadap proses reintegrasi sosial. Hal tersebut dinilai mampu mengikis stigma negatif terhadap mantan narapidana melalui bukti nyata karya dan kemandirian ekonomi.
Di sisi lain, salah seorang warga binaan perempuan berinisial Mawar (nama samaran) mengaku, bangga dengan keterampilan merajut yang diperolehnya selama satu tahun mengikuti pembinaan di Rutan. Kata Mawar, sebelumnya tidak memiliki kemampuan menganyam, namun kini mampu memproduksi tas, dompet, hingga peci secara mandiri.
“Nanti kalau sudah bebas, saya ingin melanjutkan usaha ini. Saya akan tunjukkan hasil karya saya ke teman-teman. Kalau tertarik, mereka bisa pesan sesuai model dan ukuran,” katanya.
Mawar menambahkan, keterampilan baru tersebut menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi kuat untuk membangun usaha mandiri saat kembali ke masyarakat. Menurutnya, bekal keterampilan ini sangat bermanfaat sebagai modal awal untuk memulai kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 1 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Pos Banten | 1 hari yang lalu


