TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Hati-hati Hantavirus, Virus Mematikan yang Perlu Diwaspadai

Reporter & Editor : AY
Minggu, 10 Mei 2026 | 08:08 WIB
Evakuasi penumpang KM Pesiar MV Hondius yang terpapar virus. Foto : Ist
Evakuasi penumpang KM Pesiar MV Hondius yang terpapar virus. Foto : Ist

JAKARTA - Kematian tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat hantavirus menggegerkan dunia internasional. Menyikapi ancaman virus berbahaya tersebut, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin langsung berkoordinasi dengan World Health Organization guna memperkuat sistem skrining dan pengawasan di Indonesia.


Berdasarkan penjelasan WHO, hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus, tupai, hamster, dan marmut. Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering. Seseorang juga bisa tertular setelah menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.


Virus ini dapat menyebabkan dua penyakit serius, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome yang menyerang paru-paru serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome yang menyerang ginjal.


Gejala awal hantavirus mirip flu biasa, seperti demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, lemas, mual, muntah, diare, hingga nyeri perut. Namun dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, tekanan darah menurun drastis, gangguan jantung, hingga gagal organ yang berujung kematian.


Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pemerintah kini fokus memperkuat deteksi dini dan sistem surveilans untuk mencegah penyebaran virus lebih luas di Indonesia.


“Virus ini cukup berbahaya. Kami sudah berkoordinasi dengan WHO untuk mendapatkan panduan skrining,” ujar Menkes di Gedung Kemenkes, Kamis (7/5/2026).


Pemerintah juga tengah menyiapkan kemungkinan penggunaan rapid test dan reagen PCR guna mempercepat proses pemeriksaan. Menurut Menkes, Indonesia kini memiliki kesiapan laboratorium yang jauh lebih baik karena kapasitas mesin PCR meningkat sejak pandemi Covid-19.


Meski demikian, pemerintah memastikan penyebaran hantavirus saat ini masih terbatas pada klaster kapal pesiar MV Hondius dan belum meluas ke wilayah lain.


Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya 23 kasus hantavirus dalam tiga tahun terakhir dengan tiga kematian. Seluruh kasus tersebut merupakan jenis Seoul virus, berbeda dengan Andes virus yang ditemukan pada kasus kapal pesiar MV Hondius.


Kasus hantavirus di Indonesia tersebar di sejumlah wilayah, antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.


Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengingatkan kemungkinan munculnya lebih banyak kasus karena masa inkubasi Andes virus dapat mencapai enam minggu.


Sementara itu, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, menilai kasus hantavirus di kapal pesiar tersebut sudah menjadi isu kesehatan global yang harus diwaspadai semua negara, termasuk Indonesia.


Ia juga menyoroti angka kematian hantavirus di Indonesia yang mencapai 13 persen, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata Asia yang berada di bawah 5 persen.


“Angka kematian 13 persen di negara kita jelas menjadi alarm penting,” tegasnya.


Untuk mencegah penularan hantavirus, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah rumah menjadi sarang tikus. Selain itu, gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus, hindari kontak langsung dengan hewan pengerat, serta simpan makanan dalam wadah tertutup rapat.


Menutup lubang atau celah di rumah juga penting dilakukan agar tikus tidak mudah masuk dan berkembang biak.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit