TangselCity

Pos Tangerang

Pos Banten

Politik

Olahraga

Nasional

Pendidikan

Ekonomi Bisnis

Haji 2026

Galeri

Internasional

Otomotif

Selebritis

Lifestyle

Opini

Hukum

Advertorial

Kesehatan

Kriminal

Piala Dunia 2026

RELIJIUCITY

Indeks

Dewan Pers

Harga Sayuran Tidak Sesuai Biaya Produksi, Petani di Pasir Peuteuy Merugi

Terungkap dalam Talkshow bertajuk Agraria Bukan Maritim Café Lembur Kula

Oleh: Ari Supriadi
Editor: Ari Supriadi selected
Minggu, 14 Juni 2026 | 21:30 WIB
Panitia dan peserta talkshow bertajuk Agraria Bukan Maritim foto bersama di Café Lembur Kula, Pandeglang, Sabtu (13/6/2026).(Istimewa)
Panitia dan peserta talkshow bertajuk Agraria Bukan Maritim foto bersama di Café Lembur Kula, Pandeglang, Sabtu (13/6/2026).(Istimewa)

PANDEGLANG - Komunitas Petani Desa Pasirpeuteuy, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, mengaku resah dengan rendahnya harga hasil pertanian mereka, sementara biaya produksi semakin membengkak. Keresahan tersebut terungkap dalam Talkshow bertajuk Agraria Bukan Maritim, yang di gelar di Café Lembur Kula yang juga dijadikan Perpustakaan Jagakarsa, Sabtu (13/6/2026)  petang.  

 

Menurut salah seorang petani di kaki Gunung Karang, Ahmad Haetami, petani sempat membuang timun hasil panennya ke jalan raya, karena kecewa harganya hanya Rp 1.000 per kilogram. Harga tersebut jauh dari biaya produksi yang menjadi beban petani.

 

“Lahan pertanian di sini (Pasir Peuteuy, red), sangat subur, sangat cocok untuk ditanami sayur-mayur. Tapi masalahnya adalah harga jual atau pemasaran. Ini yang kami butuhkan dari pemerintah, selain dari penyuluh dan bantuan bibit,” ujar Ahmad Haetami  

 

Ketua Panitia Talkshow, Umam mengatakan, kegiatan tersebut merupakan komitmen kolektif untuk mengembalikan perhatian publik pada kedaulatan agraria, ruang hidup dan masa depan pangan, langsung dari akar rumput.

 

Talkshow ini bukan sekadar diskusi dan catatan di atas kertas, tapi pertemuan kebijakan birokrasi, edukasi literasi nyata dan pergerakan budaya petani Pandeglang, khususnya yang berada di kaki Gunung Karang,” jelasnya.

 

Sementara Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (PSDP dan Ekraf) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang, Mia Maulani Rizki yang turut hadir dalam talkshow tersebut mengatakan, diperlukan kolaborasi berbagai stakeholder dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani di kaki Gunung Karang.

 

“Bukan hanya lintas Organisasi Perangkat Daerah, tapi juga stakeholder lainnya. Makanya, untuk meningkatkan promosi dan akses pasar, kami mengajak para influencer di Pandeglang, untuk ikut berperan,” katanya.  

 

Talkshow yang dipandu host Nurul Badarzaman dan bertema “No Farmers, No Food, No Fature” atau Tidak ada Petani, Tidak ada Makanan, Tidak ada Masa Depan itu, menghadirkan para narasumber yang kompeten di bidangnya, seperti Misbah, Sociopreneur dan Jefri Pr, Influencer.

 

Sementara dari kalangan Gen Z, hadir Nayla, Duta Pariwisata Banten 2025. Sayangnya, dalam kegiatan yang digelar SIMULAKRA. Talkshow yang dikemas santai itu, juga menyuguhkan penampilan stand up comedy, Bayu Pekijing yang menyuguhkan materi bertautan dengan agraria yang dekat dengan kesehariannya di Kampung Pekijing, Taktakan, Kota Serang. Komedian ini, berhasil membuat suasana semakin cair. Dalam momen tersebut, diserahkan pula Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) Perpustakaan Jagakarsa dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI.(*) 

Komentar:
GROUP RAKYAT MERDEKA
RM ID
Banpos
Satelit