Strategi Dua Arah Prabowo: Saat di Rusia, Menhan Bergerak di AS Demi Kepentingan Nasional
AS – Presiden Prabowo Subianto menunjukkan langkah diplomasi aktif dengan memainkan strategi dua arah di tengah dinamika geopolitik global. Saat dirinya melakukan kunjungan ke Rusia, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin justru berada di Amerika Serikat.
Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga dan mengamankan kepentingan nasional tanpa berpihak pada blok kekuatan tertentu.
Dalam kunjungannya ke Moskow pada Senin (13/4/2026), Prabowo bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin.
Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama bilateral di berbagai sektor strategis, mulai dari energi, pertanian, industri, hingga farmasi dan pertahanan.
Putin menyatakan kesiapan Rusia untuk memperluas kerja sama, termasuk di bidang pendidikan militer. Menanggapi hal itu, Prabowo menegaskan bahwa sejumlah kerja sama telah berjalan dengan baik dan akan terus dipercepat implementasinya.
“Kami perlu memperkuat konsultasi untuk menghadapi tantangan ke depan, khususnya di bidang ekonomi dan energi,” ujar Prabowo.
Setelah dari Rusia, Prabowo melanjutkan lawatan ke Prancis untuk bertemu Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée. Agenda pembahasan mencakup kerja sama pertahanan, energi terbarukan, infrastruktur, pendidikan, hingga isu perubahan iklim.
Di waktu yang hampir bersamaan, Menhan Sjafrie melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon, Washington D.C. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan peningkatan hubungan pertahanan menjadi Major Defense Cooperation Partnership (MDCP).
Kerja sama ini meliputi tiga pilar utama: modernisasi alutsista dan pembangunan kapasitas militer, peningkatan pendidikan serta pelatihan profesional, dan penguatan kerja sama operasional melalui latihan bersama.
Kedua negara juga sepakat meningkatkan kompleksitas latihan militer, termasuk Super Garuda Shield, guna memperkuat interoperabilitas dan kesiapan tempur. Selain itu, program International Military Education and Training (IMET) akan diperluas untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pertahanan Indonesia.
Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa seluruh kerja sama tersebut tetap berada dalam koridor politik luar negeri bebas aktif serta menjunjung tinggi prinsip kedaulatan dan kepentingan nasional.
Pengamat militer Khairul Fahmi menilai, langkah Prabowo dan Sjafrie bukan sekadar diplomasi biasa, melainkan strategi membaca arah dunia di tengah ketidakpastian global.
“Indonesia tidak sedang memilih kubu, tetapi memperkuat fondasi nasionalnya—mulai dari energi, pangan, hingga kapasitas kepemimpinan,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat kebijakan publik Eko Wahyuanto melihat langkah ini sebagai upaya menjaga keseimbangan posisi Indonesia di antara kekuatan besar dunia. Ia menegaskan bahwa hubungan dengan Washington dan Moskow justru memperkuat posisi tawar Indonesia.
“Indonesia tidak berpihak, tetapi memilih jalan kedaulatan dan kesetaraan,” tegasnya.
Selain itu, kerja sama dengan Rusia juga membuka peluang investasi strategis, termasuk pengembangan kilang minyak dan energi nuklir untuk tujuan damai seperti Small Modular Reactor (SMR).
Namun, Guru Besar Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengingatkan adanya potensi tekanan dari negara Barat terkait kerja sama energi dengan Rusia.
Meski demikian, langkah diplomasi dua arah ini dinilai sebagai strategi realistis Indonesia dalam menjaga stabilitas nasional di tengah persaingan global yang kian kompleks.
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu


