TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Tabungan Jumbo Rp5 Miliar ke Atas Melonjak Saat Krisis, Orang Kaya Pilih “Parkir” Uang di Bank

Reporter: Farhan
Editor: AY
Minggu, 10 Mei 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi. Foto : Ist
Ilustrasi. Foto : Ist

JAKARTA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, simpanan nasabah dengan saldo jumbo justru mengalami lonjakan signifikan. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, tabungan dengan saldo di atas Rp5 miliar tumbuh 21,6 persen secara tahunan pada Maret 2026.


Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan, gejolak ekonomi global sejauh ini belum memengaruhi perilaku masyarakat dalam menyimpan dana di perbankan.


“Behavior simpanan masyarakat masih cukup kuat,” ujar Anggito dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).


Menurutnya, tingginya pertumbuhan simpanan jumbo turut dipengaruhi penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di bank-bank Himbara. Namun, tanpa memasukkan dana SAL sekalipun, pertumbuhan simpanan kelompok atas tetap menunjukkan tren kuat.


Di sisi lain, simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta juga masih tumbuh, meski jauh lebih rendah. Per Mei 2026, kelompok ini tercatat naik 1,84 persen.


Dari komposisi total simpanan nasional, rekening di bawah Rp100 juta hanya menyumbang 11,26 persen. Sementara simpanan di atas Rp5 miliar mendominasi hingga 57,88 persen dari total dana simpanan perbankan nasional.


Secara keseluruhan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada Maret 2026 tumbuh 13,57 persen.


Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, lonjakan tabungan kelompok atas mencerminkan sikap defensif pelaku usaha dan pemilik modal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Yusuf, banyak pemilik modal kini lebih memilih menempatkan dana pada instrumen yang aman dan likuid dibanding mengambil risiko investasi.
“Kelompok atas masih punya kapasitas menyimpan dan mempertahankan aset, sementara kelas menengah dan bawah mulai tertahan,” ujarnya kepada Redaksi, Jumat (8/5/2026).


Ia menjelaskan, deposito dan instrumen likuid perbankan menjadi pilihan utama karena dianggap lebih aman di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
“Secara sederhana, kelompok atas sekarang lebih memilih menjaga likuiditas daripada mengambil risiko,” tambahnya.


Pandangan serupa disampaikan Ekonom Senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin. Menurutnya, kenaikan simpanan orang kaya dipicu perpindahan dana dari pasar modal maupun aktivitas usaha ke sektor perbankan.


Fenomena ini, kata Wijayanto, menunjukkan dunia usaha masih menerapkan strategi wait and see di tengah tekanan ekonomi global.


“Pelaku usaha cenderung menahan ekspansi dan memilih menyimpan dana di bank sambil menunggu kondisi ekonomi lebih stabil. Banyaknya uang diparkir di bank sementara pertumbuhan kredit melambat menunjukkan aktivitas ekonomi sedang melambat,” katanya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit