Trump Tarik Pasukan AS dari Eropa, NATO Pastikan Pertahanan Tetap Solid
AS - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump bersiap memberi tahu para sekutu di NATO terkait rencana pengurangan jumlah pasukan AS di Eropa. Kebijakan ini menjadi tindak lanjut dari ancaman Trump untuk memangkas kekuatan militer AS di Jerman setelah memanasnya hubungan dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz awal Mei lalu.
Dalam skema pertahanan yang dikenal sebagai NATO Force Model, negara-negara anggota menyiapkan pasukan yang dapat dikerahkan sewaktu-waktu saat terjadi konflik besar atau ancaman terhadap anggota aliansi. Namun, Pentagon disebut telah memutuskan untuk mengurangi kontribusi pasukan AS dalam struktur tersebut.
Sumber di Pentagon kepada Reuters, Selasa (19/5/2026), menyebutkan bahwa rencana pengurangan pasukan itu akan diumumkan dalam pertemuan para pejabat kebijakan pertahanan NATO di Brussels, Belgia, Jumat (22/5/2026).
Sebelumnya, Trump memang berulang kali menegaskan bahwa negara-negara Eropa harus mengambil tanggung jawab lebih besar terhadap keamanan kawasan mereka sendiri, tanpa terlalu bergantung pada AS.
Meski demikian, Kepala Kebijakan Pentagon Elbridge Colby memastikan AS tetap berkomitmen memberikan perlindungan nuklir bagi negara-negara anggota NATO. Menurutnya, dukungan strategis Washington tidak akan berubah meski peran militer konvensional Eropa diperbesar.
Di sisi lain, Panglima Tertinggi Pasukan NATO Jenderal Alexus Grynkewich menegaskan bahwa pengurangan pasukan AS tidak akan melemahkan kesiapan aliansi.
“Saya tegaskan, keputusan ini tidak mempengaruhi pelaksanaan rencana perlindungan regional kami,” ujar Grynkewich dalam konferensi pers di Brussels.
Ia menambahkan, negara-negara anggota NATO terus meningkatkan kemampuan militernya sebagai bagian dari penguatan pertahanan kolektif. “Kami tidak terganggu dengan keputusan AS,” katanya.
Meski para anggota NATO di Eropa berusaha menunjukkan kesiapan menghadapi perubahan strategi Washington, langkah Trump tetap memicu kekhawatiran terkait komitmen jangka panjang AS terhadap aliansi tersebut.
Hubungan AS dan NATO juga disebut makin renggang setelah sejumlah negara sekutu menolak memberikan dukungan penuh terhadap operasi militer AS di Iran. Ketegangan transatlantik semakin meningkat setelah muncul ambisi Trump untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark.
Selain itu, hubungan Washington-Berlin turut memanas akibat perseteruan Trump dengan Kanselir Merz. Negara-negara Eropa kini mempercepat pembangunan kekuatan pertahanan mereka, meski proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu panjang.
TangselCity | 2 hari yang lalu
TangselCity | 1 hari yang lalu
TangselCity | 16 jam yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu
Pos Tangerang | 2 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
TangselCity | 2 hari yang lalu


