TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Cegah Anak Terpapar Judi Online

Mendikdasmen Perkuat Literasi Digital di Sekolah

Reporter & Editor : AY
Kamis, 21 Mei 2026 | 08:36 WIB
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada acara Penggunaan teknologi digital dan pembatasan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun,” ujar Mu’ti di Islamic Center Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5/2026). Foto : Ist
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada acara Penggunaan teknologi digital dan pembatasan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun,” ujar Mu’ti di Islamic Center Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5/2026). Foto : Ist

JAKARTA - Pemerintah semakin serius menangani maraknya judi online yang kini mulai menyasar anak-anak. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan penguatan literasi digital di sekolah menjadi langkah utama untuk melindungi generasi muda dari ancaman tersebut.


Langkah ini diambil setelah Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat hampir 200 ribu anak Indonesia terpapar judi online. Yang lebih memprihatinkan, sekitar 80 ribu di antaranya masih berusia di bawah 10 tahun.


Menurut Mu’ti, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Kemendikdasmen bersama sejumlah kementerian dan lembaga telah menandatangani kesepakatan bersama untuk memperkuat pengawasan penggunaan teknologi digital pada anak.


“Kami sudah menandatangani kesepakatan bersama enam kementerian, termasuk dengan Kapolri, terkait penggunaan teknologi digital dan pembatasan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun,” ujar Mu’ti di Islamic Center Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5/2026).


Sebagai langkah konkret, Kemendikdasmen akan memasukkan materi bahaya judi online ke dalam program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Edukasi tersebut ditujukan agar siswa baru memahami risiko dunia digital sejak dini.


“Melalui program MPLS, siswa akan diberikan penyuluhan mengenai bahaya judi online bagi anak-anak sekolah,” katanya.

 

Mu’ti menjelaskan, banyak anak terjerumus judi online karena minim pemahaman tentang risiko dunia digital. Awalnya mereka hanya bermain gim daring, namun kemudian diarahkan ke situs judi online melalui tautan maupun iklan digital.


“Sebagian anak terpapar karena tidak memahami bahayanya. Mereka awalnya bermain game, lalu tersesat ke situs judi online,” jelasnya.


Selain rendahnya literasi digital, faktor lingkungan dan kondisi sosial juga dinilai turut memengaruhi anak terpapar judi online. Karena itu, pemerintah terus memperkuat edukasi dan pengawasan secara berkelanjutan.


“Kami terus memberikan penyuluhan agar anak-anak dan masyarakat semakin sadar terhadap bahaya judi online,” tambahnya.


Kemendikdasmen juga memperkuat empat ekosistem pendidikan, yakni sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Keempat unsur tersebut dinilai harus bergerak bersama agar anak-anak tidak mudah terpapar konten negatif di internet.


“Penguatan empat ekosistem pendidikan ini penting agar anak-anak terlindungi dari judi online yang kini menjadi masalah sangat serius,” tegas Mu’ti.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai memperketat penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun sebagai bagian dari langkah perlindungan digital anak.


Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menilai paparan judi online terhadap anak sudah berada pada level yang mengkhawatirkan.

 

Menurut Meutya, judi online bukan sekadar permainan digital, melainkan ancaman serius bagi masa depan generasi muda.


“Judi online adalah scam yang membuat pemain hampir selalu rugi dalam jangka panjang,” ujarnya.


Ia menegaskan, dampak judi online tidak hanya merusak kondisi psikologis anak, tetapi juga dapat menghancurkan ekonomi keluarga, memicu konflik rumah tangga, hingga merusak hubungan sosial.


Karena itu, pemerintah tidak hanya fokus memblokir situs judi online, tetapi juga mengedepankan edukasi dan penguatan literasi digital agar kesadaran masyarakat tumbuh dari lingkungan keluarga dan komunitas.


“Kita tidak hanya melakukan penutupan akses atau takedown. Yang paling penting adalah membangun kesadaran masyarakat melalui edukasi dan pemahaman tentang bahaya judi online,” tutup Meutya.

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit