TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Dewan Pers

Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam Akibat Konflik di Selat Hormuz

Reporter & Editor : AY
Minggu, 08 Maret 2026 | 16:01 WIB
Kapal Tanker Pertamina. Foto : Ist
Kapal Tanker Pertamina. Foto : Ist

JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak tajam dalam sepekan terakhir setelah konflik yang melibatkan Iran mengganggu jalur pengiriman energi global di Selat Hormuz. Pada Jumat (7/3/2026), harga minyak Amerika Serikat mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pertengahan 1980-an.

 

Gangguan ini terjadi karena aktivitas pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi minyak dunia—hampir berhenti total sejak konflik pecah sekitar satu minggu lalu.

 

Minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik lebih dari 38 persen dibandingkan sebelum konflik dimulai dan sempat menyentuh sekitar 92 dolar AS per barel. Sementara minyak acuan global Brent meningkat sekitar 30 persen hingga diperdagangkan di atas 94 dolar AS per barel.

 

Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak global. Sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia melalui laut biasanya melewati Selat Hormuz.

Data Vortexa menunjukkan sekitar 16 juta barel minyak tertahan di kawasan Teluk Persia karena kapal tanker tidak dapat melanjutkan perjalanan. Situasi ini membuat sejumlah negara produsen mulai mengurangi produksi.

 

Irak dilaporkan telah memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari. Jika jalur Selat Hormuz tetap tidak dapat dilalui, analis memperkirakan pemangkasan produksi global bisa terus meningkat dalam beberapa hari ke depan.

 

Selain jalur distribusi, sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah juga dilaporkan terdampak serangan, termasuk kilang minyak dan kompleks LNG yang memiliki peran penting dalam rantai pasok energi dunia.

 

Para analis menilai pasar minyak masih sangat rentan terhadap perkembangan konflik. Jika ketegangan berlanjut dan Selat Hormuz tetap terganggu, harga minyak berpotensi terus naik dan bahkan bisa menembus 150 dolar AS per barel.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit