Hewan Kurban Wajib Bersertifikasi Veteriner
SERANG – Dalam rangka menyambut hari raya Idul Adha, Pemerintah Provinsi Banten terus memperketat pengawasan lalu lintas hewan kurban. Langkah ini diambil guna menjamin kelayakan dan kesehatan hewan yang masuk ke wilayah Banten.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, M Nasir mengaku telah menyiapkan langkah-langkah strategis dalam menghadapi hari raya kurban tersebut.
Pengawasan ini, kata dia, difokuskan pada pemeriksaan fisik dan dokumen pendukung hewan kurban yang akan diperjual-belikan.
"Tim kesehatan hewan dan Kesmavet (Kesehatan Masyarakat Veteriner)
nanti akan melakukan langkah-langkah untuk menjamin agar hewan kurban yang ada di wilayah Banten ini aman ya," ujarnya, Senin (27/4).
Mengingat tingginya permintaan, banyak hewan kurban yang didatangkan dari luar daerah Banten. Oleh karena itu, pemerintah menegaskan bahwa setiap hewan yang masuk wajib disertai dokumen kesehatan resmi.
"Hewan yang masuk itu harus memiliki sertifikasi veteriner yang biasanya dikeluarkan oleh dokter hewan setempat," tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa aturan ini bersifat mutlak dan tidak ada toleransi. Dia menekankan agar para pengelola lapak hewan kurban dapat memenuhi dan mengikuti aturan dokumen tersebut.
"Surat keterangan dari dokter itu wajib ada. Kalau tidak, nggak boleh (masuk Banten, red), ya ditolak," tambahnya.
Pemerintah, kata dia, telah menjadwalkan monitoring intensif ke berbagai lapak penjualan hewan kurban di kabupaten dan kota hingga tanggal 25 Mei mendatang. Dalam monitoring itu, tim kesehatan akan turun langsung untuk memantau kondisi fisik hewan guna mengantisipasi penyebaran penyakit, termasuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang selama ini menjadi perhatian utama.
Meskipun tidak ada pos pemeriksaan khusus, koordinasi antara dokter hewan setempat dan petugas lapangan akan ditingkatkan untuk memastikan seluruh jalur distribusi terpantau dengan baik.
"Beberapa penyakit ya termasuk kita juga mengantisipasi PMK, kan penyakit itu yang selama ini menjadi persoalan. Mudah-mudahan tidak ada. Sejauh ini aman, tetapi kita harus waspada," ujarnya.
Nasir menerangkan, tingginya kebutuhan hewan kurban di Banten, yang mencapai puluhan ribu ekor, membuat provinsi ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Garut dan wilayah Jawa Barat lainnya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan populasi ternak lokal dibandingkan dengan besarnya permintaan pasar, terlebih dengan posisi Banten yang dekat dengan Jakarta.
Selain melakukan pengawasan, pemerintah juga terus mendorong pengembangan populasi ternak di Banten melalui berbagai program, termasuk fasilitasi kepada masyarakat dan program pokok pikiran (pokir) dewan berupa bantuan domba dan kambing.
"Diharapkan ke depannya, ketersediaan hewan kurban dapat dipenuhi secara mandiri oleh peternak lokal guna mencukupi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat setiap tahunnya," tandasnya.
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Nasional | 3 jam yang lalu
Selebritis | 2 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu
TangselCity | 3 hari yang lalu


