TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

RAMADAN

Indeks

Dewan Pers

Dilema Harga BBM: Antara Menjaga Daya Beli dan Menyelamatkan Masa Depan Fiskal

Reporter & Editor : AY
Jumat, 10 April 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA - Kembali mencuatnya wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuka perdebatan klasik dalam kebijakan ekonomi: mempertahankan daya beli masyarakat atau menjaga kesehatan fiskal negara. Usulan ini mengemuka setelah mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pengurangan subsidi energi.

 

Menurut JK, beban subsidi BBM yang terus membengkak, terutama di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik, berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu peningkatan utang negara yang pada akhirnya juga menjadi beban masyarakat.

 

“Kita perlu mempertimbangkan pengurangan subsidi. Konsekuensinya memang harga akan naik, tapi ini bagian dari upaya menjaga kesehatan fiskal,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, kebijakan serupa bukan hal baru. Dalam situasi tertentu di masa lalu, pemerintah pernah menaikkan harga BBM dan tetap dapat diterima publik, asalkan disertai komunikasi yang transparan dan argumentasi yang kuat.

Masukan Konstruktif, Bukan Sekadar Kritik

 

Peneliti Politika Research & Consulting, Nurul Fata, menilai pandangan JK sebagai masukan yang konstruktif dan relevan. Ia mengingatkan bahwa pemerintah perlu mulai keluar dari pendekatan kebijakan energi yang terlalu populis.

 

“Ini bukan sekadar kritik, melainkan peringatan agar pemerintah lebih realistis. Kenaikan BBM bukan sesuatu yang mustahil diterima masyarakat, selama disampaikan secara jujur dan terbuka,” jelasnya.

 

Menurutnya, pengalaman menunjukkan bahwa masyarakat cenderung rasional dalam merespons kebijakan, selama mereka memahami urgensi dan tujuan di balik keputusan tersebut.

 

Risiko Politik vs Keberlanjutan Ekonomi

Namun, wacana ini tidak lepas dari kritik. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, menilai kenaikan harga BBM berisiko menambah tekanan bagi masyarakat, terutama ketika kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.

 

Perdebatan ini mencerminkan dilema mendasar: kebijakan yang berpihak pada stabilitas jangka pendek sering kali berbenturan dengan kebutuhan menjaga keberlanjutan fiskal dalam jangka panjang.

 

Nurul Fata menilai pemerintah tidak seharusnya terjebak pada kekhawatiran berlebihan terhadap reaksi publik. Kepemimpinan, menurutnya, justru diuji melalui keberanian mengambil keputusan strategis, meski tidak selalu populer.

 

Mencari Titik Keseimbangan

 

Pada akhirnya, isu kenaikan harga BBM bukan sekadar persoalan angka atau kebijakan teknis. Ini adalah tentang arah besar ekonomi nasional—apakah tetap bertumpu pada subsidi sebagai bantalan jangka pendek, atau mulai bertransisi menuju kebijakan fiskal yang lebih sehat dan berkelanjutan.

 

Kunci dari semua itu terletak pada keseimbangan: menjaga stabilitas sosial dan politik, memastikan keberlanjutan fiskal, serta membangun kepercayaan publik melalui transparansi dan komunikasi yang efektif.

 

Dalam konteks ini, peran tokoh seperti Jusuf Kalla menjadi penting sebagai penyeimbang dalam ruang demokrasi—memberikan perspektif kritis sekaligus mendorong pemerintah untuk mengambil keputusan yang berpijak pada kepentingan jangka panjang.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit