TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

DEN: Fundamental Tetap Kokoh, Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Jauh dari Ancaman Krisis

Reporter & Editor : AY
Rabu, 10 Juni 2026 | 08:31 WIB
Ketua DEN Luhut Panjaitan saat melakukan konferensi pers. Foto : Ist
Ketua DEN Luhut Panjaitan saat melakukan konferensi pers. Foto : Ist

JAKARTA — Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam jalur yang kuat meskipun dunia tengah menghadapi ketidakpastian akibat gejolak geopolitik global. Karena itu, Indonesia dinilai masih jauh dari situasi krisis ekonomi.


Anggota DEN, Mochammad Firman Hidayat, menyampaikan bahwa penilaian tersebut didasarkan pada sejumlah indikator fundamental makroekonomi yang hingga kini tetap menunjukkan kondisi sehat dan stabil.


Pandangan tersebut juga telah disampaikan DEN dalam pertemuan bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (9/6/2026).


“Fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi sangat baik, bahkan jauh lebih kuat dibandingkan situasi saat krisis 1998. Berbagai indikator makro menunjukkan perekonomian nasional tetap solid dan tidak berada dalam jalur menuju krisis,” ujar Firman.


Firman menjelaskan, pertumbuhan ekonomi nasional masih terjaga di level tinggi dengan capaian 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan I 2026.


Di sisi lain, tingkat inflasi juga dinilai terkendali. Hingga Mei 2026, inflasi tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan, yang mencerminkan stabilitas daya beli masyarakat dan kondisi harga yang relatif terjaga.


Tak hanya indikator makro, DEN juga menyoroti kesehatan sektor korporasi sebagai faktor penting yang memperkuat ketahanan ekonomi nasional.


Menurut Firman, kondisi tersebut tercermin dari semakin rendahnya eksposur utang perusahaan dalam denominasi dolar AS dibandingkan masa krisis 1998.


Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Bank Indonesia, posisi utang luar negeri swasta pada triwulan I 2026 tercatat sebesar USD 191,4 miliar, turun 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Penurunan tersebut menunjukkan perusahaan-perusahaan domestik dinilai semakin siap dalam mengelola risiko eksternal, terutama yang berasal dari fluktuasi nilai tukar dan dinamika ekonomi global.


“Di tengah ketidakpastian global, sektor korporasi seharusnya sudah memiliki kemampuan mitigasi yang lebih baik,” kata Firman.


Meski demikian, DEN mengingatkan pemerintah dan pelaku usaha agar tetap waspada terhadap perkembangan global yang masih berpotensi menimbulkan tekanan ekonomi.


Salah satu risiko utama yang perlu diantisipasi pada semester kedua tahun ini adalah potensi kenaikan harga energi dunia yang dapat mendorong meningkatnya biaya produksi dan distribusi.


Namun, Firman optimistis pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.


“Yang juga penting adalah menjaga dan memperkuat kepercayaan (confidence) di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.
 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit